Jurus Rezim Menebar Virus Global Bernama “Islamofobia”

Mereka pikir, roda sejarah bisa mereka dikte sesuai keinginan. Padahal mereka takkan pernah mampu melawan benih-benih kehancuran yang melekat pada ideologinya sendiri dan kini kian dirasakan kerusakannya oleh setiap orang yang berkesadaran.


MuslimahNews, EDITORIAL — Di tengah penolakan atas gagasan dan realitas praktik islamofobia, kasus-kasus yang menunjukkan adanya fakta penyakit sosial ini justru terus bermunculan. Tak hanya terjadi di level individu atau kelompok, melainkan sudah sampai pada level negara.

Adalah Pew Research Center, sebuah lembaga penelitian masalah-masalah keagamaan dan kehidupan sosial yang bermarkas di Washington DC Amerika Serikat, beberapa waktu lalu kembali merilis hasil temuannya. Kali ini riset dilakukan terkait permusuhan di lingkungan sosial yang melibatkan agama, termasuk kekerasan dan pelecehan oleh perorangan, organisasi atau kelompok, bahkan oleh negara yang terjadi antara tahun 2007 hingga 2017.

Hasilnya, selama dekade ini, kasus-kasus pelecehan berdasar agama, bahkan pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah melalui undang-undang dan kebijakan, serta tindakan pejabat negara yang membatasi keyakinan dan praktik keagamaan, ternyata jumlahnya secara global nampak meningkat tajam. Ironisnya, kasus-kasus ini tidak hanya ditemukan di bawah rezim yang dikenal otoriter, tetapi juga di negara-negara demokrasi semacam Eropa dan Amerika.

Penelitian ini juga menemukan, bahwa di tahun 2017, sebanyak 52 rezim pemerintah telah memberlakukan batasan dalam level yang tinggi terhadap hal yang terkait agama. Peningkatan paling signifikan justru terjadi di Eropa, di mana 20 negara membatasi pakaian yang berhubungan dengan agama, termasuk burqa dan cadar yang dikenakan oleh beberapa perempuan Muslim.  Padahal di tahun 2007, kasus semacam ini hanya terjadi di lima negara.

Di luar soal pakaian, menara mesjid pun jadi sasaran. Di Swiss, negara yang sering menjadi tempat menyuarakan perdamaian dunia itu, para warganya yang memiliki hak suara untuk berpolitik secara nasional justru mendukung larangan pembangunan menara-menara baru. Sementara di Jerman, Pew juga melaporkan, ribuan pengungsi dipaksa pindah agama menjadi Kristen. Jika menolak, kemungkinan akan dideportasi.

Semua fenomena ini sesungguhnya sedang menunjukkan satu hal. Islamofobia memang sedang merebak akut menjangkiti masyarakat global. Penyakit yang oleh Runnimede Trust, seorang berkebangsaan Inggris didefinisikan sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan Muslim”. Hal ini memang muncul sejalan dengan geliat kebangkitan Islam pasca runtuhnya kekuatan ideologi sosialisme Sovyet di awal abad 20an yang mengiringi perlawanan terhadap hegemoni kapitalisme global.

Islamofobia yang kembali merebak pasca peristiwa buatan AS yang dikenal dengan peristiwa 11 September 2001 tersebut, juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan politik. Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.

Di beberapa negara, islamofobia bahkan muncul dalam bentuk pelecehan, kekerasan verbal, serangan fisik hingga pembunuhan dan genosida. Inilah yang terjadi atas entitas Rohingya di Myanmar, Uyghur di Turkistan Timur, dan kasus serangan brutal bersenjata atas jamaah mesjid di Selandia Baru, atau kasus-kasus kekerasan yang sering terjadi di India, daerah Afrika dan lain-lain.

Lantas, Bagaimana dengan Indonesia?

Meski negeri ini mayoritas penduduknya Muslim, namun nampaknya gejala ketakutan akan bangkitnya kekuatan Islam, terutama Islam politik pun sudah menjalar di tengah masyarakat terutama di level rezim sekuler yang sedang berkuasa. Terbukti, pelecehan bahkan tekanan terhadap Islam pun kerap terjadi. Baik atas simbol-simbol, ajaran-ajaran islam maupun para ulama dan kelompok dakwah yang konsisten menyuarakan Islam kaffah.

Ide Khilafah, jihad, cadar, jenggot, baju cingkrang, istilah hijrah, bahkan bendera tauhid distigma sebagai sesuatu yang harus diwaspadai. Aktivitas-aktivitas keagamaan, seperti rohis, pengajian dengan metode halqah dan usrah terus diwanti-wanti dan diawasi. Bahkan beberapa ustaz dan organisasi dakwah seperti HTI dan FPI kena persekusi dan kriminalisasi.

Hari ini, tekanan itu bahkan makin masif dan nampak kian terstruktur. Statement-statement beberapa pejabat penting di semua lini dan institusi pun terus diaruskan. Seolah rezim penguasa sedang menabuh genderang perang terhadap apa yang mereka sebut sebagai ancaman radikalisme Islam. Fakta ini nyaris sejalan dengan proyek perang global melawan radikalisme yang sedang dijalankan oleh Amerika dan negara sekutunya, melanjutkan apa yang disebut perang global melawan terorisme yang sejatinya perang melawan kebangkitan islam politik atau khilafah pada skala global.

Sebut saja Wiranto dan Moeldoko yang terus mewanti-wanti para mantan HTI agar jangan berani-berani mendakwahkan Khilafah. Bahkan berbagai narasi dibuat sedemikian rupa, agar masyarakat menjauh bahkan takut berbicara penegakkan syariat Islam, apalagi bicara soal Khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam serta menjauh dari para pengembannya.

Tudingan anti pancasila atau anti NKRI cukup menjadi jurus ampuh untuk melegitimasi setiap upaya membungkam pergerakan politik yang mengarah pada kebangkitan Islam, sekaligus mengalienasi dakwah dari umat. Di saat yang sama narasi moderasi Islam, proyek-proyek deradikalisasi terus diaruskan dalam berbagai program yang melibatkan thinktank dari kalangan liberal, yang tentu membutuhkan biaya yang sangat besar.

Betapa tidak? Proyek ini harus menyasar semua lini, karena Islam politik diibaratkan sebagai bahaya laten yang dianggap akan mengancam keutuhan NKRI, mengancam pancasila dan bhineka tunggal ika. Paham dan gerakan ini bahkan diopinikan lebih berbahaya dari ideologi PKI dan paham sipilis yang jelas-jelas telah menumbuhkembangkan budaya-budaya perusak generasi.

Kalangan grassroot disasar lewat mesjid-mesjid, majelis-majelis ta’lim serta ormas-ormas Islam. Merekapun terpecah belah sebagai hasil strategi belah bambu yang dijalankan rezim penguasa. Sementara dipihak lain, kalangan menengah dan intelektual disasar melalui lembaga pendidikan, mulai level dasar dan menengah, hingga perguruan tinggi.

Isu deradikalisasi dan moderasi Islam masuk dalam kurikulum pengajaran di sekolah dasar dan menengah. Sementara di perguruan tinggi, narasi radikalisme Islam terus digembar-gemborkan hingga institusi ini nyaris kehilangan daya kritis dan vitalitasnya sebagai motor perubahan. Penyakit islamofobia ini pun sudah sampai pada level akut manakala Kemenristekdikti mengeluarkan statement tentang rencananya memantau nomor telpon dan medsos para dosen dan Mahasiswa.

Bahkan para ASN sudah masuk dalam level terancam jika mereka terpapar paham-paham yang mereka sebut intoleran dan radikal. Beberapa sudah menjadi korban. Dosen bercadar, anggota dan simpatisan HTI, serta mereka yang berani vokal mengkritisi kebijakan rezim mengalami tekanan-tekanan, bahkan ada yang akhirnya dirumahkan. Semua ini membuktikan bahwa rezim sekuler betul-betul merasa terancam dengan adanya pergerakan politik Islam.

Tak dipungkiri bahwa geliat kebangkitan Islam memang makin menguat sejalan dengan merebaknya kerusakan akibat penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal. Sistem ini terbukti telah gagal membawa manusia ke dalam kemuliaan dan kesejahteraan hakiki. Bahkan sistem ini sukses menumbuh suburkan berbagai kerusakan di berbagai aspek kehidupan. Aspek moral, ekonomi, sosial budaya, bahkan politik dan hukum, semuanya nyaris mengalami krisis.

Di pihak lain, penerapan sistem batil ini, sukses membuka jalan penjajahan. Hingga negeri kaya raya seperti Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya menjadi lahan bancakan kaum kapitalis yang di-back up negara-negara adidaya. Sumber dayanya dikuras, manusianya dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah dan visi politik penguasanya disetir agar sesuai arahan penjajah. Menjadi negara pengekor yang tak punya kemandirian dengan kompensasi dukungan kekuasaan dan kesempatan menikmati sedikit bangkai dunia yang melenakan.

Inilah poin kritisnya. Islamofobia, sesungguhnya hanyalah alat Barat dan para anteknya melawan kebangkitan Islam. Agar umat dengan rela menjadi pagar betis rezim sekuler menghadapi arus pergerakan dakwah yang kian tak bisa dihadang.

Mereka pikir, roda sejarah bisa mereka dikte sesuai keinginan. Padahal mereka takkan pernah mampu melawan benih-benih kehancuran yang melekat pada ideologinya sendiri dan kini kian dirasakan kerusakannya oleh setiap orang yang berkesadaran. Sungguh kemenangan Islam adalah keniscayaan sejarah dan janji Allah. Dan setiap makar yang dibuat untuk melawannya akan kembali pada pembuatnya.

Allah berfirman;

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33)[] SNA

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: