Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq, Istri Kesatria Uhud yang Dijanjikan Surga

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Di dalam dirinya terhimpun banyak kemuliaan. Keluarganya menjalin kekerabatan yang amat erat dengan Rasulullah saw. Ayahnya sahabat Rasul, saudarinya adalah istri Rasulullah. Sedangkan suaminya, Thalhah bin Ubaidillah adalah kesatria Perang Uhud yang menjadi pelindung Rasulullah saw. dari gempuran pedang dan tombak musuh yang membabi buta. Ialah Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq al-Qurasyiyah at-Taimiyah. Ibunya bernama Habibah binti Kharijah, saudari dari Zaid bin Kharijah.

Ummu Kultsum binti Abu Bakar bukanlah seorang sahabat karena ia lahir setelah wafatnya Nabi saw.. Tentang ibunya, saat Abu Bakar sedang sakit menjelang wafatnya, ia berkata pada Aisyah, “Aku yakin bayi yang sedang dikandung putri Kharijah adalah bayi perempuan.” Ummu Kultsum pun lahir setelah ayahnya, Abu Bakar, wafat, dan apa yang dikatakan Abu Bakar, termasuk karamah yang beliau miliki.

Kemudian, Ummu Kultsum dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah. Dari pasangan ini lahirlah anak-anak yang diberi nama Zakariya dan Yusuf. Namun, Yusuf meninggal saat masih kecil.

Kehidupannya Bersama Thalhah

Dalam satu riwayat, Thalhah bin Ubaidillah membawa harta yang banyak dari Hadramaut. Ia membawa 100.000 dinar. Malam harinya ia tidur dalam keadaan galau. Istrinya berkata, “Abu Muhammad, sejak semalam kulihat engkau begitu gelisah. Apakah ada sesuatu yang kau tak suka dari diriku?” Thalhah berkata, “Engkau adalah istri yang terbaik. Tidak ada. Sejak semalam aku berpikir dan berkata pada diriku, ‘Apa yang dipikirkan seseorang terhadap Rabb-nya?’ Harta ini menginap bersamanya di rumahnya.”

Istrinya berkata, “Mana akhlak yang menjadi ciri khasmu?” Kemudian, Thalhah bertanya balik, “Apa itu?” Istrinya mengatakan, “Besok pagi, mintalah wadah. Lalu bagi-bagi harta itu ke rumah Muhajirin dan Anshar sesuai dengan kedudukan mereka.”

Baca juga:  Perang Uhud

Thalhah berkata pada istrinya, “Semoga Allah menyayangimu. Sungguh aku tahu engkau ini benar-benar wanita yang mendapat taufik putri dari laki-laki yang mendapat taufik.” Itulah Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

Saat pagi tiba, keduanya meminta pembantunya membawakan wadah. Lalu keduanya membagi-bagikan harta itu kepada Muhajirin dan Anshar.

Musa bin Thalhah berkata, “Aisyah binti Thalhah berkata pada ibunya, Ummu Kultsum binti Abu Bakar, ‘Ayahku lebih baik dari ayahmu, hai Ibu!'” Lalu Ummul Mukminin Aisyah menjawab, ‘Mau tidak aku menjadi penengah di antara kalian?’ Sesungguhnya Abu Bakar menemui Nabi saw. Lalu Rasulullah berkata, ‘Abu Bakar, engkau adalah orang yang Allah bebaskan dari neraka.’ Sejak saat itu Abu Bakar digelari juga dengan ‘Atiq. Lalu Thalhah datang menemui Nabi saw. Nabi berkata, ‘Thalhah, engkau termasuk orang gugur di jalan Allah’.”

Menolak Lamaran Umar bin Khaththab

Umar bin Khaththab pernah melamar Ummul Kultsum binti Abu Bakar. Ia mengajukan lamaran tersebut lewat Aisyah, sang kakak yang diamanahi ayahnya untuk mengurus adik kecilnya itu. Saat itu Ummu Kultsum masih begitu beliau. Mengetahui Umar melamarnya, ia menolak karena usia yang terlampau jauh dengan perbedaan kehidupan keduanya.

