Fikrul Islam

[Fikrul Islam] Cacat dalam Tingkah Laku Manusia

Penulis: Ustaz Hafidz Abdurrahman

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Kepribadian Islam adalah kepribadian manusia biasa, bukan kepribadian malaikat. Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan keunikannya.

Keunikan manusia tentu berbeda dengan malaikat maupun hewan. Malaikat diciptakan oleh Allah Swt. sebagai makhluk yang tidak pernah berbuat maksiat kepada-Nya. Berbeda dengan manusia, yang diberi keunikan oleh Allah Swt. dengan potensi taat dan maksiat kepada-Nya.

Karena potensi inilah, maka tidak ada manusia yang maksum (terbebas dari dosa), kecuali Rasulullah saw.. Karena itu, kepribadian Islam seorang muslim bukanlah kepribadian malaikat yang tanpa cacat. Mengharapkan kepribadian Islam seorang muslim seperti malaikat adalah mustahil karena manusia mempunyai potensi melakukan kemaksiatan, sementara malaikat tidak.

Hanya saja, yang bisa diusahakan oleh seorang muslim dalam membangun dan meningkatkan kualitas kepribadian Islamnya adalah dengan meminimalkan kemungkinannya untuk melakukan maksiat dan meningkatkan ketaatannya kepada Allah Swt..

Paparan sebelumnya telah banyak membahas mengenai upaya membangun ketaatan, yakni dengan cara meningkatkan kualitas aqliyah, nafsiyah, serta kepribadiannya sehingga menjadi kepribadian Islam yang agung dengan akhlak yang luhur sehingga mempunyai kedudukan yang sama dengan para Nabi di akhirat.

Oleh karena itu, hal-hal yang bisa merusak dan melemahkan kepribadian Islam seseorang harus dipaparkan sehingga ia bisa menjaga dan menjauhkan dirinya dari kecacatan tersebut.

Cacat dalam tingkah laku yang menyebabkan cacatnya kepribadian Islam seorang muslim, menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, dipengaruhi oleh tiga faktor:

  1. Kelengahan seseorang yang menyebabkannya lalai untuk mengaitkan antara mafhum dengan akidahnya;
  2. Kebodohan seseorang yang menyebabkan ketidaktahuannya, bahwa mafhum-nya bertentangan dengan akidahnya;
  3. Setan yang menguasai akalnya sehingga akidahnya ditutupi agar tidak bisa mengendalikan aktivitasnya.

Dengan ketiga atau salah satu dari ketiga sebab di atas, seorang muslim bisa saja melakukan maksiat, tetapi pada waktu yang sama ia tetap memeluk akidah Islam, dan menjadikan akidah tersebut sebagai kaidah berpikir dan muyul-nya. Inilah yang menyebabkan orang tersebut berbuat maksiat, sehingga menyebabkan tingkah lakunya cacat. Meskipun ia tetap dianggap mempunyai kepribadian Islam.

Baca juga:  Kepribadian Manusia yang Unik

Orang tersebut juga tidak dihukumi murtad dari Islam, kecuali jika ia meninggalkan akidah Islamnya, baik secara lisan maupun perbuatan. Orang Islam juga tidak dianggap kehilangan kepribadian Islamnya, kecuali jika akidah Islamnya tidak dijadikan sebagai standar aqliyah dan nafsiyah-nya sehingga tetap dianggap muslim, hanya tidak berkepribadian Islam.

Jika masih menjadikan akidah Islamnya sebagai standar aqliyah dan nafsiyah-nya, ia masih berkepribadian Islam. Karena hubungan antara akidah Islam dengan mafhum yang membentuk aqliyah dan nafsiyah tersebut bukan merupakan hubungan spontanitas dan otomatis, yakni jika akidahnya Islam, pasti aqliyah dan nafsiyah-nya juga Islam. Tentu tidak demikian.

Namun, hubungan tersebut merupakan hubungan bentukan yang mempunyai potensi terlepas lalu tersambung kembali. Tidak aneh jika ada seorang muslim melakukan maksiat sampai meninggalkan perintah Allah atau melaksanakan larangan-Nya dalam suatu aktivitas. Bahkan, kadang-kadang orang tersebut mengetahui ada realitas yang bertentangan dengan akidahnya, tetapi ia melihat bahwa masih ada kemaslahatan di dalamnya, kemudian ia sadar bahwa hal itu merupakan suatu kesalahan. Ia pun kemudian menyesal dan kembali ke jalan Allah Swt..

Kesalahan-kesalahan seperti ini tentu tidak akan menyebabkan akidah orang tersebut cacat. Hanya saja, kecacatan seperti ini bisa terjadi dalam tingkah-lakunya saja. Oleh karena itu, seorang muslim yang melakukan maksiat tidak bisa dianggap murtad, sebaliknya ia tetap disebut muslim yang melakukan maksiat. Karena itulah, ia tidak bisa dianggap kehilangan kepribadian Islamnya semata karena melakukan maksiat sekali.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Meningkatkan Kualitas Kepribadian Manusia

Inilah yang terjadi pada diri Hathib bin Abi Balta’ah, sahabat Nabi saw. yang telah melakukan maksiat dengan membocorkan rahasia kaum muslimin yang telah bersiap melakukan penaklukan Kota Makkah dengan mengirimkan sepucuk surat kepada orang Quraisy. Nabi saw. kemudian mengirim Ali, Zubayr, dan Miqdad bin Aswad.

Mereka diperintahkan agar berangkat ke suatu kebun Khakh menemui seorang budak perempuan yang membawa surat tersebut. Mereka diperintahkan agar merampas surat itu dari tangan budak perempuan tersebut. Mereka berhasil membawa surat itu dan menyerahkannya kepada Nabi saw..

Setelah dibuka, ternyata surat itu adalah surat Hathib bin Abi Balta’ah kepada penduduk Makkah yang menyampaikan beberapa rahasia Nabi saw.. Nabi saw. bertanya dengan nada heran, “Mengapa bisa terjadi seperti ini, wahai Hathib?”

Hathib pun menjawab, “Wahai Rasulullah, jangan terburu berburuk sangka terhadap saya. Saya memang orang Quraisy, tetapi saya bukanlah sekutu mereka. Orang Muhajirin yang bersamamu juga mempunyai sanak kerabat di Makkah. Mereka juga ingin melindungi keluarga dan hartanya. Saya berharap, keluarga yang saya tinggalkan di tengah-tengah mereka dapat memperoleh bantuan mereka, sehingga keluarga saya bisa mereka lindungi. Saya melakukan ini bukan karena kufur, murtad, dan rela pada kekufuran setelah memeluk Islam.”

Nabi saw. bersabda, “Kamu benar.” Lanjut beliau, “Ia ikut dalam Perang Badar. Lakukanlah apa yang kamu mau, sesungguhnya saya telah memaafkan kamu.”

Riwayat di atas membuktikan bahwa cacat tingkah laku seorang muslim tidak sampai mengeluarkannya dari Islam dan tidak menyebabkannya kehilangan kepribadian Islamnya. Namun, ini tidak berarti bahwa berbuat maksiat kepada Allah Swt. dibenarkan. Tentu tidak demikian. Karena yang menjadi pembahasan utama adalah selamat dan tidaknya akidah Islam seseorang, juga aqliyah dan nafsiyah-nya yang dibangun berdasarkan akidah Islam.

Baca juga:  Unsur Pertama Kepribadian Manusia: Aqliyah

Ini berbeda jika yang mengalami kecacatan itu adalah akidahnya, maka orang tersebut baru bisa dihukumi murtad dari Islam meskipun aktivitasnya dibangun berdasarkan hukum Islam. Sebab, pada saat itu aktivitas yang dilakukannya pada dasarnya tidak dibangun berdasarkan standar akidah Islam. Mungkin dibangun berdasarkan pertimbangan adat, untung rugi, atau mengikuti kebiasaan orang.

Jika terjadi kecacatan pada standar yang menjadi kaidah aktivitasnya, baik ketika menjadikan manfaat atau akal sebagai pijakannya, maka orang tersebut tetap disebut muslim, karena tetap berakidah Islam, tetapi dianggap telah kehilangan kepribadian Islamnya, karena aqliyah dan nafsiyah-nya tidak dibangun berdasarkan akidah Islam. Meskipun orang tersebut berstatus sebagai pengemban dakwah.

Oleh karena itu, mereka yang mendambakan dan menginginkan kemenangan Islam, tetapi tidak membangun cara berpikirnya dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam, sebaliknya dengan pertimbangan manfaat, akal, dan hawa nafsu semata, maka mereka harus berhati-hati terhadap aktivitasnya. Sebab perkara tersebut justru akan menjauhkan mereka dari kepribadian Islam, meskipun akidah mereka terhindar dari kecacatan, sekalipun mereka mempunyai banyak pengetahuan mengenai pemikiran dan hukum-hukum Islam.

Karena itu harus diperhatikan, bahwa orang yang dianggap masih memeluk akidah Islam adalah orang yang mengimani seluruh ajaran yang dibawa oleh Islam dengan rida dan secara totalitas. Sebab menolak sebagian kecil ataupun sebagian besar ajaran Islam, hukumnya sama dengan menolak seluruhnya, alias sama-sama kufur.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengkufuri Allah dan Rasul-Nya, hendak memisahkan antara Allah dan Rasul-Nya, serta mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian, dan mengkufuri pada sebagian yang lain.’ Sedangkan mereka ingin mengambil jalan tengah di antara perkara itu, maka mereka itulah orang kafir yang sesungguhnya.” (QS An-Nisa’: 150). [MNews/Rgl]

Sumber: Hafidz Abdurrahman, Islam Politik dan Spiritual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *