Fokus

Kubur Islam Liberal, Hidupkan Syariat Kafah!

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS — Lagi-lagi Ade Armando membuat sensasi dengan beberapa pernyataannya. Kali ini ia menyatakan perlu untuk menghidupkan Islam liberal di Indonesia dan tidak harus tunduk pada syariat (Islam). “Menurut saya, jawaban atas kesempitan berpikir dalam beragama yang mengancam Indonesia adalah menghidupkan kembali Islam liberal. Islam liberal di sini adalah Islam yang percaya pada kemerdekaan manusia untuk berpikir ketika menafsirkan ajaran Islam,” katanya.

Selanjutnya ia mengatakan, “Muslim liberal bukanlah muslim yang harus tunduk pada syariat. Muslim liberal adalah muslim yang percaya pada anugerah Tuhan berupa kemampuan berpikir berupa akal,” ujarnya.

Lalu ia mengaitkannya dengan kaum Kristen, “Walaupun masyarakat Kristen tidak menggunakan kata liberal, tetapi pada dasarnya mayoritas umat Kristen di dunia tidak percaya hidup ini harus dijalankan dengan menggunakan ayat-ayat suci Injil secara kaku.”

Ade Armando melanjutkan bahwa dunia Kristen juga pernah mengalami kebekuan beragama berabad-abad yang lalu. “Namun, dunia Kristen kemudian mengalami apa yang disebut sebagai reformasi agama. Doktrin-doktrin keagamaan usang ditinggalkan. Pemuka agama bukan lagi menjadi penentu kebenaran, dan kitab suci tidak digunakan sebagai Kitab Hukum, namun tetap dijadikan panduan. Sejak umat Kristen memerdekakan diri dari kungkungan berpikir para pemuka agama di masa lalu, umat Kristen mengalami kemajuan yang luar biasa,” ujarnya.

Kata Ade Armando, ketika orang diizinkan berpikir merdeka, ilmu pengetahuan digali, sains mengalami kemajuan, kebenaran-kebenaran baru ditemukan, peradaban pun berkembang. “Kemajuan Barat saat ini adalah buah dari perjuangan kemerdekaan beragama itu. Ini yang sekarang harus juga dilakukan Islam di Indonesia. Melakukan reformasi, pembaruan Islam. Karena itulah, kita membutuhkan Islam liberal,” tandasnya. (Eramuslim, 5/12/2021).

Menyudutkan Islam

Jika kita mencermati perkataannya, tampak sangat jelas ia menyudutkan Islam sekaligus mengolok-olok Islam, serta sebaliknya, malah mengagung-agungkan selain Islam. Mungkin orang akan bertanya, “Dia muslim atau bukan, sih? Bukannya mengajak orang untuk berislam dengan benar, kok malah mengajak menjauhi Islam?”

Apakah ia lupa atau pura-pura lupa atau tidak tahu bahwa Islam pernah berjaya selama belasan abad, kurang lebih 13 abad menguasai hampir 2/3 dunia? Umat Islam bisa berjaya selama itu justru karena memberlakukan Islam secara sempurna. Apakah fakta tidak terbantahkan ini akan terbuang begitu saja? Tentu saja tidak bisa!

Kalau saja ia mau belajar Islam dengan benar dan jujur mengakui kegemilangan dunia Islam pada masa lampau, ia akan tertunjuki bahwa kemajuan Islam itu tercapai karena menerapkan syariat Islam. Bahkan, musuh-musuh Islam takut dan segan terhadap dunia Islam. Tokoh agama Nasrani dan intelektual Barat juga mengakui kegemilangan peradaban Islam ini dan bahwa tidak ada yang mampu menandinginya. Ini terjadi justru karena pada waktu itu aturan Islam terterapkan secara sempurna.

Sesungguhnya, konsep Ade ini tanpa dalil kuat sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan. Idenya tidak layak untuk diterima, apalagi dipropagandakan. Yang terjadi malah akan membawa umat kepada kesesatan. Naudzubillaahi min dzalika. Tawaran yang layak adalah mengubur Islam liberal dan menghidupkan syariat Islam kafah!

Baca juga:  Kekuatan Politik Pemuda di Tengah Pertarungan Islam dan Demokrasi

Meluruskan Pandangan

Jika kita mencoba mencermati penyampaian Ade Armando, setidaknya ada tiga hal yang harus kita kritisi dan selanjutnya meluruskannya, yaitu bagaimana seharusnya memosisikan akal? Benarkah kita tidak butuh syariat? Bagaimana memahami konsep kemajuan yang sesungguhnya?

Pertama, salah memahami kedudukan akal.

Jelas bahwa Ade Armando memosisikan akal sebagai sumber hukum sehingga membiarkan akal bebas menghukumi segala sesuatu sesuai kehendaknya. Artinya, posisi akal berada di atas hukum syarak. Tentu saja hal ini berlawanan dengan Islam karena bertentangan dengan perintah dan contoh dari Rasulullah saw…

Dalam hadis dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” Pada hadis lain, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai Aku berada dalam pikirannya ketika ia berpikir.”

Dari hadis ini, jelas bahwa akal manusia harus tunduk pada apa pun yang Rasulullah saw. bawa. Artinya, manusia tidak bebas berpikir sekehendaknya, tetapi harus tunduk pada aturan Islam, aturan yang Rasulullah saw. bawa yang berasal dari wahyu Allah Taala.

Tidak kita mungkiri bahwa akal atau berpikir merupakan hal penting yang harus ada pada diri umat Islam. Bahkan, Allah Swt. banyak memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dengan benar (orang yang berpikir). Hanya saja, tidak boleh bebas sebebas-bebasnya karena bagaimanapun kemampuan berpikir manusia itu lemah dan terbatas.

Oleh karenanya, Islam tidak menyerahkan hak membuat aturan (tasyri’) pada manusia. Hak tasyri’ adalah hak Allah semata. Dengan demikian, gagasan Islam liberal ini jelas tidak bisa kita terima karena bertentangan dengan Islam.

Sesungguhnya, memang benar bahwa Islam mengharuskan seseorang menempuh proses keimanannya dengan jalan berpikir sehingga keimanannya kuat. Proses keimanan menuntut adanya pembenaran secara pasti dan ini hanya bisa berjalan melalui proses berpikir.

Demikian halnya ketika memahami sesuatu—apa pun itu— yang mengharuskan manusia untuk berpikir. Juga untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw., atau dengan kata lain dalam memahami hukum Islam, memang menuntut manusia untuk menggunakan akalnya.

Akan tetapi, harus kita pahami dengan benar bahwa ini semua karena Islam memandang posisi dan kedudukan akal adalah untuk memahami sesuatu, yakni memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw..

Kedua, benarkah umat Islam tidak butuh syariat?

Siapa pun yang mengatakan bahwa umat Islam tidak butuh syariat, sesungguhnya ia telah lancang! Bagaimana mungkin umat Islam tidak butuh syariat, padahal mereka adalah orang-orang yang Allah seru untuk menerapkan dan melaksanakan hukum Islam? Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw. yang memerintahkan kita untuk menjadikan hukum Islam sebagai pijakan dan standar dalam setiap perbuatan.

Baca juga:  Apakah Hadits Kabar Gembira akan Kembalinya Khilafah Dha’if?

Allah Swt. berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah: 49)

Ayat-ayat ini tegas menjelaskan bahwa wajib bagi kita untuk berhukum pada yang Allah turunkan, bahkan Allah mewanti-wanti agar berhati-hati terhadap orang-orang yang bisa memalingkan kita dari syariat. Artinya, menuntut setiap muslim untuk menerapkan dan melaksanakan hukum Islam secara sempurna.

Bagaimana mungkin seseorang bisa melaksanakan syariat jika ia tidak memahaminya? Oleh sebab itu, setiap muslim pasti butuh syariat. Hanya orang sombong yang mengatakan tidak butuh syariat. Naudzubillah!

Ketiga, salah memahami konsep kemajuan.

Tidak ada seorang muslim pun yang mengingkari bahwa kaum muslimin harus maju. Akan tetapi, tidak lantas dengan menjadikan Islam liberal sebagai pijakan untuk mencapai kemajuan tersebut. Terlebih lagi membawa-bawa argumentasi bahwa Nasrani maju karena mengadopsi konsep liberalisme. Ini sama saja dengan bunuh diri.

Mengapa? Karena konsep liberalisme atau kebebasan bertentangan secara diametral dengan syariat Islam. Alih-alih mendapat kemajuan, justru malah terjadi kemunduran, bahkan bisa jadi kebinasaan. Naudzubillah tsumma naudzubilah.

Argumen ini sesungguhnya tidak sulit untuk kita patahkan, baik dari sisi makna kemajuan itu sendiri ataupun secara dalil maupun fakta sejarah. Menurut Islam, kemajuan itu bukanlah terukur dari materi atau teknologi—sebagaimana pandangan orang-orang liberal semacam Ade Armando. Mungkin Barat maju secara materi dan teknologi, tetapi bersamaan dengan itu, kerusakan moral masyarakatnya, problem sosial, kerusakan generasi, dan sebagainya, makin merajalela justru karena menganut kebebasan (liberal).

Kemajuan yang hakiki adalah bangkitnya taraf berpikir umat. Kemajuan taraf berpikir umat akan berpengaruh pada pemahaman umat dan selanjutnya membawa pada kemajuan lainnya, termasuk materi dan teknologi yang teriringi ketundukan pada aturan Sang Khalik Al-Mudabbir.

Oleh karena itu, jika kita hendak membangkitkan umat, yang harus kita benahi pertama kali adalah taraf berpikir umat. Kebangkitan yang benar adalah yang terletak di atas asas ruhiyah. Artinya, kebangkitan yang terbangun dengan landasan pemikiran yang mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah Swt., yaitu dengan perintah dan larangan-Nya. (Syekh Hafizh Sholih. An-Nahdhah).

Baca juga:  Membingkai Takwa dengan Islam Kafah

Berkaitan dengan dalil, maka Allah Swt. berfirman,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 96)

Ayat ini menginformasikan kepada kita bahwa Allah Swt. menjanjikan turunnya keberkahan dari langit dan bumi kepada suatu negeri. Keberkahan identik dengan kebahagiaan dan kemajuan. Semua ini akan terwujud jika penduduk negerinya beriman dan bertakwa. Sebaliknya, jika mendustakan-Nya, Allah akan menimpakan siksa dan kesempitan pada manusia.

Dari sini kita bisa menjawab, apa yang akan terjadi jika Islam liberal terterapkan di negeri ini? Apakah akan mendapat keberkahan dan kemajuan? Sesungguhnya ayat ini saja telah mampu menjawabnya.

Terlebih lagi jika kita mengaitkan dengan sejarah, siapa pun tidak akan bisa berkelit bahwa Islam pernah berjaya selama belasan abad karena menerapkan aturan Islam kafah dalam aspek kehidupan. Ini merupakan fakta yang tidak terbantahkan.

Bahkan, Barat saja mengakui keunggulan Islam, seperti pernyataan Pangeran Charles, “Jika ada banyak kesalahpahaman di Barat tentang Islam, ada juga banyak ketaktahuan tentang utang budaya dan peradaban kita sendiri kepada dunia Islam. Itu adalah kegagalan yang berasal dari kekangan sejarah yang telah kita warisi. Dunia Islam abad pertengahan, dari Asia Tengah hingga pantai Atlantik, adalah dunia tempat cendekiawan berkembang pesat. Akan tetapi, karena kita cenderung melihat Islam sebagai musuh Barat—sebagai budaya, masyarakat, dan sistem kepercayaan yang asing—, kita cenderung mengabaikan atau menghapus relevansinya yang besar dengan sejarah kita sendiri.” (literasiislam.com).

Khatimah

Telah sangat jelas bahwa pemikiran Islam liberal yang Ade lontarkan tersebut berpotensi membawa umat terjerumus pada kesesatan karena makin menjauhkan umat dari penerapan Islam kafah. Alih-alih membawa umat pada kemajuan, justru yang terjadi adalah makin menjerumuskan umat pada kehancuran.

Walhasil, semua pihak harus berperan aktif dan turut serta melindungi umat dari setiap upaya yang menggerus, menistakan, dan melenyapkan pemahaman Islam yang lurus. Telah sangat jelas bahwa Allah Swt. memerintahkan kita mengamalkan Islam secara kafah, ajaran yang Rasulullah bawa dan contohkan. Dengan kata lain, meminta kita untuk mengatur seluruh urusan kehidupan dengan Islam. Ini sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 208). Wallahualam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *