Perlukah Pendidikan “Sexual Consent” untuk Mencegah dan Menghindari Kekerasan Seksual?

Oleh: Dr. Rohmah

MuslimahNews.com, FOKUS Sexual consent (persetujuan seksual) adalah persetujuan melakukan aktivitas seksual. Jika seseorang ingin melakukan aktivitas seksual dengan pasangannya, harus dengan persetujuan: orientasi seksualnya homoseksual atau heteroseksual; apakah dengan anal seks, oral seks, atau yang lain.

Juga harus memberitahukan penyakit yang dideritanya, misal HIV/AIDS, dsb.. Merupakan pilihan ingin menghendaki anak atau tidak, hingga pilihan jenis alat kontrasepsi. Semua berdasarkan kesepakatan pasangan itu. Jika aktivitas seksual tanpa persetujuan kedua belah pihak, maka dianggap pemerkosaan dan kekerasan.

Di Barat, kampanye sexual consent di perguruan tinggi sudah biasa. Banyak Universitas melembagakan kampanye tentang persetujuan seksual, meski banyak pula yang menolaknya.

Di sana, kampanye sexual consent dilaksanakan secara “kreatif” dengan slogan dan gambar yang menarik perhatian bahwa persetujuan pasangan dapat menjadi alat efektif meningkatkan kesadaran akan kekerasan seksual di kampus dan masalah terkait. (Wikipedia.org)

Beberapa hari lalu di Indonesia, disinyalir Universitas Indonesia mengampanyekan sexual consent.

Sejumlah pihak mengkritik wacana terkait salah satu materi yang diberikan dalam Program Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PPKBM) 2020. Salah satu poin dari materi yang diberikan secara daring bertema “Cegah Kekerasan Seksual” itu membahas tentang sexual consent. (Kompas.com)

Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), Kamarudin, membenarkan adanya pendekatan sexual consent dalam materi presentasi “Peduli, Hindari, dan Cegah Tindak Kekerasan Seksual” yang disampaikan Puska Gender UI kepada mahasiswa baru. Ia pun mengkritisi dan mendukung pihak Direktorat Kemahasiswaan untuk menariknya.

Namun, alih-alih dapat mencapai target peduli, mencegah, dan menghindari kekerasan seksual, pendidikan sexual consent justru menjadikan pergaulan bebas semakin merajalela.

Inilah kekerasan seksual yang sebenarnya. Pendidikan sexual consent memakai standar persetujuan antara kedua belah pihak, bukan standar halal-haram sesuai syariat Islam.

Islam tegas mengharamkan pendidikan sexual consent karena mengajarkan perilaku seksual berdasarkan persetujuan atau kesepakatan. Artinya, seluruh perilaku seksual bisa dilakukan dengan syarat disepakati kedua belah pihak dan tidak memperhatikan apakah yang disepakati itu halal atau haram.

Baca juga:  [News] Hukum Kebiri Kimia dan Buah Pahit Liberalisme

Sexual consent membolehkan adanya pergaulan bebas semacam homoseksual, lesbian, aktivitas seksual di luar nikah/zina, mengumbar aurat, pacaran, dan hal-hal yang mendekati perzinaan, dengan syarat dilakukan secara sukarela/suka sama suka (tidak ada paksaan).

Padahal, semua itu diharamkan syariat Islam. Rincian dan implementasinya bisa dibaca lebih lanjut dalam kitab Nizhom Ijtima’i fil Islam (Sistem/aturan pergaulan dalam Islam) karangan Syekh Taqiyuddin an Nabhani.

Dalil keharaman perzinaan dan hal-hal yang mendekati perzinaan terdapat dalam firman Allah QS Al-Isra ayat 32:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32).

Islam juga mengharamkan perilaku seksual tidak pada tempatnya seperti anal seks (seks melalui dubur), oral seks (seks melalui mulut), lesbian (hubungan seks perempuan dengan perempuan), atau homoseksual (hubungan seks laki-laki dengan laki-laki).

Ibn Abbas dalam tafsirnya menjelaskan keharaman homoseksual dan melepaskan nafsu tidak pada kemaluan wanita. Tafsir QS Al A’raf ayat 81:

{ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرجال } أدبار الرجال { شَهْوَةً } أشهى لكم { مِّن دُونِ النسآء } من فروج النساء { بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ } في الشرك معتدون الحلال إلى الحرام

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki (dubur laki-laki ) untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita (kemaluan wanita), malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas (dalam bersekongkol melampaui batas yang halal kepada yang haram.” (Ibn Abbas, Tanwir Miqbas min Tafsir Ibn Abbas, Tafsir QS al A’rof ayat 81).

Sebenarnya, jelas sekali larangan melepaskan nafsu tidak pada kemaluan wanita (homoseksual). Mendatangi lelaki (dubur laki-laki) untuk melepaskan nafsu (kepada mereka) adalah haram.

Baca juga:  RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS) Kembali Dibahas, Apa Bahaya Terbesarnya?

Qarinah atau indikator yang menunjukkan thalabu at tarki jaaziman (tuntutan meninggalkan secara pasti/haram) adalah dzam (celaan) pada pelakunya dengan menyebut pelakunya melampaui batas (قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ ) (Al-A’raf akhir ayat 81).

Bahkan, dalam surah Al-A’raf ayat 83 semakin ditegaskan haramnya, dengan qarinah didatangkan siksaan berupa hujan batu yang membinasakan mereka akibat berbuat dosa.

