[Tanya Jawab] Seputar Pakta Integritas bersama Ustazah Luluk Farida

MuslimahNews.com, TANYA-JAWAB – Sebuah Pakta Integritas bermeterai dengan sanksi tegas bagi para mahasiswa baru (maba) yang dikeluarkan UI beberapa hari lalu dikritik banyak pihak, meskipun berikutnya UI merevisi sebutan pakta integritas diganti dengan nama surat pernyataan tanpa meterai.

Berikut tanya-jawab seputar Pakta Integritas tersebut bersama Ustazah Luluk Farida.

1. Bagaimana sikap mahasiswa?

Bagaimana sikap mahasiswa yang seharusnya dalam kondisi seperti ini? Faktanya banyak dari mereka yang karena repot dengan urusan administrasi, menandatangani begitu saja pakta integritas tersebut tanpa paham isi dan konsekuensinya.

Ditambah lagi ada sanksi-sanksi yang memberatkan mereka, menjadikan mahasiswa akhirnya manut-manut saja apa kata kampus. Suara kritis mahasiswa kian dibungkam.

Padahal selama ini saja, mahasiswa kita banyak yang apatis dan buta politik, tak peduli dengan kondisi sekitar. Jazakillah khairan atas jawabannya Ustazah. (Dina-Malang)

Pakta integritas semakin memperjelas tindakan represif kepada mahasiswa mohon arahannya Ustazah, apa yang seharusnya dilakukan oleh Mahasiswa Baru dalam menyikapi hal serupa apabila terjadi dikampusnya? (Ningsih-Jogja)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Sikap mahasiswa harusnya MENOLAK TEGAS pakta integritas ataupun surat pernyataan jika ada pasal-pasal yang mengancam hak dan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Mengkaji Islam kaffah dan amar makruf nahi mungkar terhadap kezaliman adalah kewajiban dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang tidak bisa dilarang oleh pakta integritas atau surat pernyataan berbentuk apa pun dari manusia.

Namun, sikap demikian agaknya jarang dimiliki mahasiswa saat ini yang mayoritas apatis-pragmatis. Padahal, seandainya mahasiswa serentak MENOLAK dan BERGERAK, maka apa pun kebijakan otoriter tidak akan berarti apa-apa.

1. Mahasiswa baru yang belum menandatangani harus menolak menandatangani.

2. Jika yang sudah menandatangani, maka tetaplah untuk mencari peluang/celah dari aturan tersebut untuk tetap ikut kegiatan organisasi keislaman yang memperjuangkan Islam kaffah.

Mengikuti kegiatan organisasi Islam kaffah di luar kampus akan menjadikan mahasiswa semakin memahami Islam Kaffah-Khilafah. Selain ini adalah kewajiban, Islam kaffah dan Khilafah adalah solusi problematik bangsa.

Dengan mengikuti organisasi ini, akan mendewasakan mahasiswa sehingga bisa mengoptimalkan perannya sebagai agent of change untuk menyuarakan solusi bangsa ini.

3. Berkumpul dengan kakak kelas dan teman seperjuangan untuk semakin menguatkan keimanan dan mengoptimalkan pembelajaran di kampus.[]

2. Cara menyadarkan dan menyelamatkan calon mahasiswa tersebut.

Dengan adanya Pakta integritas tersebut, benar-benar membendung potensi mahasiswa. Mahasiswa akan mandul dalam kehidupannya. Mereka hanya akan dijadikan boneka atau hanya sebagai obyek kapitalisme-sekularisme.

Hal ini akan melemahkan bangsa ini sendiri. Karena generasi intelektual, calon-calon pemimpin bangsa ini sudah dimatikan gerak pikirannya. Mereka digiring ke arah industrialisasi yang dijadikan sapi perah kaum kapitalis. Akhirnya bangsa ini akan dikuasai oleh asing-aseng.

Saat sekarang ini orang-orang yang berkuasa di dalam bangsa ini sudah menjadi pendukung kaum kapitalis, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil di segala bidang, salah satunya bidang pendidikan, acuannya sudah jelas menguntungkan kaum kapitalis.

Maka dari itu, yang ingin saya tanyakan kepada Ustazah, adalah bagaimana upaya kita menyadarkan dan menyelamatkan para generasi muda, terutama calon-calon mahasiswa tersebut? (Zakiyah-Pangandaran)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Mahasiswa adalah agen perubahan, pergerakannya menjadi martir kebangkitan Islam, jika saat ini mereka lemah, takut bergerak, karena mereka terkungkung pragmatisme hidup dan kuatnya ancaman/persekusi dari sistem sekuler-kapitalisme.

Baca juga:  Pakta Integritas Mahasiswa: Gagalnya Sistem Pendidikan Tinggi Berujung Otoriter

Untuk menyelamatkan mereka adalah dengan mengembalikan KUNCI KEBERANIAN yaitu Ideologi ISLAM, mereka harus didakwahi sehingga memiliki:

1. Keyakinan akidah yang kuat atas kemahakuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

2. Pemahaman atas ideologis Islam-Syariat Islam kaffah sehingga memahami kewajiban dan solusi problematik hidup agar pergerakan mahasiswa tidak pragmatis (cukup perubahan rezim saja) tetapi ideologis (perubahan sistem).

3. Menggambarkan bagaimana sistem pendidikan tinggi dalam Khilafah mengoptimalkan potensi dan perannya agar bisa dibandingkan pemberdayaan batil saat ini dengan pemberdayaan sahih dalam Khilafah.

4. Pengetahuan terkait aturan hukum negeri ini, sehingga bisa berani bersikap kritis. Misalnya terkait larangan ajaran Islam Khilafah, mahasiswa bisa kritis menyatakan tidak ada satu pun aturan hukum negeri ini yang menyatakan Khilafah ajaran terlarang. Yang terlarang adalah komunisme sebagaimana TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Misal terkait pakta Integritas, mahasiswa bisa kritis menolak karena pasalnya bertentangan dengan UUD pasal 28, jaminan berorganisasi dan berpendapat. Dengan pengetahuan hukum, mahasiswa kritis menyuarakan kebenaran tidak mudah terbungkam dengan ancaman persekusi, dan bisa berstrategi agar tidak terjerat hukum.[]

3. Bagaimana dengan kampus lainnya?

Ustazah apakah Pakta Integritas ini juga dilakukan oleh kampus-kampus yang lainnya di Indonesia? Jika semisal iya, apakah dari kalangan orang-orang/jajaran akademisi yang berada di kampus sendiri tidak ada yang melihat bahwa Pakta Integritas tersebut berpotensi membungkam aktivitas dakwah? (Ningsih-Yogyakarta)

Dengan membungkam mahasiswa dari Universitas Indonesia untuk tidak terlibat dalam politik negara dan mempelajari politik Islam dan Islam kaffah, apakah ke depannya akan ada kemungkinan mekanisme serupa yang diterapkan di perguruan tinggi negeri lain? Misalnya IPB. Bahwa pasti Islam tidak akan kehabisan pejuang itu benar. Semoga dengan mencuatnya hal ini akan menggugah kesadaran seluruh mahasiswa muslim di Indonesia untuk mempelajari Islam secara kaffah. Syukron. (Lailya-Ponorogo)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Untuk Ningsih: Sebenarnya bukan hanya UI yang mengeluarkan kebijakan semacam pakta integritas atau surat pernyataan, beberapa kampus di antaranya UNESA, ITS, UA, dan juga kampus lainnya, juga mengeluarkan surat pernyataan sikap untuk maba.

Secara umum di antara poinnya yaitu larangan mahasiswa tidak terlibat dalam radikalisme, organisasi di luar kampus, yang demikian dikarenakan kampus telah terkooptasi kebijakan kampus menari sesuai irama alunan gendang deradikalisasi yang diaruskan sistem sekuler kapitalisme.

Para akademisi yang pragmatis dan oportunis jabatan tidak banyak yang menyadari kebijakan ini membungkam dakwah, karena bagi kaum pragmatis oportunis dakwah justru dianggap mengancam kepentingannya.

Bagi mereka, mahasiswa cukup rajin belajar, IPK Baik, cepat lulus, dan bekerja, sehingga wajar jika mayoritas mereka justru setuju dengan surat pernyataan sikap, agar mahasiswa bisa fokus belajar.

Sangat memungkinkan (mekanisme serupa yang diterapkan di perguruan tinggi negeri lain). Hingga saat ini UI tidak mencabut, hanya mengganti istilah pakta integritas menjadi surat pernyataan sikap, malah menambahkan pasal radikalisme dan intoleransi yang hingga saat ini dua kata tersebut masih multitafsir bahkan cenderung menyerang Islam dan umat Islam.

Apa yang dilakukan UI bahkan dibenarkan oleh Kemendikbud, karena itu merupakan hak PTNBH. Jika ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan PTNBH lainnya juga melakukan hal yang sama.

