[Nafsiyah] Kesadaran Berkorban dan Berjuang Itu “Mahal”

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Sering kali penulis temukan orang-orang yang diseru pada Islam tidak langsung menyadari dan menaatinya. Begitu pun, ketika diajak untuk mengkaji, menelaah, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam, mereka sampaikan beribu alasan. Mulai dari alasan tidak memiliki waktu luang, tidak mendapat izin suami atau orang tua, dan alasan pekerjaan.

Tidak sedikit pula yang beralasan karena sibuk mengurus rumah tangga serta sibuk melayani suami dan anak-anak di rumah. Beragam alasan menjadikannya belum bersegera memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim, menuntut ilmu agama, dan mendakwahkannya.

Padahal setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun Allah Swt. curahkan berbagai rezeki dan nikmat padanya. Tidak pernah Allah membiarkan hamba-Nya terus dalam kesedihan dan kesempitan hidup. Satu per satu Allah kabulkan permintaannya.

Namun, mengapa enggan untuk berkorban dan berjuang demi agama-Nya? Mengapa hanya mencukupkan diri dengan melakukan ibadah nafilah, salat lima waktu, dan bersedekah? Bahkan, jika diajak mengkaji Islam dan berdakwah rasanya sulit sekali.

Padahal Allah Swt. begitu terang mengabarkan pada umat-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Al ‘Imran: 104)

Baca juga:  Amar Makruf Nahi Mungkar Mencegah Azab Turun

Kesadaran bagi seorang muslim untuk berkorban dan berjuang demi Islam memanglah “mahal“. Atau apakah mereka sudah terpapar paham moderasi beragama? Akhirnya menganggap tidak penting mendalami agama, hidup semaunya bukan sesuai aturan-Nya, dan memisahkan agama dari kehidupan (sekuler), menyebabkannya terus berada dalam lingkaran kemaksiatan dan kekufuran.

Sesungguhnya, moderasi beragama bak racun yang mematikan akidah kaum muslimin. Hidup dan kesehariannya dipenuhi dengan perkara duniawi seolah-olah ia tidak akan mati dan menghadap Illahi untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia.

Allah Swt. berfirman, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid: 20)

Jika demikian, masihkah kita sulit berkorban dan berjuang untuk Islam? Sementara Allah telah mengabarkan bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Sedangkan akhirat, tempat yang akan kita tuju, merupakan kehidupan yang abadi selamanya. Di sana Allah sediakan tempat bernama surga dan neraka.

Baca juga:  Moderasi Islam Masif, Dakwah Islam Jangan Pasif

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang mudah menerima seruan Allah Swt. serta tidak mudah menolak ajakan kebaikan untuk mengkaji Islam dan mendakwahkannya karena itu merupakan bekal kita menghadap Allah. Semoga Allah mudahkan lisan ini untuk berhujjah ketika Allah mempertanyakan waktu, usia, dan harta yang diamanahkan-Nya selama di dunia kepada kita. [Mnews/Rindy-Nsy]

3 komentar pada “[Nafsiyah] Kesadaran Berkorban dan Berjuang Itu “Mahal”

  • 17 Desember 2021 pada 10:58
    Permalink

    Ya Rabbi engkau maha Mulia dan muliakanlah para pengrmban dakwah yg istiqomah dgn ikhlas dan shabar yg slalu bnyk rintangan & hadangan di tengah syariatMu tlah di abaikn krna sistem kapitalis yg sekuler sdh mengakar di dunia termasuk indonesia yg muslim terbnyak .

    Balas
  • 16 Desember 2021 pada 19:02
    Permalink

    MasyaAllah..seketika langsung merasa rugi akan waktu yg aku sia-siakan..semoga slalu istiqomah dijalnmu ya rabb..

    Balas
    • 21 Desember 2021 pada 17:52
      Permalink

      insyaallah ke depan nya bisa menjadi hamba yang terus bersyukur dan terus berjuang di jalan allah amiin

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *