[Keluarga] Al-Qur’an sebagai Bekal Utama Literasi Anak

Permulaan membangun peradaban umat ini adalah dengan ilmu. Salah satu metode yang menjadi tuntunan dari Rabb kita untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai starting point mengajarkan anak tentang literasi.

Penulis: Ummu Naira Asfa

MuslimahNews.com, KELUARGA — Berbincang tentang tema literasi anak, selalu menarik dan tidak lekang oleh waktu. Ketika kita menyelami dunia literasi anak, akan kita dapati bahwa ternyata literasi anak itu mengajarkan kita hal-hal baru yang tidak membosankan. Kita akan bisa belajar cara berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif sehingga memiliki kecakapan hidup.

Jenis Literasi Anak

Literasi adalah istilah umum yang merujuk pada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. (wikipedia).

Literasi dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu literasi visual dan verbal. Literasi visual berwujud gambar-gambar, sedangkan literasi verbal berupa huruf-huruf tulisan.

Pesatnya perkembangan zaman membuat definisi literasi berkembang. Makna literasi yang pada awalnya hanya baca-tulis, berkembang menjadi lebih luas dan lebih kompleks. Makna literasi tidak melulu soal baca-tulis, tetapi literasi masih memiliki kaitan dengan kebahasaan. 

Menurut Resmini (file.upi.edu), terdapat tiga jenis literasi, yaitu visual, lisan, dan cetakan. Literasi visual merupakan kemampuan yang dimiliki individu mengenali penggunaan garis, bentuk, dan warna sehingga dapat menginterpretasikan tindakan, mengenali objek, dan memahami pesan lambang. Secara umum, literasi visual berfokus pada penafsiran gambaran visual seseorang yang juga terkait dengan kemampuan membaca dan kemampuan menulis (researchgate.net).

Baca juga:  Hukum Memisahkan Tempat Tidur Anak

Literasi visual memungkinkan anak yang baru masuk bangku sekolah untuk dapat menyusun gambaran visual sebuah cerita secara urut dan benar meskipun ia belum dapat membaca. Dalam implementasinya, literasi visual dapat dilakukan melalui beberapa aktivitas dengan menggunakan beragam jenis media.

Dua jenis media yang dapat digunakan untuk mengembangkan literasi visual, yaitu gambar dan film. Gambar-gambar yang diperuntukkan bagi anak usia dini harus bervariasi mencakup foto, buku bergambar, tentang aneka jenis makanan, bunga-bunga, dan lain-lain. Gambar harus menumbuhkan minat anak-anak, hindari gambar yang tidak menambah pengetahuan anak yang akan mengarahkan mereka untuk tidak berhenti memperhatikan gambar dengan mengatakan “lihat itu!” atau “apakah itu?” (Hymes via Resmini.file.upi.edu).

Adapun literasi lisan mencakup tentang cara berbicara dan mendengarkan sebagai bagian dari teknik berkomunikasi, seperti ungkapan, “Orang yang sukses bukan orang yang genius atau cerdas secara intelektual, tetapi orang yang sukses adalah orang yang pandai berkompromi (baca: berkomunikasi).”

Jadi, membiasakan anak mengenal literasi sejak dini sangat penting untuk kecakapan berkomunikasi mereka di usia dewasanya nanti.

Yang ketiga, literasi terhadap teks tertulis atau tercetak digambarkan sebagai aktivitas dan keterampilan yang berhubungan secara langsung dengan teks yang tercetak, baik melalui bentuk pembacaan maupun penulisan.

Baca juga:  Anak dan Idolanya

Kemampuan anak untuk membaca atau menulis sebenarnya hanya menjadi landasan bagi tujuan yang lebih luas, yakni membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dalam menyikapi setiap informasi yang diperoleh. Anak bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hoaks, mana yang penting dan mana yang tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Sebab, kekritisan anak sangat penting untuk kemajuan sebuah peradaban.

Tantangan Literasi Anak di Masa Kini

Tantangan literasi anak di era milenial saat ini adalah akrabnya anak-anak dengan gadget. Menurut penulis, gawai tidak sepenuhnya berpengaruh negatif kepada anak, asalkan penggunaannya dibatasi dan seperlunya. Pun, orang tua selektif memilihkan menu edukatif di dalamnya.

Masalahnya, banyak generasi dari berbagai usia, mulai dari tingkat pra sekolah sampai sekolah, sangat asyik dengan permainan yang ada dalam gawai. Hal ini kemudian ditambah dengan media sosial tempat mereka begitu aktif menggunakannya dalam berbagai hal apa pun tanpa melihat waktu dan tempat.

Sebagai orang tua, kita tetap memiliki peran utama mengarahkan anak. Media buku konvensional atau buku digital memiliki peran yang sama. Pilihan buku anak saat ini pun begitu beragam. Dari mulai cerita dongeng dari antah-berantah, sampai buku-buku edukatif yang dikemas menarik bagi anak.

Iqra’! Mulai dari Al-Qur’an

Islam telah lebih dulu menganjurkan dan memerintahkan kita untuk membaca. Bahkan, perintah membaca ini ada di dalam kalam Allah sebagai wahyu pertama yang diturunkan pada Rasulullah saw., yaitu terdapat dalam QS Al-Alaq: 1—5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Hal ini mengindikasikan bahwa permulaan membangun peradaban umat ini adalah dengan ilmu. Salah satu metode yang menjadi tuntunan dari Rabb kita untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca.

Baca juga:  Menumbuhkan Kepekaan Politis pada Anak

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai starting point mengajarkan anak tentang literasi. Al-Quran adalah bekal utama kita dan anak-anak kita dalam belajar dan berliterasi. Al-Qur’an adalah pintu gerbang awal memasukkan maklumat pendahulu (ma’lumat sabiqah) yang benar kepada anak-anak.

Dari Al-Qur’an, kita bisa menanamkan akidah yang lurus kepada anak, menyampaikan tentang syariat Islam, dan ilmu-ilmu teknis yang penting untuk kehidupan.

Dengan demikian, konsep literasi secara umum sudah lebih dulu dimiliki Islam, yaitu dari Al-Qur’anul Karim. Sejatinya, kita tidak perlu terpesona dengan beragam konsep literasi atau bahkan konsep hidup yang ditawarkan ideologi selain Islam.

Iqra’! Mari kita membaca Al-Qur’an dan belajar memahaminya dengan benar. Sesungguhnya, Allah Swt. hendak menyelamatkan manusia dari kegelapan (jahiliah) menuju cahaya (Islam) dengan Al-Qur’an. Wallahualam. [MNews/Has]

Tautan: https://telegra.ph/Keluarga-Al-Quran-sebagai-Bekal-Utama-Literasi-Anak-12-18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *