Opini

Kapitalisme Sekuler Gagal Memuliakan Perempuan

Penulis: Juanmartin, S.Si., M. Kes.

MuslimahNews.com, OPINIMendikbudristek Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan (KtP) mengalami peningkatan pada 2021 ini. Hingga Juli 2021, terjadi 2.500 kasus KtP. Jumlah ini lebih besar dibanding angka KtP pada 2020 lalu.

Di sisi lain, KtP dan kasus pelecehan seksual masih menjadi masalah besar di Indonesia. Data Komnas Perempuan melaporkan terdapat 4.000 kasus KtP di Indonesia sejak Januari—September 2021. Mengapa kasus KtP kian merebak? Benarkah kesetaraan gender merupakan solusi atas hal ini?

Kesetaraan Gender, Solusikah?

Bagi pejuang kesetaraan (gender equality), pemicu atas masalah KtP adalah ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan. Budaya patriarki telah memosisikan superioritas laki-laki atas perempuan. Menurut mereka, peran perempuan yang berkiprah di sektor domestik turut berkontribusi memicu KtP.

Peran domestik perempuan yang melulu membahas dapur-sumur-kasur telah menggulirkan wacana emansipasi perempuan. Perempuan harus berperan di sektor publik tanpa diskriminasi. Hingga saat ini, partisipasi perempuan di ranah publik masih menjadi isu krusial, terlebih saat terjun ke sektor publik, masalah perempuan justru kian rumit.

Marginalisasi yang kaum perempuan alami makin memantik bangkitnya perjuangan kaum feminisme. Sensitivitas gender, penetapan kebijakan yang tidak bias gender adalah segelintir isu yang mengiringi perjuangan kaum feminis. Tokoh dunia, para petinggi negara hingga tokoh perempuan kerap mengangkat isu pemberdayaan perempuan nyaris di setiap pertemuan.

Baca juga:  Siapa Pelindung Perempuan dari Kekerasan Online?

Pasca-Deklarasi Beijing, PBB merumuskan resolusi mengenai prinsip kesetaraan laki-laki dan perempuan. Jika kita berhitung, taruhlah setelah deklarasi Beijing pada 1995, seharusnya KtP berkurang setelah 26 tahun berjuang. Mengapa? Sebab, sejak saat itu, seluruh negara di dunia mengikrarkan komitmen untuk merumuskan kebijakan berbasis kesetaraan.

Angka partisipasi perempuan di sektor publik, termasuk ranah politik pun meningkat. Angka partisipasi perempuan di parlemen cenderung meningkat meski belum mencapai target yang mereka tetapkan. Namun, di saat angka partisipasi perempuan bertambah, angka KtP yang terdata juga justru terus bertambah. Apa akar masalah atas hal ini?

Akar Masalah

Logika feminisme yang menganggap bahwa masuknya perempuan ke ranah politik praktis adalah solusi ternyata menuai masalah. Faktanya meski beberapa tokoh perempuan telah menduduki posisi strategis dan angka partisipasi perempuan meningkat, permasalahan perempuan sama sekali tidak menunjukkan penurunan. Angka KDRT tetap tinggi, pelecehan seksual meningkat, dan KtP pun menanjak.

Wajar jika akhirnya masyarakat mempertanyakan arah perjuangan perempuan dalam kerangka pikir feminis. Feminisme pun seakan harus menelan pil pahit realitas kiprah politik yang mereka geluti. Sindrom Cinderella Complex melanda, dahaga untuk mengaplikasikan fitrah keperempuanan seakan menemui tembok penghalang, sementara ego keperempuanan sudah tidak menemukan dalih lagi.

Rentetan kasus yang belakangan terjadi bukanlah dalih untuk mendorong keluarnya regulasi berbasis gender. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa apa yang feminisme perjuangkan telah gagal dan tidak mampu menyelesaikan masalah perempuan. Kolaborasi feminis dan liberalis yang menawarkan kesetaraan gender telah memunculkan banyak masalah. Frame berpikir sekuler dan kapitalistik yang mengeksploitasi perempuan telah menggerus fitrah perempuan. Lantas, bagaimana solusi Islam?

Baca juga:  Kini, Perempuan Terjebak dalam Triple Burden, Masihkah Berharap pada Kesetaraan Gender?

Solusinya Islam Kafah, Bukan Moderasi

Gencarnya perang pemikiran yang Barat lancarkan telah membuat kaum muslim silau dengan ide liberal yang mereka cangkokkan pada Islam. Tidak sedikit perempuan silau dan mengadopsi ide feminis, terlebih dengan kemunculan gagasan moderasi yang mengaburkan syariat Islam kafah telah membuat kaum muslim kian menjauh dari ajaran-Nya.

Prinsip moderasi beragama sesungguhnya turut menyasar hukum-hukum keluarga yang sahih. Karakter gagasan feminisme yang banyak mengutak-atik dalil-dalil syar’i kian mendapat jalan. Gagasan feminisme yang bersenyawa dengan moderasi beragama menghendaki karakter muslim moderat yang menyebarkan budaya Barat yang mendukung pilar-pilar kebebasan individu termasuk kesetaraan gender dan jaminan kebebasan berperilaku bagi perempuan.

Berbagai isu yang ampuh membangkitkan sensitivitas gender tidak akan terlewatkan bagi feminis. Kebebasan yang mereka dengung-dengungkan sesungguhnya merupakan akar masalah mengapa perempuan terus mengalami kekerasan. Sistem kapitalisme sekuler yang melahirkan ide kebebasan bertopeng hak asasi manusia sejatinya telah gagal memuliakan dan melindungi perempuan.

Syariat Islam Memuliakan Perempuan

Syariat Islam telah menggariskan bahwa perempuan harus mendapat perlindungan dan kedudukannya mulia di tengah masyarakat. Rasulullah saw. bersabda, “Innama an-nisa’ saqa’iq ar-rijal (perempuan adalah ‘saudara kandung’ para lelaki).” Di rumah tangga, mereka seperti dua orang sahabat yang saling bekerja sama dalam mendidik generasi. Dalam kehidupan publik, mereka adalah mitra yang bekerja sama membangun masyarakat.

Baca juga:  Cacat Konsep Kesetaraan Gender

Islam juga memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan sebagai bentuk pencegahan bagi munculnya kemaksiatan. Perempuan wajib menutup aurat dan menjaga kemaluannya sebagai upaya preventif terjadinya pelecehan.

Islam menempatkan tugas utama perempuan sebagai ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengurus rumah suami) yang tugas tersebut merupakan peran mulia dan strategis. Peran yang Allah bebankan ini bukan berdasar atas superioritas laki-laki sebab laki-laki pun memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, pelindung, pendidik, juga pencari nafkah keluarga. Keduanya bekerja sama dalam menjalankan kewajiban sebagai bentuk ketaatan kepada syariat Allah Taala.

Inilah yang harusnya menjadi tuntunan umat. Hukum-hukum Islam yang agung terbukti menjaga kehormatan perempuan selama masa kejayaan Islam. Kontras dengan kondisi saat ini, perempuan tereksploitasi, fitrahnya sebagai perempuan terenggut, dan kehidupan mereka penuh teror saat harus mengambil peran ganda sebagai penopang ekonomi keluarga.

Kapitalisme sekuler sesungguhnya bertanggung jawab atas kondisi ini. Islamlah solusi hakiki yang akan memuliakan perempuan dengan syariat-Nya dengan negara yang mengambil peran sebagai pengurus rakyatnya. Wallahualam. [MNews/Has]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *