[News] Imbauan Pemasangan Spanduk Selamat Natal dan Tahun Baru, Aktivis: Promosi Toleransi Agama yang Kebablasan

Muslimah News, NASIONAL — Merespons surat edaran Kemenag Sulsel yang mengimbau seluruh kantor untuk memasang spanduk Selamat Natal dan Tahun Baru, Ustaz Luthfi Hidayat, aktivis dari Tabayyun Center menyatakan, “Ini merupakan bentuk promosi toleransi agama yang kebablasan. Tidak ada hubungannya masalah toleransi dengan pemasangan spanduk Selamat Natal dan Tahun Baru, karena ini namanya mencampuradukkan antaragama,” ujarnya.

Hal ini ia ungkapkan dalam Kabar Petang “Moderasi Beragama dari Pluralisme hingga Natal Bersama” di YouTube Khilafah News, Jumat (17/12/2021).

Udang di Balik Batu

Menurutnya, ada hal yang luput dari benak orang-orang pada umumnya, “Orang Nasrani sendiri sebenarnya tidak pernah mendesak agar kaum muslim mengucapkan Selamat Natal kepada mereka,” tukasnya.

Ia pun menerka seolah ini seperti ada udang di balik batu. “Ini harus dipermasalahkan agar umat Islam dapat melihat jelas, apa masalahnya? Karena terkesan ada udang di balik batu,” kritiknya.

Ustaz Luthfi Hidayat mengatakan, apabila bicara persoalan keberagaman, umat Islam adalah umat yang paling menghargai keberagaman. Imbauan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru sebenarnya juga dalam rangka pengarusan agenda moderasi. Hal ini bukanlah bentuk menghargai keberagaman. Sejatinya, ia menegaskan, ini upaya mencampuradukkan keberagaman antaragama.

Baca juga:  Fenomena Riset Intoleran: Memata-matai dan Memvonis Umat Islam

“Saya yakin agama yang lain juga tidak mau dicampuradukkan dan menerima bahwa semua agama benar, serta mengadakan ritual-ritual bersama. Ini bukanlah wujud kerukunan antarumat beragama, tetapi mengobok-obok atau mencampuradukkan agama dan akidah. Ini bukan saja persoalan kaum muslim, tetapi juga persoalan agama-agama lain yang sebenarnya selama ini adem-ayem saja tanpa adanya proyek moderasi,” paparnya.

Berpijak pada Al-Qur’an dan Hadis

Ia menyatakan bahwa mengucapkan selamat pada perayaan agama lain bertentangan dengan Islam. “Bagi seorang muslim, segala tindak tanduknya harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah. Kalau kita berpijak pada Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah, imbauan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru ini adalah tindakan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah jelaskan tentang ibadurrahman, yakni bagaimana sifat daripada hamba Allah dalam Surat Al-furqan (25): 72,” terangnya.

Oleh karena itu, ia tegaskan bahwa dalam pandangan Islam, peringatan Natal adalah sebuah kebatilan atau kebohongan.

“Peringatan Natal itu adalah peringatan kelahiran atas Isa AS yang dijadikan sebagai Tuhan oleh yang mereka yakini sebagai trinitas. Ini merupakan sebuah kebohongan. Maka, sebagai ibadurrahman atau hamba Allah, siapa saja itu tidak layak untuk melakukan tindakan yang demikian karena tidak sesuai dengan pandangan Al-Qur’an,” urainya.

Baca juga:  Salah Kaprah Toleransi

Ia pun melanjutkan, Rasulullah bersabda dalam HR Muslim bahwa sungguh setiap kaum muslim sudah memiliki hari raya tersendiri, yaitu Iduladha dan Idulfitri.

Bahkan, disebut juga dalam hadis Rasulullah saw. dalam HR Bukhari No 7320. “Tindakan mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru ini bagaikan umat Islam yang mengikuti kalangan Yahudi dan Nasrani hingga masuk ke dalam sebuah lubang biawak,” sebutnya.

Menjelaskan Kebenaran

Persoalan toleransi kebablasan yang menjadi buah dari proyek moderasi ini menurutnya merupakan persoalan politik. “Motif politik di balik ini ialah mengungkapkan yang bohong, menzahirkan yang palsu, serta menyembunyikan yang hakikat,” terangnya.

“Apabila melihat motif politik, maka moderat adalah paham keagamaan yang sesuai dengan selera Barat. Di lain sisi, radikal yang dicitrakan negatif adalah paham keagamaan yang tidak sesuai dengan selera Barat,” lanjutnya.

ia menyebut ini adalah persoalan politik, karenanya ia berharap agar kaum muslim menyikapinya secara politik pula dan menjelaskan hakikat toleransi.

“Karena saat ini adalah zamannya perang pemikiran, maka umat Islam harus menjelaskan kebenaran dan menampakkan bahwa apa yang mereka ajarkan ini adalah kedustaan dan kebohongan. Mereka telah membungkus suatu kebatilan dengan suatu yang hak,” tegasnya.

Baca juga:  Kerukunan Beragama Tidak Berarti Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain

Ia menekankan, upaya mengklarifikasi umat yang terus-menerus akan menyentuh cara berpikir sehatnya dan perasaan Islam mereka. Umat pun akan mendapatkan informasi yang sahih bahwa toleransi kebablasan ini adalah upaya mencampuradukkan agama.

“Sehingga atas izin Allah umat akan menolak imbauan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru ini,” tutupnya. [MNews/Nvt]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *