Islamofobia, Gagal Move On di dalam Sistem Sekuler


Oleh: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia ForMind)


MuslimahNews.com, OPINI — Hari-hari ini, Inggris kembali dihebohkan dengan kasus dugaan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw.. Diberitakan bahwa seorang guru di Batley Grammar School, West Yorkshire, Inggris, diduga menampilkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya. Ia memakai kartun yang dipublikasikan majalah Charlie Hebdo.

Menyikapi hal tersebut, puluhan warga muslim termasuk para orang tua berunjuk rasa pada Kamis (25/3) dan Jumat (26/3) di depan sekolah. Mereka mendesak guru yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad itu dipecat (tempo.co, 28/3/2021).

Karikatur tersebut diperlihatkan pada Senin (22/3) lalu. Kepala Sekolah Gary Kibble mengatakan, sekolah dengan tegas meminta maaf karena menggunakan gambar yang digunakan dalam pelajaran agama sama sekali tidak pantas (republika.co.id, 26/3/2021).

Penghinaan Nabi Muhammad yang Terus Berulang

Kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. melalui karikatur ini tidaklah kali pertama. Tahun lalu, kasus serupa juga terjadi dan telah menyebabkan peristiwa pembunuhan terhadap seorang guru sejarah sekolah menengah di pinggiran Paris, Samuel Paty.

Ia dipenggal kepalanya pada Jumat, 16/10/2020 setelah ia memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya saat membahas tema kebebasan berpendapat (bbc.com, 31/10/2020). Presiden Prancis pun cenderung membela apa yang dilakukan oleh Paty dan tentunya sikap tersebut mendapat kecaman dari masyarakat muslim dunia.

Baca juga:  Macron Luncurkan Undang-Undang yang Menargetkan Muslim

Pada zaman Nabi Muhammad saw. masih hidup pun, kasus penghinaan terhadap beliau kerap dilakukan oleh orang-orang kafir.

Hal ini bisa kita lihat dalam Al-Qur’an di mana Nabi Muhammad saw. dituduh sebagai penyair (QS Al Anbiyaa’ [21]:5), dihina sebagai dukun (QS Al-Haaqqah [69]:42), dituduh sebagai tukang sihir (QS Adz Dzaariyaat [51]:52), dihina sebagai orang gila (QS Al Hijr [15]: 6).

Sekularisme Menumbuhsuburkan Islamofobia

Menurut Wikipedia, islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka, diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan muslim. Istilah ini sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001.

Pada tahun 1997, Runnymede Trust dari Inggris mendefinisikan islamofobia sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua muslim,” dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa (wikipedia.org).

Prancis adalah negara yang menjunjung tinggi sekularisme. Di Prancis, warga berhak beragama atau tidak beragama, dan kedua pilihan tersebut sama-sama dilindungi negara.

Pada 1905, dikeluarkan undang-undang yang melindungi sekularisme. Tujuannya untuk melindungi kebebasan warga untuk menjalankan agama, serta mencegah masuknya agama di institusi-institusi negara. Ini menunjukkan islamofobia, di mana mereka begitu takut jika agama masuk ke dalam institusi negara.

Baca juga:  Kata Mahfud MD Khilafah itu Merusak? Pakar: Opini tak Berhujah akibat Islamofobia

Undang-undang di Prancis tersebut menopang undang-undang lain yang melindungi hak untuk menistakan agama, yang dikeluarkan pada 1881. Berdasarkan peraturan perundang-undangan di Prancis, boleh menista agama, tetapi tak boleh menghina seseorang berdasarkan agama yang ia anut.

Inilah gambaran bagaimana sekularisme dengan dalih kebebasan berpendapat sejatinya adalah sebuah aturan yang sangat rentan menciptakan permusuhan dan chaos di tengah masyarakat luas.

Bagaimana Islam Meminimalisir Kasus Penghinaan terhadap Nabi?

Sekularisme adalah jiwa dari sistem kapitalisme yang terang-benderang menjauhkan manusia dari Sang Pencipta dan cenderung menciptakan pertikaian dan ketidakamanan nyawa manusia. Sekularisme tentu berbeda 180 derajat dengan Islam.

Sejatinya justru Islam yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Islam mengajak manusia kepada kebenaran hakiki tentang hakikat kehidupan tanpa unsur pemaksaan dan kekerasan.

Penerapan sistem Islam kafah dalam naungan Khilafah Islamiah hingga sekitar 13 abad menjadi bukti nyata bahwa Islam sangat menghargai nyawa manusia, termasuk nyawa warga nonmuslim.

Dalam sejarah kekuasaannya, pemerintahan Islam mendakwahi rakyatnya untuk masuk Islam namun dengan cara damai. Masyarakat diajak berpikir tentang hakikat kehidupan, tentang makna dan tujuan hidup, serta menjelaskan kehidupan akhirat yang kekal sesudah kematian.

Warga negara Khilafah Islamiah yang tidak bersedia memeluk agam Islam tetap diperlakukan secara manusiawi, namun tentunya untuk aturan administrasi akan berbeda dengan warga negara yang muslim.

Baca juga:  Kapitalisme Sistem Merusak, “Get Out” dari Indonesia

Misalkan adanya kewajiban membayar jizyah yaitu semacam pajak bagi warga negara nonmuslim dalam wilayah pemerintahan negara Khilafah Islamiah. Hal teknis semacam ini tentu masih wajar dilakukan oleh negara yang warganya beragam.

Dalam sistem Khilafah Islamiah, warga nonmuslim diperbolehkan untuk mengajarkan ajaran agama dan kepercayaan mereka hanya di lingkungan sesama mereka saja dan tidak diperbolehkan untuk mendakwahkan agama dan kepercayaan mereka secara terang-terangan kepada warga muslim atau menjelek-jelekkan agama dan Nabi dari penganut agama yang lain.

Hal ini dilakukan untuk menghindari pertikaian antarumat beragama. Dengan demikian, kasus semacam penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. ini juga dapat diminimalisir bahkan tidak akan terjadi. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan