[Opini] Kubangan Akut Narkoba, Krisis Identitas Selebritas Muda

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kalangan selebritas muda tersangkut kubangan akut narkoba? Bukankah popularitas dan harta telah menjadi milik mereka? Apa lagi yang mereka cari?

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — Pekan lalu, tiga selebritas muda tertangkap pihak berwajib karena kasus narkoba. Mereka adalah JS, BJ, dan RN. Ini bukan kasus pertama, justru kasus berulang.

Sebelumnya, artis perempuan NR tertangkap bersama suaminya, AB. Bahkan, AB selama ini mengizinkan istrinya (NR) untuk mengonsumsi narkoba. NR sendiri mengaku bahwa ia mengonsumsi narkoba karena tekanan hidup, kendati secara ekonomi kehidupannya berlimpah kekayaan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kalangan selebritas muda ini tersangkut kubangan akut narkoba? Bukankah popularitas dan harta telah menjadi milik mereka? Apa lagi yang mereka cari?

Faktor Penyebab

Banyaknya figur publik yang tersangkut kasus penyalahgunaan narkoba tentu membuat masyarakat bertanya-tanya. Menjawab fenomena artis yang tertangkap karena menggunakan narkoba, dokter adiksi dan peneliti di Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience Jakarta, dr. Hari Nugroho, M.Sc., menjelaskan bahwa ada berbagai alasan di balik penggunaan narkoba, termasuk 3F (Fun, Forget, and Function). (Kompas 15/12/2021).

Fun untuk yang alasan sifatnya rekreasional. Forget untuk mengurangi atau menghilangkan rasa tidak enak atau nyeri fisik maupun psikis, seperti lagi banyak problem, cemas, depresi, atau ada nyeri fisik yang kronis karena penyakit tertentu. Function semisal supaya bisa fokus, kreatif, dan bisa bekerja.

Meski demikian, bagaimanapun, pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, para pekerja seni memiliki bermacam-macam alasan untuk menggunakan narkoba. Terlebih lagi dengan tidak adanya tawaran pekerjaan yang mungkin mendorong mereka untuk melupakan permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Keyakinan bahwa penggunaan narkoba bisa menyelesaikan masalah menjadi jargon yang ‘menjerumuskan’ sehingga berujung pada penyalahgunaan narkoba. Apalagi jika lingkungan sekitar pergaulannya juga banyak pengguna, akses terhadap narkoba jadi lebih mudah.

Baca juga:  Gurita Narkoba, Mengapa Sulit Ditumpas?

Tidak terkecuali keberadaan media sosial yang menjadi tempat memperoleh banyak informasi keliru mengenai penggunaan narkoba tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya. Jelas sekali, dalam hal ini tidak ada single factor, sering kali karena faktor yang kompleks.

Krisis Identitas, Standar Kebahagiaan Terhempas

Tentu gurita narkoba di kalangan selebritas ini sangat memprihatinkan. Mereka masih muda dan memiliki banyak penggemar. Andai mereka berpikir bahwa mereka mengalami tekanan hidup, tampaknya keberadaan penggemar tidak membuat mereka berpikir dua kali sebelum menggunakan narkoba.

Mereka terbukti tidak mampu menjaga image karena mereka sendiri ternyata tengah mengalami krisis identitas. Akibatnya, kebahagiaan mereka tergadai dan terhempas. Popularitas mereka belum cukup mengiringi jalan dalam rangka meraih standar kebahagiaan yang sejati.

Sesungguhnya, krisis identitas ini dapat teratasi ketika paham akan hakikat kehidupan. Dari mana berasal, untuk apa hidup di dunia, dan hendak ke mana setelah hidup ini berakhir? Inilah simpul dari segala simpul kehidupan. Ketika masalah melanda, ketiga simpul inilah yang semestinya menjadi jalan kembali untuk menemukan solusi hidup yang sejati.

Kehidupan manusia ada pada simpul kedua, yakni ‘untuk apa hidup di dunia?’. Simpul ini harus terjawab secara mustanir (cemerlang) dengan cara melakukan proses berpikir yang benar, mencari ma’lumat sabiqah (informasi terdahulu) yang benar, serta menjalani proses ihsanul amal (amal terbaik). Pada akhirnya akan menemukan Allah Swt. di sana, bahwa rida-Nya ternyata adalah standar kebahagiaan hakiki.

Dengan demikian, terikat secara kafah (keseluruhan) dengan aturan Allah adalah suatu kebutuhan mendasar bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Dengan rida-Nya sebagai standar kebahagiaan hakiki, hidup akan terarah, alih-alih salah arah. Insyaallah.

Gaung Moderasi Saat Tokoh Islam Jadi Idola

Sayang sekali, publik harus menyadari bahwa selebritas muda juga idola bagi kawula muda. Namun ironisnya, ketika selebritas mereka terganjal maksiat narkoba, tidak satu pun pihak mau memikirkan nasib penggemarnya. Haruskah para penggemar mengikuti langkah maksiat para idolanya? Atau haruskah mereka mencari idola lain?

Baca juga:  Si Kaya Tak Terjerat Hukum, Semua Perkara Aman jika Ada Uang?

Gurita narkoba artis semestinya menampar khalayak, betapa hinanya manusia yang bermaksiat kendati mereka artis populer. Terlebih, sungguh ironis, narasi radikal bergema justru ketika institusi-institusi pendidikan Islam mulai mengajak para peserta didik mengagumi dan mengidolakan tokoh-tokoh Islam.

Mengutip Berita Satu (16/11/2019), Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin pernah menyatakan bahwa doktrin radikalisme yang paling parah mulai dari anak-anak. Bukan hanya SD, tetapi sejak pendidikan anak usia dini (PAUD).

Menurut Wapres, sejak PAUD sudah ada gejala, seperti membawa poster-poster tokoh “radikal” atau ketika ada acara mereka membawa replika senjata layaknya tokoh pejuang. Hal ini, menurutnya, harus menjadi perhatian karena bisa membawa pengaruh-pengaruh radikalisme.

Wapres juga menegaskan, narasi yang terbangun semestinya adalah kerukunan, saling menghargai dan menghormati. Alasannya, narasi yang saling membenci ikut melahirkan paham radikalisme. Narasi-narasi yang terbangun, kata Wapres, baik muslim dan nonmuslim, haruslah kerukunan, bukan konflik atau berhadap-hadapan. Jangan bawa narasi-narasi konflik, katanya.

Pernyataan Wapres beberapa tahun lalu ini layak terkategori cacat logika. Terlebih ketika saat ini, narasi-narasi gamang berkedok toleransi semacam itu justru penguasa legalisasikan melalui arus deras moderasi beragama.

Padahal, jika bukan pada tokoh-tokoh Islam, apakah generasi muda muslim harus mengidolakan para artis yang sejatinya dunia mereka lekat dengan kubangan narkoba itu? Banggakah ketika sudah mengidolakan selebritas tanpa kita pedulikan keterikatannya pada Sang Khalik? Sementara, para tokoh Islam, kita sudah tahu rekam jejak mereka selama ini adalah untuk membela agama Allah. Apakah kita lantas tetap memaksakan diri untuk terjerumus meneladani kemaksiatan para selebritas itu?

Tidakkah kita ingat sabda Rasulullah saw. berikut ini? Dari Anas bin Malik ra. bahwa ada seorang lelaki mendatangi Nabi saw. lalu bertanya, “Wahai Rasulullah! Kapankah hari kiamat itu?” Rasulullah saw bersabda, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Orang itu menjawab, “Untuk menyambutnya, saya tidak menyiapkan salat yang banyak, tidak juga puasa yang banyak serta tidak sedekah yang banyak, akan tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi)

Baca juga:  [Editorial] Moderasi Islam Menyasar Milenial

Allah Swt. juga berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31)

Khatimah

Sebagai kaum muda, janganlah kita salah memilih jalan hidup. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., ia berkata, “Ada tujuh golongan yang pada hari kiamat kelak Allah Swt. akan memasukkan mereka ke dalam perlindungan-Nya, yakni pada hari di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya.

(1) Seorang Imam atau pemimpin yang adil; (2) Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah Swt.; (3) Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendiriaannya kemudian air matanya berlinang; (4) Seorang pemuda yang hatinya terikat kepada masjid; (5) Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah yang bertemu karena-Nya dan berpisah juga karena-Nya; (6) Seseorang yang dipanggil oleh seorang wanita cantik dan berkedudukan untuk memenuhi nafsunya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah Swt..’; (7) Dan orang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diperbuat tangan kanannya.(HR Bukhari-Muslim)

Dengan demikian, jangan sampai salah memilih idola. Bukankah idola itu bukti cinta? Di antara tanda cinta adalah mengikuti keinginan yang dicintainya karena sesungguhnya pencinta itu menaati yang ia cintai.

Semoga kita tidak salah dalam mencinta dan selalu mencintai orang saleh dan kesalehan sehingga kelak kita bersama orang-orang saleh di surga, insyaallah. Wallahualam. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.