Aisyah mengabarkan hal ini kepada Amr bin al-Ash. Amr berkata, “Cukup aku sebagai perwakilanmu.” Lalu Amr menemui Umar. Ia berkata, “Amirulmukminin, kudengar engkau berencana menikah?” Umar menjawab, “Iya.” Amr bertanya lagi, “Menikah dengan siapa?” Umar menjawab, “Ummu Kultsum binti Abu Bakar.”

Amr berkata, “Amirul mukminin, dia itu wanita yang masih sangat belia. Dia bisa berselisih denganmu setiap hari.” Umar berkata, “Aisyah yang memerintahkanmu untuk mengatakan ini?”

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Penjagaan Al-Qur’an oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Lalu Thalhah bin Ubaidillah menikahi Ummu Kultsum. Ali berkata pada Thalhah, “Apakah kau mengizinkanku mendekat pada kelambu (yang di dalamnya terdapat Ummu Kultsum)?” Thalhah menjawab, “Iya.” Lalu Ali berkata pada Ummu Kultsum, “Yang satu ini, engkau telah menikah dengan seorang pemuda dari sahabat Rasulullah saw.”

Meriwayatkan Hadis

Dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar, ia mengatakan bahwa Aisyah mengabarkan padanya, “Rasulullah saw. pernah keluar di suatu malam hingga larut. Karena terlampau larut, orang-orang di masjid pun tertidur. Kemudian Rasul keluar dan salat. Beliau berkata, ‘Inilah waktunya. Kalau tidak memberatkan umatku.'”

Dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar, dari Aisyah bahwa Rasulullah saw. mengajarkannya sebuah doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

“Ya Allah, saya memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda. Apa yang saya ketahui maupun tidak saya ketahui. Saya berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui. Ya Allah, sungguh saya memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad saw. kepada-Mu dan saya berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan Nabi-Mu. Ya Allah, saya memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan, dan saya berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan, dan saya memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku.” (HR Ahmad di Musnad, 24498. Ibnu Majah di Sunan-nya, 3846. Dinyatakan sahih oleh Albani dalam kitab Shahih Al-Qur’an Jami’, 1276)

Baca juga:  Pelajaran Berharga dari Perang Uhud

Khatimah

Ummu Kultsum tetap bersama suaminya, Thalhah, hingga ia terbunuh pada Perang Jamal pada 36 H. Saat itu, ia diajak keluar oleh saudaranya Aisyah menuju Makkah. Dikisahkan bahwa Aisyah menunaikan haji bersama saudarinya, Ummu Kultsum, pada masa idahnya dari Thalhah.

Setelah terbunuhnya Thalhah, Ummu Kultsum menikah lagi dengan Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi, paman dari penyair terkenal Umar bin Abi Rabi’ah dan melahirkan anak bernama Utsman, Musa, Ibrahim, Ummu Humaid, dan Ummu Utsman.

Ummu Kultsum binti Abu Bakar melanjutkan kehidupannya di Madinah di bawah pendidikan fikih dari saudarinya, Aisyah. Tidak ada sumber yang menunjukkan secara pasti tentang tahun wafat Ummu Kultsum. Namun, indikasi menunjukkan bahwa ia meninggal di Madinah al-Munawwarah setelah tahun 58 H atau setelah wafatnya Aisyah.

Demikianlah lembaran kisah wanita tabiin dengan nasab yang mulia dan akhlak yang terpuji. Semoga Allah merahmati Ummu Kultsum binti Abu Bakar. Ia menjadi putri, istri, ibu, pelajar, pengajar terbaik, dan juga wanita ahli hadis. [MNews/Chs-Has]

Sumber: Kisahmuslim

2 komentar pada “Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq, Istri Kesatria Uhud yang Dijanjikan Surga

  • 8 Desember 2021 pada 20:52
    Permalink

    Subhanalllah wanita hebat dan mulia

    Balas
    • 10 Desember 2021 pada 04:37
      Permalink

      Subhanallah wanita luar biasa dan mulia

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *