Opini

Kapitalisme Langgengkan Pacaran, Ikatan Cinta Terlarang dalam Islam

Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — Sistem kapitalisme menjamin kebebasan berperilaku, membiarkan manusia bebas tanpa aturan Allah Swt. dan hidup semaunya sesuai keinginannya. Jangan tanya soal moral manusia, dalam sistem ini, adab, akhlak, dan moral akan terpinggirkan. Dampaknya, laki-laki dan perempuan menjalani hubungan dalam ikatan haram. Ikatan cinta terlarang dalam Islam yang dimaksud adalah berpacaran.

Kini, kekerasan dalam berpacaran tengah menjadi buah bibir di masyarakat. Tidak ketinggalan, para pejabat negara pun memberi perhatian. Kasus bunuh diri Novia Widyasari dengan menenggak racun ditengarai akibat ia depresi karena sang kekasih, Bripda Randy Bagus, memaksanya melakukan aborsi. (detik.com).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menganggap hal ini termasuk dalam kategori kekerasan dalam berpacaran atau dating violence. (news.detik.com, 5/12/2021). Ia menilai setiap bentuk kekerasan sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Oleh karena itu, pemerintah melalui Kemen PPPA mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut dan membuka layanan pengaduan dari masyarakat yang mengalami kekerasan, terutama perempuan.

Pertanyaannya, apakah mengakhiri kekerasan terhadap perempuan (KtP) cukup dengan menghukum pelakunya, sementara nilai-nilai liberal dalam sistem kapitalistik masih terterapkan dalam tatanan pergaulan?

Kontradiksi Antara Melindungi dan “Membebaskan” Perempuan

Komnas Perempuan melaporkan bahwa kasus KtP menjadi makin kompleks dan meluas sehingga tidak mampu tertangani dan terlindungi. Menurut aktivis perempuan (feminis), ada konstruksi seksualitas di masyarakat patriarki yang mewajarkan laki-laki bersikap agresif terhadap perempuan sehingga terjadi sikap permisif terhadap kekerasan seksual. Dalam hal ini, perempuan menjadi pihak yang tersalahkan.

Baca juga:  [Tanya Jawab] Apakah Orang yang Bunuh Diri Dinilai Kafir?

Contohnya, perempuan seharusnya tidak keluar malam, tidak boleh memakai baju terbuka, dan lain-lain. Namun, mereka justru mengatakan bahwa penting bagi laki-laki untuk mengontrol tubuhnya, menahan diri, dan tidak berpikiran kotor.

Berdasarkan pandangan tersebut, jika terjadi KtP, tidak seharusnya menyalahkan perempuan, tetapi selayaknya menghukum pelaku seberat-beratnya. Begitu pun jika terjadi KtP dalam berpacaran, bukan berpacarannya yang salah, tetapi laki-laki yang memaksa pacarnya (perempuan) untuk aborsi yang harus mendapat hukuman dari negara.

Cara berpikir di atas jelas menunjukkan kita pada kekacauan berpikir. Mereka berupaya melindungi perempuan, tetapi menuntut “membebaskan” perempuan. Mereka meminta penghormatan atas perempuan, tetapi membiarkan perempuan hidup tereksploitasi dalam ranah publik, serta membiarkan berjalannya media pornografi dan hiburan porno lainnya yang dapat memicu laki-laki berniat memerkosa perempuan.

Kapitalisme Langgengkan Aktivitas Berpacaran

Kapitalisme merupakan sistem dan ideologi yang menyanjung nilai-nilai kebebasan individu dan mengabaikan akibat buruknya pada masyarakat. Dalam sistem ini, aturan baru akan dirumuskan jika masalah sudah terjadi. Terkait kasus bunuh diri tadi, misalnya, pihak tertentu ramai-ramai menuntut segera disahkannya RUU TP-KS (sebelumnya RUU P-KS). Padahal, aturan tersebut bersifat tambal sulam dan kontradiktif, bahkan tidak menyelesaikan masalah sama sekali. KtP akan terus bergulir dan tidak kunjung berakhir.

Harus kita pahami, biang kerok sesungguhnya masalah KtP bersumber dari masih bercokolnya kapitalisme yang melanggengkan aktivitas berpacaran. Nilai-nilai liberalisme telah merusak tatanan kehidupan, termasuk tata pergaulan manusia. Aneka kekerasan kini menimpa perempuan, mulai dari kekerasan terhadap istri, anak perempuan, dan pekerja rumah tangga, serta kekerasan dalam berpacaran, oleh mantan pacar, hingga oleh mantan suami. Semua itu akibat penerapan ideologi kapitalisme liberal.

Baca juga:  Benarkah Sekolah Daring Pemicu Stres? Islam Punya Solusinya

Wajar saja, hingga saat ini, meski negeri muslim disebut-sebut sebagai peradaban maju karena kecanggihan sains dan teknologinya, tetapi kebangkitan umatnya tidak kunjung terwujud. Identitas umat Islam sebagai khairu ummah pun tidak tampak dalam kehidupan. Semua ini karena ideologi kapitalisme yang masih bertahan.

Sungguh miris, kita terus menyaksikan bertambahnya jumlah kasus bunuh diri sebagai puncak depresi akibat kekerasan dalam berpacaran. Semestinya, kasus ini tidak hanya dikawal dengan menangkap pacar korban, tetapi juga mendorong penguasa negeri ini memperbaiki tata pergaulan dan menghapus beragam nilai liberal.

Perbaiki Tata Pergaulan

Memperbaiki tata pergaulan haruslah sesuai aturan Islam. Hal tersebut dapat berlangsung dengan beberapa mekanisme.

Pertama, Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan menutup aurat dan menjaga kemaluan. Hal ini karena semua bermula dari pandangan yang tidak terjaga yang akhirnya menjerumuskan pada keharaman.

Kedua, memudahkan urusan menikah. Tidak semestinya mempersulit proses pernikahan karena menikah adalah sarana penyaluran naluri seksual yang sah. Menikah akan menjaga kehormatan masing-masing pasangan.

Ketiga, melarang perempuan berdandan berlebihan (tabaruj) ataupun menonjolkan kecantikan yang dapat merangsang naluri seksual lawan jenis. Allah Swt. berfirman, “Janganlah mereka memukul-mukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS An-Nur: 31).

Baca juga:  Tren Bunuh Diri: Sisi Hitam Sekularisme di Jepang

Keempat, mencegah laki-laki dan perempuan melakukan aktivitas yang merusak akhlak.

Kelima, memerintahkan mahram untuk menemani perempuan yang dalam perjalanan lebih dari sehari semalam dalam rangka menjaga kehormatannya.

Keenam, melarang perempuan berkhalwat. Khalwat adalah berkumpulnya seorang laki-laki dan perempuan di suatu tempat yang tidak memungkinkan orang lain untuk bergabung kecuali dengan izin keduanya. Misalnya, seorang laki-laki dan perempuan berdua-duaan di rumah, kantor, atau tempat sunyi yang jauh dari keramaian orang. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali disertai mahramnya karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.” (HR Tirmidzi).

Khatimah

Aktivitas berpacaran yang saat ini membudaya di masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalisme liberal. Penguasa negeri muslim seharusnya menyadari betapa berbahayanya tatanan kapitalistik yang menyebabkan rusaknya kehidupan masyarakat.

Tatanan kehidupan yang rusak akibat penerapan sistem kapitalisme ini hanya bisa berakhir jika umat mencampakkan sistem dan ideologi rusak ini dari negeri muslim, serta menggantinya dengan sistem dan ideologi Islam.

Sistem dan ideologi Islam telah terbukti melahirkan masyarakat yang beradab, berakhlak, dan bermoral mulia. Penguasa dan umat harus mengingat firman Allah Swt., “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96). Wallahualam. [MNews/Has]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *