[Fikrul Islam] Rezeki Semata-mata dari Sisi Allah

Rezeki semata-mata berasal dari sisi Allah, bukan dari yang lain. Meskipun demikian, Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berupaya melakukan berbagai macam pekerjaan setelah diberikan (oleh Allah) pada diri mereka kesanggupan untuk memilih dan melaksanakan cara/usaha yang biasanya mendatangkan rezeki. Merekalah yang harus mengusahakan segala bentuk cara/usaha yang dapat menghasilkan rezeki dengan ikhtiar mereka, tetapi bukan mereka yang mendatangkan rezeki.

Baca Selengkapnya

[Fikrul Islam] Makna Lailahaillallah (Bagian 2/2)

Makna dari syahadat pertama dalam Islam, bukanlah kesaksian atas keesaan Al-Khaliq semata, sebagaimana anggapan kebanyakan orang. Tetapi arti yang dimaksud dalam syahadat tersebut adalah adanya kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang memiliki sifat “wajibul wujud”, sehingga peribadahan dan takdis semata-mata hanya untuk-Nya.

Baca Selengkapnya

[Fikrul Islam] Makna Lailahaillallah (Bagian 1/2)

Fitrah manusia dan akal manusia mengharuskan adanya ibadah. Sedangkan akal memastikan bahwa yang berhak disembah, disyukuri, dan dipuji adalah Al-Khaliq, bukan selain-Nya (makhluk). Oleh karena itu kita menyaksikan bahwa orang-orang yang pasrah (menyerahkan diri) hanya kepada “wijdan” saja sebagai bentuk manifestasi takdisnya tanpa menggunakan akalnya, mereka terjerumus dalam kesesatan.

Baca Selengkapnya

[Fikrul Islam] Syakhshiyah Islamiyah

Islam membentuk syakhshiyah Islamiyah seseorang dengan akidah Islam. Dengan akidah itulah dibentuk aqliyah dan nafsiyah-nya. Jelaslah bahwa aqliyah Islamiyah adalah berpikir atas dasar Islam. Artinya, menjadikan Islam sebagai satu-satunya standar umum tentang berbagai pemikiran mengenai kehidupan. Adapun nafsiyah Islamiyah adalah menjadikan seluruh kecenderungannya atas dasar Islam.

Baca Selengkapnya

[Fikrul Islam] Syakhshiyah (Kepribadian Manusia)

Dari aqliyah dan nafsiyah, terbentuklah syakhshiyah (kepribadian manusia). Walaupun akal dan pemikiran ada secara fitri dan pasti keberadaannya pada setiap manusia, akan tetapi pembentukan aqliyah dan nafsiyah terjadi dari hasil usaha manusia sendiri. Sebab, yang menjelaskan makna suatu pemikiran sehingga menjadi mafahim adalah adanya satu atau lebih landasan (ideologi) yang menjadi tolok ukur untuk pengetahuan dan kenyataan ketika seseorang berpikir.

Baca Selengkapnya