Baca juga:  Editorial: Mahasiswa, Jangan Mau Jadi Pecundang!

Di Surabaya, misal Universitas Airlangga, UNESA, dan ITS, juga telah mengeluarkan kebijakan pernyataan sikap bagi maba, namun tidak seheboh UI karena istilahnya bukan pakta integritas.

Kejadian ini akan mengunggah dan menyadarkan mahasiswa jika mahasiswa memiliki kesadaran ideologis. Dengan kesadaran ideologi Islam mahasiswa akan merasa dirugikan dengan pasal-pasal yang mengandung maksud terselubung; misal larangan mengkaji Islam kaffah, larangan berdakwah kritis melawan kezaliman kapitalis-sekuler, dan larangan memperjuangkan Islam kaffah ‘Khilafah’, padahal itu semua adalah kewajiban dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dengan kesadaran ini, mahasiswa pasti bangkit untuk melawan kebijakan apa pun yang bertentangan dengan syariat. Tanpa kesadaran ideologi Islam, maka mahasiswa akan tetap santuy tidak bergolak, karena tidak menganggap masalah kebijakan pakta integritas ataupun surat pernyataan apa pun.[]

4. Cara Khilafah melakukan pembinaan politik.

Ustazah, bagaimana cara Khilafah dalam membina dan menjaga mahasiswa agar melakukan peran politik yang benar dan bagaimana bila ada penyimpangan mahasiswa dalam berpolitik? (Raras-Klaten)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Khilafah Islamiyah memahamkan terkait makna politik dalam sistem pendidikannya, sehingga mahasiswa memahami makna politik dengan benar. Makna politik benar akan mudah dipahami mahasiswa karena Khilafah sebagai contoh riil dalam penerapan semua kebijakan yang melayani dan memuliakan umat.

Mahasiswa sebagai seorang muslim sejak di pendidikan dasar hingga tinggi dipahamkan peran politik kewajiban amar makruf nahi mungkar dan hak politik memilih dan dipilih dalam kepemimpinan umat.

Khilafah justru mendorong adanya jemaah/gerakan entitas intelektual yang memiliki peranan penting sebagai kiyan fikr dalam mencerdaskan umat dan amar makruf nahi mungkar atas kepemimpinan Islam, dan mahasiswa diperkenankan untuk mengikutinya.

Sebagaimana seruan Allah subhanahu wa ta’ala, dalam Alquran, surah Ali Imran: 104, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Jika ada gerakan yang menyimpang, maka Khilafah akan melakukan pembinaan visi dan misi gerakan tersebut tidak boleh menyimpang dari ideologi Islam, karena hanya Islamlah sistem sahih yang akan memuliakan manusia baik muslim maupun nonmuslim.[]

5. Menanggapi muslim yang mendukung.

Bagaimana menanggapi orang muslim yang mendukung program UI dengan alasan pihak kampus lebih bisa dipercaya dari pada politisi (PK*)? (Lis-Sidoarjo)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Adanya pihak yang lebih mendukung sekularisasi dan kapitalisasi kampus dikarenakan prinsip hidup materialis yang terus ditanamkan, sehingga membentuk arus apatis dan pragmatisme masyarakat termasuk mahasiswa, yaitu ingin cepat lulus dan cepat kerja, materi tercukupi, individualis.

Karena itu, lebih baik percaya dan mengikuti kebijakan kampus karena akan membawa kesuksesan hidup (pragmatisme-materialistik).

Di sisi lain, adanya pemahaman politik yang salah yaitu menyempitkan hanya kekuasaan, ditambah lagi adanya penerapan politik zalim yang hanya memihak kepentingan elite, sementara rakyat jadi menderita.

Karenanya, predikat politisi dalam sistem kapitalisme-sekuler hanya untuk memenuhi kepentingan diri dan partainya, bukan untuk rakyat.

Untuk itu, penting untuk mencabut pragmatisme umat dengan menjelaskan bahaya kebijakan kampus yang sekuler-kapitalistik membajak potensi mahasiswa, sekaligus memahamkan bagaimana politik yang benar menurut Islam, sekaligus menggambarkan peradaban Khilafah dalam me-riayah umat.[]

Baca juga:  Intelektual Menyongsong Terbitnya Fajar Cahaya Khilafah

6. Posisi pegawai di negara Khilafah.

Apakah pegawai-pegawai yang ada saat ini masih dipekerjakan sebagai pegawai negara saat Khilafah tegak nanti? Dan guru-guru yang saat ini menentang Khilafah, apakah nanti juga akan dijadikan sebagai guru? (Ummu Uswatun Hasanah-Pangandaran)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Dalam kitab Muqaddimah ad-Dustur Pasal 98: Hak warga negara Khilafah untuk diangkat menjadi direktur (mudir) atau menjadi pegawai di dalam Jihaz Idari (Struktur Administrasi), baik laki-laki maupun wanita, muslim maupun kafir.

Pegawai Khilafah direkrut berdasarkan kapasitas, kepribadian, dan tanggung jawab amanah kerjanya sesuai kultur politik Khilafah yang me-riayah umat.

Maka, pegawai tersebut berdedikasi tinggi dalam menjalankan pekerjaannya melayani warga negara. Jika kelak para guru atau dosen yang saat ini menolak Khilafah, kemudian ketika Khilafah berdiri mereka tobat dan memenuhi syarat-syarat, maka mereka berhak menjadi pegawai Khilafah.[]

7. Dunia pendidikan terasa makin suram.

Membaca penjelasan di artikel, dunia pendidikan terasa menjadi suram. Seharusnya kampus menjadi dunia untuk mengembangkan kreativitas berpikir dan ruang gerak dalam berbagai komunitas, tapi justru dimatikan dengan peraturan-peraturan yang otoriter. Rasanya bukan organisasi yang mereka tuduhkan yang berbahaya, justru aturan kampus tersebut yang berbahaya untuk masa depan pemuda. Bagaimana tanggapan Ustazah? (Utina Mimi-Aceh)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Betul, saat ini yang mengancam negeri ini bukan kekritisan mahasiswa dan lembaga pergerakannya, justru kebijakan kampus yang telah terkooptasi kepentingan kapitalis.

Berbagai kebijakan kampus justru melanggengkan sistem sekuler kapitalisme yang melakukan neokolonialisme dan membuat rakyat terus menderita.

Di sisi lain, kebijakan kampus ini juga menghadang kebangkitan generasi muda Islam karena telah menjauhkan ideologi Islam dengan narasi radikalisme dan juga ancaman persekusi pada pergerakan mahasiswa yang dianggap bertentangan dengan rezim dan sistem kapitalisme-sekuler.[]

8. Sikap mahasiswa sekaligus pengemban dakwah.

Ustazah, lalu bagaimana sebagai mahasiswa yang juga pengemban dakwah menyikapi adanya pakta integritas yang juga menyinggung tentang “radikalisme”? (Wati-Klaten)

Jawaban dari Ustazah Luluk Farida:

Adanya pakta integritas ataupun surat pernyataan, menunjukkan besarnya potensi pergerakan mahasiswa sebagai martir kebangkitan umat. Karenanya, sistem kapitalisme-sekuler berusaha keras membajak dan mematikan potensi ini.

Kapitalisme membajak potensi agent of change dengan racun pragmatisme berstandar materi dengan kebijakan kurikulum maupun kapitalisasi pendidikan. Tidak cukup dengan itu, sistem kapitalisme-sekuler dengan prinsip demokratisnya berubah menjadi otoriter untuk mematikan pergerakan mahasiswa.

Karena itu, sebagai mahasiswa sekaligus pengemban dakwah, maka kita harus bertambah semangat dakwah. Dengan melihat peluang besar ini, yaitu besarnya potensi mahasiswa sebagai agent of change harus disatukan dengan kuncinya yaitu ideologi Islam.

Dengan penyatuan ini, kebangkitan pergerakan mahasiswa akan menjadi martir kebangkitan umat menuju tegaknya Islam kaffah dalam Khilafah.

Memang demikianlah karakter pemuda Islam sebagaimana wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam: berbuat baiklah pada kalangan muda, karena kalangan muda telah menolong dakwah ini, sementara kalangan tua mereka sibuk dengan urusannya.

Maka, jika kita menjumpai saat ini karakter mahasiswa lemah, apatis, takut bergerak, semua itu dikarenakan belum bersatunya ideologi Islam dalam diri mereka. Saatnya menyadarkan mahasiswa untuk menjadikan Islam Kaffah dan Khilafah sebagai visi perjuangannya.[MNews]

One thought on “[Tanya Jawab] Seputar Pakta Integritas bersama Ustazah Luluk Farida

  • 22 September 2020 pada 05:57
    Permalink

    Pakta integritas ini upaya membungkam hak individu (muslim), dan bukti upaya pembungkaman perjuangan Islam dan bukti diktatornya rezim

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *