[Nafsiyah] Pemimpin yang Kehilangan Rasa Takut

Penulis: Adi Victoria*

Muslimah News, NAFSIYAH — Menjadi penguasa atau pemimpin (penjaga) itu tidaklah mudah, apalagi menjadi pemimpin yang memimpin ratusan juta manusia, sungguh tidaklah mudah. Ini karena masing-masing dari yang dipimpin—yakni rakyat—tentu memiliki pemahaman dan perilaku yang berbeda antara satu sama lain.

Oleh karena amanah tersebut tidaklah mudah, maka seharusnya berpikir ribuan kali sebelum mengajukan diri untuk dipilih sebagai penguasa ataupun ketika ditunjuk untuk menjadi penguasa.

Fungsi dari pemimpin salah satunya adalah menjaga yang ia pimpin, termasuk dalam hal ini adalah menjaga nyawa dari rakyatnya. Seorang pemimpin mungkin bisa merenungi apa yang pernah diucapkan oleh Umar saat menjadi pemimpin bagi umat Islam.

Beliau pernah berkata, “Sekiranya ada seekor keledai jatuh tergelincir di suatu jalan di Irak, aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawabanku di hari akhir, ‘Kenapa aku tidak menyediakan jalan yang rata?’.” Kenapa Umar ra. mengatakan itu? Karena ia takut, dan sikap takut (al khauf) adalah esensi dari ketakwaan kita kepada Allah swt.

Benarlah yang pernah disampaikan oleh Ibnul Qayyim al-Jauzi yang hidup pada abad ke-14 M, “Laisal ‘ied liman labisal jadid, wa innamal ‘ied liman tha’atuhu wa taqwahu tazid. (Bukanlah berhari raya dengan pakaian baru, sesungguhnya berhari raya itu bagi orang yang ketaatan dan ketakwaannya bertambah).

Juga yang pernah disampaikan oleh generasi sebelumnya, yakni Umar bin Abdul Aziz saat anak-anak perempuannya datang kepada beliau dan meminta pakaian baru untuk menyambut Hari ‘Ied, sedangkan kita tahu bahwa Umar bin Abdul Aziz walaupun seorang khalifah, tetapi ia sangat sederhana. Beliau berkata, “Laisal ‘Ied, liman labisal Jadiid, Innamal ‘Ied liman khaafa yaumal wa’iid. (Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan.)”

Ya, al-khauf atau rasa takut itulah yang seharusnya makin kita miliki, khususnya oleh setiap orang yang merasa dirinya adalah pemimpin.

Ketika Umar bin al-Khaththab mendengar Utsman bin al-Ash membawa rombongan orang mengarungi lautan, beliau ra. berkomentar, “Ia membawa mereka, sementara antara mereka dengan laut itu hanya ada papan? Demi Allah, kalau sampai mereka celaka, aku akan tuntut diyat mereka dari Tsaqif.” Bagi Umar, tindakan Utsman ini bentuk kelalaian karena membawa rombongan naik perahu [kapal] yang tidak layak jalan.

Jangankan nyawa muslim yang oleh Nabi saw disebut lebih berharga ketimbang hancurnya Ka’bah, bahkan terhadap hewan yang terperosok pun Umar takut kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt..

Dari Salim bin Abdillah, bahwa Umar pernah memasukkan tangannya ke dubur unta untuk memeriksanya, seraya berkata, “Aku sungguh sangat takut kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang menimpamu?” (As-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 110). Wallahualam. [MNews] *Dengan sedikit penyesuaian bahasan.

Sumber: Telegram Pena Dakwah Adi Victoria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *