[Keluarga] Menjadi Sosok Ibu Dambaan, Harus Bagaimana? (Bagian 1/2)

Sebagai din yang lengkap dan sempurna, Islam menempatkan sosok Ibu dalam posisi yang sangat tinggi dan tidak kalah penting dari peran kaum lelaki/ayah. Bahkan, fungsi ibu bukan hanya bersifat biologis—melahirkan anak semata—tetapi memiliki peran strategis dan politis sebagai “arsitek” generasi pemimpin masa depan.


Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA — “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan perjuangannya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat R.A. Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4/10/1902)

Cuplikan surat yang patut menjadi renungan kaum perempuan, para ibu, dan semua calon ibu. Dari cuplikan tersebut kita pahami bahwa yang menjadi tujuan bukanlah kesamaan fungsi dan derajat laki-laki dan perempuan, bahkan bukan menjadi pesaing satu dari yang lainnya sebagaimana propaganda pejuang kesetaraan gender negeri ini. Akan tetapi, agar kaum perempuan paham akan peran, tugas, dan kewajibannya, serta mampu menempatkan posisi dan fungsinya dengan baik sebagai pendidik yang pertama bagi anak.

Namun, kita tidak hendak membahas kesetaraan. Yang kita bahas saat ini adalah cara Islam menuntun kita agar menjadi perempuan yang lebih cakap melakukan kewajiban yang telah Allah tetapkan, yaitu menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama (madrasatul ula). Intinya adalah menjadi ibu yang mumpuni sehingga menjadi ibu dambaan. Seperti apa mewujudkannya?

Ibu yang Mumpuni akan Melahirkan Generasi Mumpuni

Bila membuka sejarah masa kegemilangan Islam, kita akan melihat sosok generasi mumpuni, yaitu generasi yang berkepribadian Islam yang andal, memiliki intelektualitas mujtahid, sekaligus mentalitas mujahid.

Dalam diri mereka tertanam keyakinan kuat bahwa mereka ada semata-mata untuk Islam. Dengan keyakinan ini, umat Islam kala itu mampu bangkit menjadi sebaik-baik umat yang memimpin umat lainnya dalam seluruh aspek kehidupan.

Umat Islam menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang bertahan hingga belasan abad. Generasi mumpuni ini tentu saja tidak dengan serta-merta lahir begitu saja, tetapi ada “arsiteknya”, sosok yang berperan penting. Siapakah ia? Ialah seorang ibu.

Ini menunjukkan keberhasilan para ibu terdahulu–pada masa kegemilangan Islam–dalam mendidik anak-anak mereka dalam melahirkan generasi rabani yang andal, mengerti tentang arti dan hakikat hidup, makna kebahagiaan hakiki, dan semangat pengabdian pada Islam.

Hal ini niscaya, mengingat dalam sosok para ibu terdahulu tertanam keyakinan kuat bahwa anak adalah amanah dari Allah dan akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak, yakni hari saat semua amal perbuatan manusia, baik dan buruk akan ditampakkan, dihisab, lalu diberi balasan setimpal.

Para ibu ini juga mengerti bahwa tidak ada satu pun yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki pada anak-anak mereka selain iman dan ketakwaan. Oleh karenanya, tidak ada harta yang mereka wariskan pada anak-anak mereka selain keimanan kuat, kecintaan akan ilmu dan amal saleh, serta semangat berkorban demi kemuliaan umat dan Islam semata.

Sampai-sampai, tidak jarang kita dapati kenyataan para ibu pada masa itu rela melepas anak-anak kesayangan mereka demi meraih kemuliaan yang mungkin diperoleh di medan-medan jihad fi sabilillah.

Dari ibu-ibu mumpuni ini–bi idznillah–akan lahir generasi yang mumpuni pula, yakni generasi yang menjadikan kecintaannya kepada Sang Maha Pencipta dan Rasul-Nya di atas kecintaannya yang lain; halal dan haram menjadi landasan perbuatannya; doa-doanya senantiasa mengiringi langkah-langkah ayah bundanya dan senantiasa Allah Swt. ijabah; serta generasi yang siap terjun dalam kancah kehidupan dengan membawa Islam dalam setiap langkahnya.

Pentingnya Mengoptimalkan Peran Ibu

Memang, kondisi kita saat ini sangat berbeda dengan ketika sistem Islam tegak. Saat ini, umat Islam berada dalam cengkeraman sistem sekuler kapitalistik yang justru makin jauh dari nilai-nilai Islam.

Tidak sedikit yang larut dalam gaya hidup serba bebas akibat proses sekularisasi pemikiran dan gaya hidup yang berjalan secara perlahan melalui berbagai cara dan bentuk. Umat sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini mereka terjebak dalam perangkap yang dipasang musuh-musuh Islam yang tidak menghendaki Islam tegak kembali di kancah politik dunia.

Lalu bagaimana dengan para ibunya? Tidak bisa kita mungkiri bahwa musuh-musuh Islam pun menyasar kaum ibu dengan ide feminisme dan faktanya tidak sedikit kaum perempuan yang terkecoh.

Peran ibu kini tidak lagi menjadi simbol kemuliaan seorang perempuan karena (dianggap) tidak berkontribusi secara materi terhadap keluarga. Bahkan, sebagian pihak menilai peran ibu rumah tangga adalah simbol keterbelakangan dan keterkungkungan. Demikianlah ketika mengukur segala sesuatu berdasarkan materi. Padahal, ibu adalah pencetak generasi unggul.

Oleh sebab itu, kondisi buruk ini tentu saja tidak boleh kita biarkan. Allah memerintahkan kita untuk tidak berdiam diri dan pasrah dengan keadaan. Kita harus mengubahnya karena Allah Swt. berfirman,

بِاَنْفُسِهِمْۗ مَا يُغَيِّرُوْا حَتّٰى بِقَوْمٍ مَا يُغَيِّرُ لَا اللّٰهَ اِنَّ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’du: 11)

Standar Islam

Bagaimanapun, masa depan generasi muslim pada masa mendatang adalah tanggung jawab kita semua, terlebih para ibu. Termasuk upaya mengembalikan kemuliaan umat dengan membangun kembali sosok generasi mumpuni sebagaimana generasi terdahulu.

Caranya tidak lain dengan membimbing dan membina para ibu umat saat ini agar memiliki kualitas sebagaimana para ibu terdahulu. Tentu saja dengan merujuk pada standar Islam.

Islam, sebagai din yang lengkap dan sempurna, telah menempatkan sosok Ibu dalam posisi yang sangat tinggi dan tidak kalah penting dari peran kaum lelaki/ayah. Bahkan, fungsi ibu bukan hanya bersifat biologis—hanya melahirkan anak semata—tetapi memiliki peran strategis dan politis sebagai “arsitek” generasi pemimpin masa depan.

Oleh karenanya, Islam juga menuntut agar kaum perempuan benar-benar menjalankan fungsi keibuan ini dengan sebaik-baiknya, di samping mereka pun sebagai bagian dari masyarakat. Ini karena tugas utama perempuan adalah sebagai ummun wa rabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumah suaminya). Di sinilah butuh sosok ibu yang mumpuni. [MNews/Rgl] Bersambung ke Bagian 2/2

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.