Sanksi dalam Islam

Dalam Islam sanksi bagi pezina yang belum menikah, maka wajib didera 100 kali cambukan dan boleh diasingkan selama setahun.

Firman Allah SWT:

الزّانِيَةُ وَالزّانى فَاجلِدوا كُلَّ وٰحِدٍ مِنهُما مِا۟ئَةَ جَلدَةٍ ۖ وَلا تَأخُذكُم بِهِما رَأفَةٌ فى دينِ اللَّهِ إِن كُنتُم تُؤمِنونَ بِاللَّهِ وَاليَومِ الءاخِرِ ۖ وَليَشهَد عَذابَهُما طائِفَةٌ مِنَ المُؤمِنينَ.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (TQS An Nur[24]: 2)

Adapun dalil tentang diasingkan selama setahun, berdasarkan hadis Rasulullah Saw., artinya, “Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw. menetapkan bagi orang yang berzina tetapi belum menikah diasingkan selama satu tahun, dan dikenai had kepadanya.” (Abdurrahman al Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, Bogor, Pustaka Tariqul Izzah, 2002, hlm. 30-32)

Sedangkan sanksi bagi pelaku homoseksual adalah dihukum mati. Demikian pula bagi pezina yang sudah menikah, maka harus dirajam hingga mati.

Rasulullah Saw. bersabda, jika seorang laki-laki berzina dengan perempuan, Nabi Saw. memerintahkan menjilidnya, kemudian ada kabar bahwa dia sudah menikah (muhshan), maka Nabi Saw. memerintahkan untuk merajamnya.

Adapun sanksi bagi yang memfasilitasi orang lain untuk berzina, dengan sarana apa pun dan dengan cara apa pun, dengan dirinya sendiri maupun orang lain, tetap akan dikenakan sanksi.

Baca juga:  [Editorial] Menakar Kebenaran dengan Tafsir (Kaum) Liberal

Dalam pandangan Islam, sanksinya adalah penjara 5 tahun dan dicambuk. Jika orang tersebut suami atau mahram, maka sanksi diperberat menjadi 10 tahun. (Abdurrahman al Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, Bogor, Pustaka Tariqul Izzah, 2002, hlm. 238)

Demikianlah. Islam dengan tegas mengharamkan sexual consent, perzinaan dan hal-hal yang mendekati zina, serta perilaku seksual yang menyimpang.

Islam juga mewajibkan sanksi keras bagi yang melanggarnya, sehingga menjadikan pelakunya jera dan mencegah bagi pelaku lainnya.

Tetap Waspada

Sekalipun pihak Direktorat Kemahasiswaan UI menarik materi tersebut, masyarakat harus tetap waspada karena kampanye tentang pergaulan bebas makin masif, tidak hanya melalui pendidikan sexual consent.

Pemerintah seharusnya melarang pendidikan sexual consent, perzinaan, dan mendekati zina dengan memasukkan aturan pergaulan sesuai dengan Islam dalam kurikulum untuk seluruh jenjang pendidikan, dari SD sampai Perguruan Tinggi.

Di samping itu, Pemerintah juga seharusnya mengontrol media agar tidak mempertontonkan pornografi-pornoaksi, diganti dengan media yang mendorong ketakwaan, bukan mendorong nafsu syahwat.

Pemerintah seharusnya juga mengeluarkan aturan pergaulan, haramnya zina dan mendekatinya, berikut sanksinya. Termasuk wajib memberi kemudahan menikah dan menutup perzinaan dan pintu kemaksiatan lainnya.

Dalam situasi penyebaran Covid-19 yang semakin tidak terkendali, jangan sampai ditambah kemaksiatan dengan semakin menyebarnya virus liberalisme karena hal ini akan mengundang malapetaka yang lebih besar.

Adanya malapetaka bertubi-tubi seharusnya membuat kita “tobat nasional”, memohon ampun atas dosa-dosa, mencampakkan liberalisme-kapitalisme, serta menerapkan syariat Islam secara kaffah agar segera terbebas dari virus corona, virus liberal, depresi sosial, dan malapetaka yang lain.

Semoga negeri ini selamat, sejahtera, bahagia dunia-akhirat. Ingat sabda Rasulullah Saw., “Idza dhahara azzina wa arriba fi qoryatin, faqad ahalluu bi anfusihim adzabAllahi. [Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalakan azab Allah atas diri mereka sendiri.]” (HR al Hakim, al Baihaqi dan athabrani). [MNews/Gz]

4 thoughts on “Perlukah Pendidikan “Sexual Consent” untuk Mencegah dan Menghindari Kekerasan Seksual?

  • 27 September 2020 pada 20:12
    Permalink

    MasyaAllah… Allahuakbar..

    Balas
  • 27 September 2020 pada 19:57
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 27 September 2020 pada 18:12
    Permalink

    Astaghfirulloh,semakin terlihat dengan jelas kerusakan dari sistem yg mengusung kebebasan,begitu mengerikan,mau sampai kapan sistem ini dipakai dan mau dibawa kemana para generasi muda kita bila sistem ini tetap digunakan,sadarlah dan berubahlah,kembalilah kepada aturan Alloh dengan Al-Qur’an dan as sunah tegakkan khilafah segera dibumi yg sedang sakit iji

    Balas
  • 27 September 2020 pada 16:58
    Permalink

    Jika Islam tidak diterapkan dalam.kehidupan maka manusia membuat sendiri menurut hawa nafsunya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *