Kontroversial, Sinta Nuriyah menyatakan Jilbab tidak Wajib. Pakar Politik Asma Amnina: Corong Liberalisasi Islam

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib memakai jilbab. Sinta mengklaim masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Dalam perspektif Sinta yang disampaikannya di saluran YouTube Deddy Corbuzier pada Rabu (15/1/2020) lalu, hijab berbeda pengertiannya dengan jilbab.  “Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup,” katanya.

Bagi Sinta, tidak wajibnya muslimah untuk berjilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Alquran. Sinta menyebutnya dengan “jika memaknai (Alquran) dengan tepat”.

Enggak juga [muslimah harus berjilbab], kalau kita mengartikan ayat dalam Alquran itu secara benar,” kata Sinta.

Bagi pakar politik Islam, Ustazah Asma Amnina, pernyataan Sinta Nuriyah tentang jilbab tidak wajib bagi perempuan muslim tersebut sebenarnya tidak menggagetkan.

“Hal ini justru makin mengukuhkan bahwa beliau itu adalah corong bagi liberalisasi Islam,” ujar Ustazah Asma pada MNews, 19/1/2020.

Bukan kali ini Sinta Nuriyah mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ustazah Asma membeberkan bahwa sebelumnya, melalui Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) yang dia (Sinta Nuriyah, red.) bentuk pada 1997, Sinta menggugat kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani dengan perspektif kesetaraan gender.

Baca juga:  'Deliberalisasi' Islam (Kritik atas Liberalisasi Islam)

Hasilnya ditulis dalam bahasa Arab dengan judul Syarh wa Ta’liq ‘ala Syarh ‘Uqud al-Lujjayn fi Bayani Huquq az-Zawjayn (2000). Buku itu lalu diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah Kitab Uqud Al-Lujjayn (2001).

Dalam sistem demokrasi sekuler yang liberal, lanjut Ustazah Asma, kelancangan terhadap syariat Islam yang qoth’i (pasti) dalilnya tentang kewajiban jilbab dan Khimar justru dibiarkan bahkan dilindungi.

“Maka sudah saatnya kita bisa butuh pelindung bagi Agama Islam dan umatnya dari rongrongan para pembenci Islam dan Kaum muslimin. Yakni Khilafah Islam,” pungkasnya.

Kewajiban Jilbab ada Dalam Alquran

Mubaligah Dedeh Wahidah Achmad, mengatakan bahwa pernyataan Sinta tersebut bukan semata ujaran tanpa makna yang menyertainya. Menurutnya, paling tidak ada tiga makna mengapa pernyataan itu terlontar.

Pertama, kedustaan nyata mengatakan bahwa kewajiban jilbab tidak tertulis di dalam Alquran. Padahal istilah “jilbab” terdapat dalam Alquran, sekalipun dalam bentuk pluralnya jilbab, yaitu “jalaabiib”.

Kedua, mencerminkan sikap lancang terhadap ulama terdahulu, di mana para ulama salaf tidak ada beda pendapat terkait kewajiban menutup aurat dengan mengenakan jilbab. Dan ketiga, pernyataan tersebut merupakan pendapat menyesatkan terkait metode menafsirkan Alquran.

Baca juga:  Mempermainkan Agama

Karenanya, Ustazah Dedeh menyampaikan, untuk menafsirkan ayat-ayat Alquran tidak boleh sembarangan dan diperlukan kemampuan khusus yang hanya dimiliki ulama berkompeten di bidang tafsir dan mengimbau kaum muslim untuk waspada.

“Salah satu upaya menjauhkan umat dari syariat dimulai dengan mengotak-atik nas-nas syariat dan ditafsirkan dengan metode salah, tidak mengikuti kaidah yang sudah disepakati para ulama salaf,” jelasnya. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *