[Tarikh Khulafa] Pembaiatan Utsman bin Affan ra. sebagai Khalifah Ketiga Kaum Muslimin

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA — Ketika Umar bin Khaththab ra. tertikam, kaum muslimin memintanya untuk menunjuk penggantinya, tetapi Umar menolak. Setelah mereka terus mendesak dalam penentuan khalifah penggantinya, Umar pun berkata kepada mereka, “Jika aku mengangkat pengganti, maka sesungguhnya orang yang lebih baik dariku, yaitu Abu Bakar sudah melakukannya. Bila aku tidak mengangkat pengganti, maka sungguh orang yang lebih baik dariku, yaitu Rasulullah saw. sudah melakukannya.”

Umar bin Khaththab ra. lalu menyerahkan urusan kekhilafahan kepada enam sahabat pilihan, yaitu Ali bin Abi Thalib ra., Abdurrahman bin Auf ra., Sa’ad bin Abi Waqqash ra., Utsman bin Affan ra., Zubair bin Awwam ra., dan Thalhah bin Ubaidillah ra..

Pencalonan Khalifah

Kemudian Umar menunjuk Shuhaib bin Sinan ar-Rumi untuk mengimami masyarakat dan memimpin enam orang yang telah beliau calonkan itu hingga terpilih seorang khalifah dari mereka dalam jangka waktu tiga hari.

Imam ath-Thabari dalam Tarikh ath-Thabari menceritakan, Umar bin Khaththab ra. berkata kepada Shuhaib, “Jika lima orang telah bersepakat dan meridai seseorang, sementara yang menolak satu orang, maka penggallah orang yang menolak itu dengan pedang.”

Baca juga:  [Fikrul Islam] Pengumpulan dan Pelembagaan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Utsman bin Affan ra.

Usai pemakaman Umar bin Khaththab ra. dan orang-orang yang disebutkan Umar berkumpul, Abdurrahman bin Auf ra. berkata, ”Siapa di antara kalian yang bersedia mengundurkan diri dari urusan ini? Dan kita akan menyerahkan urusan ini kepadanya. Allah akan menjadi Pengawasnya dalam menentukan siapa yang lebih utama.”

Semuanya diam. Abdurrahman bin Auf ra. berkata lagi, “Aku mengundurkan diri.” Lalu beliau mulai meminta pendapat mereka satu persatu, menanyai mereka bahwa seandainya perkara itu diserahkan kepada masing-masing, siapa saja di antara mereka yang lebih berhak. Akhirnya, jawaban terbatas pada dua orang, yaitu Ali bin Abi Thalib ra. dan Utsman bin Affan ra..

Tidak Tidur hingga Dibaiat Seorang Khalifah

Setelah itu, Abdurrahman bin Auf ra. mulai menanyai kaum muslimin siapa di antara dua orang, yaitu Ali dan Utsman yang mereka kehendaki. Beliau menanyai laki-laki dan perempuan dalam rangka menggali pendapat masyarakat. Abdurrahman bin Auf ra. melakukannya siang hingga malam hari.

Berdasarkan peristiwa ini, para sahabat memahami bahwa kaum muslimin harus dipimpin oleh seorang kepala negara yang disebut dengan khalifah. Bisa saja ada proses penentuan calon khalifah sebelum terpilih satu orang untuk diangkat dan dibaiat oleh kaum muslimin.

Baca juga:  Na’ilah binti Al-Farafishah, Potret Wanita Salihah nan Setia, Istri Khalifah Utsman bin Affan

Imam Bukhari mengeluarkan riwayat dari jalur Miswar bin Makhramah yang berkata, “Abdurrahman mengetuk pintu rumahku pada tengah malam. Ia mengetuk pintu hingga aku terbangun. Ia berkata, ‘Aku melihat engkau tidur. Demi Allah, janganlah engkau habiskan tiga hari ini dengan banyak tidur. Panggilkan Zubair dan Sa’ad.’ Miswar pun memanggil keduanya. Lalu mereka bertiga bermusyawarah, Abdurrahman bin Auf berkata lagi kepada Miswar, ‘Panggilkan Ali!’

Miswar bin Makhramah lantas memanggil Ali bin Abi Thalib ra.. Abdurrahman bin Auf berbicara dengan Ali hingga larut malam. Tidak lama kemudian, Ali beranjak pergi. Abdurrahman lalu berkata lagi kepada Miswar, ‘Panggilkan Utsman!’

Abdurrahman bin Auf ra. dan Utsman bin Affan ra. lalu terlibat pembicaraan serius hingga azan Subuh berkumandang. Usai salat Subuh berjemaah, kaum Muhajirin, Anshar, dan para komandan militer berkumpul.”

Pembaiatan Utsman bin Affan ra.

Setelah berbicara dengan masing-masing, Ali dan Utsman pada waktu yang berbeda, Abdurrahman bin Auf ra. telah mengetahui bahwa khalifah yang akan dibaiat adalah Utsman bin Affan ra..

Ali bin Abi Thalib ra. berkata kepada Utsman, “Aku membaiatmu untuk mengikuti Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, serta jalan kedua khalifah sepeninggal beliau.” Orang-orang yang hadir dari kaum Muhajirin, Anshar, para komandan militer, serta seluruh kaum muslimin juga mengikuti membaiat Utsman bin Affan ra..

Baca juga:  [Fikrul Islam] Pengumpulan dan Pelembagaan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Utsman bin Affan ra.

Para sahabat berdesak-desakan untuk membaiat Utsman hingga setelah tengah hari menjelang salat Asar. Kemudian, Utsman memimpin salat Asar dalam kapasitasnya sebagai khalifah kaum muslimin. Pembaiatan ini terjadi tiga hari setelah wafatnya Umar bin Khaththab ra..

Baiat merupakan metode syar’i yang menunjukkan sahnya seseorang sebagai khalifah atau kepala negara, yakni seluruh kaum muslimin akan menaati kebijakannya selama berlandaskan pada Kitabullah dan Sunah Rasulullah saw..

Dari Nafi’, ia berkata, “Abdullah bin Umar telah berkata kepadaku,’Aku mendengar Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat kelak tanpa memiliki hujah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di pundaknya tidak terdapat baiat (kepada khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliah.’“‘ (HR Muslim) [MNews/Has]

Sumber: Prof. Dr. Ibrahim al-Quraibi. Tarikh Khulafa. Penerbit Qisthi Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *