[News] Aktivis: Moderasi Beragama Mengekalkan Sekularisasi Islam, Umat Islam Wajib Menolak

MuslimahNews.com, NASIONAL — Aktivis muslimah Ustazah Ratu Erma Rachmayanti menegaskan umat Islam wajib menolak moderasi beragama karena sesungguhnya mengekalkan sekularisasi Islam.

“Umat Islam wajib menolak Islam moderat atau moderasi beragama karena sesungguhnya mengekalkan sekularisasi Islam, mengekalkan tidak digunakannya Islam sebagai aturan kehidupan umat, mengekalkan Islam hanya sebagai urusan individu. Persoalan narkoba, korupsi, perceraian, kemiskinan, dan lainnya dianggap tidak perlu menggunakan standar Islam, tetapi pakai aturan yang ditetapkan negara saja. Inilah hakikat moderasi beragama,” jelasnya dalam “Moderasi Beragama dalam Kritisi” di salah satu kanal YouTube, Sabtu (11/12/2021).

Hanya saja, ia mengungkapkan, narasi yang kemudian terlontar bukanlah mau memoderasi Islam atau mengutak-atik Islam, melainkan moderat dalam sikap beragama. “Kesannya jangan terlalu ekstrem deh kalau beragama. Atau dengan kata lain, kalau ada di kehidupan masyarakat jangan bawa-bawa identitas agamamu,” kritiknya.

Ia mengutip pernyataan dr. Fahmi Zarkasyi yang mengatakan terminologi moderasi beragama itu tidak ada dalam khazanah umat Islam. “Tidak ada gambaran sikap yang dikembangkan seperti itu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, para sahabat, dan ulama Islam yang sahih,” tuturnya.

Mendiskreditkan Islam

Apalagi, lanjut Ustazah Erma, faktanya sudah sangat nyata. “Bukan saja orang yang paham agama, tetapi banyak intelektual dan orang awam yang mengatakan ini hal-hal yang akan mendiskreditkan Islam. Tampak dari seruan-seruan makna moderasi dan kriteria moderat—yang tertuang dalam banyak artikel dan dokumen—menyatakan bahwa orang yang moderat adalah yang setuju dengan pemisahan agama dengan kehidupan, setuju memandang semua agama benar, dan setiap orang berhak mengatakan apa pun seperti liberalisme dan HAM,” ujarnya.

Ia pun menyingkap bahwa apa yang terjadi pada umat Islam hari ini, tidak bisa dilepaskan dari serangkaian peristiwa sebelumnya yang menimpa umat. “Dalam sejarah kehidupan umat hakikatnya pergulatan atau perseteruan konsep-konsep hidup di berbagai bangsa. Menjadi kontestasi pemikiran dari berbagai ideologi umat. Sedangkan dalam pandangan Islam, sejarah adalah pertarungan antara hak dan batil. Yang hak dicerminkan dengan sikap dan cara hidup yang sesuai aturan Allah, pencipta alam semesta. Sementara yang batil adalah sebaliknya bukan berasal dari ketetapan dari Allah, tetapi dari manusia itu sendiri dengan akalnya,” terangnya.

Baca juga:  [Fokus] Moderasi Beragama, Tantangan bagi Optimalisasi Peran Ibu

WoT, Kepentingan Barat

Kemudian, ia menguraikan tentang adanya War on Terrorism (WoT) yang sesungguhnya adalah perang melawan Islam. “Melawan yang hak. WoT ini sendiri muncul di era 1970-an, pertama kali digaungkan AS dan sekutunya (Barat). Ini peristiwa yang mencolok mata. Isu-isu tentang umat Islam berkaitan dengan kepentingan dan tujuan politik Barat. Setelah komunisme yang diusung Uni Soviet runtuh, maka ideologi Islam diposisikan sebagai musuh Barat dan ditetapkanlah strategi WoT,” jelasnya.

Ia menerangkan ini menjadi strategi prioritas bukan strategi sampingan untuk kepentingan politik Barat. “Sedemikian seriusnya sampai dilakukan pertemuan-pertemuan internasional membahas topik ini, yaitu untuk perang melawan ekstremisme. Sampai mereka mengatakan jika kesadaran umat Islam untuk kembali kepada agamanya itu makin meningkat, maka mereka akan terus melawannya,” ungkapnya.

Terlebih, sambung Ustazah Erma, banyak sekali rencana di dalam strategi WoT. “Salah satunya adalah tidak menyatakan secara terang-terangan bahwa WoT ini adalah perang terhadap Islam. Yang mereka katakan adalah menghargai Islam dan memerangi ekstremis atau teroris. Kita pun bisa mengetahui strategi ini, salah satunya dari pernyataan Presiden AS Barack Obama saat melanjutkan program WoT ini bahwa Islam adalah bagian integral AS, atau pernyataan lain bahwa kemitraan AS dan Islam harus didasarkan pada kebenaran Islam,” paparnya.

Ia melanjutkan, pernah juga Presiden Rusia Putin mengatakan Islam itu agama yang agung dan Islam telah menjadi bagian sejarah Rusia. “Pernyataan-pernyataan ini yang diikuti pernyataan lainnya sesungguhnya karena mereka menyembunyikan sesuatu. Di lisannya seolah-olah mereka tidak memerangi Islam, tetapi memerangi terorisme yang mereka sebut juga membunuh jutaan umat Islam. Pada hakikatnya ini upaya menutupi tumpahnya darah umat Islam dan konspirasi mereka agar tidak diketahui siapa pun. Hanya saja fakta tidak bisa dibohongi. Misalnya, invasi militer AS ke Irak, menghancurkan Afganistan, dan lainnya,” tegasnya.

Ia mengulas pernyataan seperti ini pula yang digunakan oleh penguasa negeri ini bahwa terorisme itu tidak bisa dikaitkan dengan agama tertentu. “Tidak memerangi Islam, tidak mengkriminalisasi ulama, yang kita lawan adalah terorisnya atau ekstremisnya, dan seterusnya. Jadi, tampaklah moderasi beragama adalah agenda Barat,” cetusnya

Baca juga:  Pantai Bikini di Arab Saudi, Moderasi Hingga Urat Nadi

Faktor Kelemahan Umat

Sayangnya, ia menguraikan, ada faktor kelemahan terbesar umat Islam yang dimanfaatkan oleh musuh untuk menekan. “Pertama, akibat umat Islam tidak paham Islam politik secara utuh. Islam yang dipahami hanyalah ritual. Kedua, adanya ulama yang mudah dibeli. Mudah dirayu dan diiming-imingi dengan kedudukan sehingga dipedayakan oleh musuh yang bisa dilihat dari pemikirannya yang ‘aneh’,” paparnya.

Menurutnya, kedua hal ini menambah tantangan bagi kita untuk menjelaskan bahwa ulama ini digunakan Barat sebagai lips. “Misalnya, mereka mengatakan wasathiyah itu sesuai kok dengan Islam. Akhirnya, terekrutlah para ulama ini yang kemudian membentuk jaringan Islam moderat. Mereka berusaha mencari legalitas Islam itu moderat. Dalil yang mereka gunakan adalah dengan sekadar mengambil kata wasathiyah dalam surat Al-Baqarah ayat 143, kemudian merekayasanya. Padahal bukan seperti itu metode memahami nas dan dalil. Ada caranya,” tukasnya.

Ia pun memaparkan intinya kata wasathan dalam ayat tersebut, maknanya tidak sama dengan yang mereka artikan yaitu tidak boleh ekstrem, harus kompromistis, jangan memaksakan agama dengan kondisi kekinian, dan lainnya.

“Makna wasathan yang sebenarnya adalah umat yang adil. Adil merupakan syarat sebagai saksi sehingga makna wasathan adalah menjadi saksi yang adil bagi bangsa-bangsa yang lain. Di mana adilnya? Ketika umat Islam menyampaikan Islam kepada bangsa lain. Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Jadi, ini merupakan tuntutan bagi umat Islam untuk berdakwah menyampaikan kebenaran Islam. Karenanya, umat Islam harus menjadi khairu ummah, menjadi prototype kehidupan luar biasa yang menjadi fitrah manusia. Mengapa? Karena akan menyampaikan Islam ini kepada peradaban bangsa lain yang berlandaskan nafsu dan syahwat agar mereka turut berada di jalan yang mulia,” urainya.

Jadi, ia menambahkan, ketika umat tidak paham makna wasathan yang sebenarnya, bukan tidak mungkin akan terbawa dengan pemahaman para ulama moderat tersebut.

Agenda Global

Selanjutnya, ia menjelaskan tentang misi moderasi beragama yang masuk ke dalam agenda global seperti organisasi dunia, PBB. “Dalam perjalanannya PBB ini pun menjadi alat politik AS untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu tidak heran ketika dokumen PBB dan hasil-hasil resolusi DK PBB menunjukkan ada program melawan ekstremisme sekaligus melancarkan Islam moderat,” ungkapnya.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Keluarga Moderat= Sakinah Mawaddah wa Rahmah?

Ia menegaskan tampaklah antara moderat dan ekstremisme tidak bisa dipisahkan karena moderat dimunculkan untuk menghadapi ekstremisme. “Bahkan, resolusi PBB tentang Prevent Violence Extremism dan rencana aksinya diadopsi di negeri ini sebagai Perpres No. 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN-PE),” singkapnya.

Melibatkan Banyak Elemen

Terlebih, ia menggarisbawahi program-programnya pun melibatkan banyak lembaga, kementerian, departemen, dan berbagai elemen masyarakat untuk mendistorsi ajaran Islam. “Tujuannya agar generasi umat Islam menganggap tidak perlu memahami ideologi Islam yang sahih atau kafah. Islam cukup dimaknai humanis, rajin ibadah, jujur, tidak suka konflik, mengalah, tetapi giat bekerja, produktif. Tidak apa-apa bermaksiat asalkan produktif,” sebutnya.

Tampak pula, lanjut Ustazah Erma, program ini terjadi tidak hanya di negeri ini, tetapi di negeri-negeri lainnya karena merupakan kebijakan global. “Umat Islam pun menjadi bulan-bulanan. Ini adalah bentuk ketakutan bangkitnya ideologi Islam sebagai kekuatan baru yang akan melenyapkan peradaban sekuler,” tegasnya.

Harus Menolak

Ia menekankan kita harus memahami kesesatan dan bahaya narasi ini, kemudian memahami hukum-hukum apa saja yang mereka serang dan harus menolak atau membantahnya dengan dalil dan hujah. “Hukum-hukum yang mereka takuti itu antara lain kewajiban mengangkat satu orang pemimpin bagi seluruh kaum muslimin dalam institusi Khilafah. Kemudian kewajiban jihad dan qital (perang) melawan kezaliman yang dilakukan musuh, yang mereka narasikan jihad ini bersungguh-sungguh saja. Selanjutnya narasi ini disiarkan oleh jurnalis dan media agar informasi yang mengepung umat Islam adalah sebagaimana yang mereka inginkan,” ulasnya.

Karenanya, ia menandaskan kita harus membantah hal ini dengan berani. “Membangun kekuatan dan harmonisasi dengan pergerakan yang dipimpin para ulama untuk kembali kepada Islam yang murni dan kafah,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.