Fokus

Kekerasan Seksual pada Anak oleh Orang Terdekat Adalah Buah Sekularisme Jahat

Penulis: Arum Harjanti

MuslimahNews.com, FOKUS — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama anak Indonesia dari 34 provinsi merayakan Hari Anak Sedunia. Tema peringatan Hari Anak Sedunia pada 25 November 2021 lalu adalah “Masa Depan yang Lebih Baik untuk Setiap Anak.”[1]

Penetapan tema peringatan tentunya menjadi harapan semua pihak. Namun, sayangnya, saat ini harapan tersebut ibarat mimpi, mengingat banyaknya permasalahan yang terjadi pada anak dan tidak kunjung usai.

Salah satu di antaranya adalah kekerasan seksual terhadap anak yang terus meningkat dan makin biadab, serta makin tidak berperikemanusiaan. Yang membuat miris, sebagian besar pelaku adalah orang dekat korban, tetangga, paman, bahkan ayahnya, seperti kejadian di Muara Anke[2] ataupun di Padang.[3]

Itu baru sebagian kecil kasus yang terungkap karena sejatinya jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak ini merupakan fenomena gunung es. Data Kemen PPPA tahun 2020 menyebutkan lebih dari 60% kasus, pelakunya adalah kerabat dekat korban.[4] Penelitian lain bahkan menunjukkan 85% pelaku kejahatan pada anak adalah orang terdekat.[5]

Sekularisme Menjadikan Orang Dekat sebagai Penjahat

Menurut KPAI, ada tiga hal penyebab kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak dan remaja, yaitu kurangnya pengawasan orang tua, rendahnya kesadaran masyarakat, dan hukum yang kurang memberikan efek jera.[6] Selain itu, kemiskinan, pendidikan dalam keluarga, pornografi, dan minuman keras turut memengaruhi.[7]

Psikolog dan Seksolog Dr. Baby Jim Aditya, M.Psi. (20/11/2021) mengatakan ada beberapa faktor penyebab pelakunya keluarga dekat, di antaranya kontrol diri yang rendah atau lemah akan konsep benar dan salah, relasi kuasa patriarki di Indonesia, pengawasan sosial di Indonesia yang tidak memberi hukuman sepadan, juga kurangnya pendidikan reproduksi sejak dini.[8]

Memang benar, ada beragam faktor yang menjadi penyebab sebagaimana disebutkan di atas. Berbagai faktor tersebut saling berkait sehingga memberikan peluang terjadinya kekerasan seksual pada anak. Adanya kontrol diri yang rendah jelas merupakan faktor utama, mengingat perbuatan seseorang adalah hasil keputusannya sendiri.

Baca juga:  Miris, Sekularisme Membuat Institusi Keagamaan pun Menjadi Tempat Berdiamnya Penjahat Seksual

Kontrol diri yang lemah sesungguhnya menunjukkan lemahnya keimanan kepada Allah. Inilah kondisi ketika cara pandang kehidupan hanya berorientasi dunia, yaitu terpenuhi kebutuhannya. Semua berusaha untuk meraih kesenangan tanpa peduli halal dan haram, juga menghalalkan segala macam cara demi memuaskan keinginannya. Inilah cara pandang yang berasaskan sekularisme—menjauhkan agama dari kehidupan dan mengikuti hawa nafsunya semata.

Ketika hawa nafsu yang berkuasa, hilanglah semua tata krama dan nilai-nilai mulia yang seharusnya manusia miliki sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah. Ayah yang seharusnya melindungi dan menjaga anaknya, justru menjadi serigala buas yang ‘membunuh’ masa depan anaknya sendiri sejak dini. Kerabat dan tetangga yang seharusnya bisa menjadi supporting system dalam pengasuhan anak, justru menjadi musuh dalam selimut yang sangat berbahaya.

Semua itu terjadi karena sekularisme yang meletakkan agama hanya pada kehidupan privat dan dalam ranah ibadah semata. Sekularisme memberi kebebasan kepada manusia untuk berbuat apa saja, tidak mengenal norma dan rasa malu. Padahal, rasa malu adalah bagian dari iman. Jadilah manusia berada pada titik terendah kemanusiaannya, bahkan lebih rendah derajatnya daripada binatang.

Banyaknya tayangan dan tontonan yang merusak pikiran dan memicu bangkitnya syahwat memberikan peluang terjadinya kekerasan pada anak ketika iman tidak lagi tertanam. Pendidikan reproduksi sejak dini pun tidak akan mampu menjadi solusi, apalagi jika berbasis hak asasi dan liberalisasi.

Kondisi makin parah ketika memaksa perempuan bekerja mencari nafkah. Atas nama peningkatan partisipasi kerja perempuan dan kesetaraan gender, jadilah peran istri sebagai pasangan suami tidak dapat terwujud optimal dan berdampak dalam kehidupan suami istri. Jadilah anak sendiri menjadi sasaran atas nama kasih sayang yang salah.

Regulasi pun ternyata tidak mampu mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. UU Perlindungan Anak sebagai salah satu regulasi yang digadang melindung anak, ternyata mandul, bahkan meski sudah direvisi dua kali dengan pemberatan hukuman, denda rupiah yang berlipat, bahkan hukuman kebiri kimia. Sungguh, sanksi hukum di dunia saat ini tidak mampu menjadi kendali yang mencegah perilaku rusak dan merusak ini.

Baca juga:  Islam, Solusi Atas Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Anak

Faktor lain yang kadang luput dari perhatian adalah faktor sosial ekonomi.[9] Sistem sosial yang rusak dan penerapan sistem ekonomi kapitalisme membuat rakyat hidup jauh dari sejahtera. Kemiskinan membuat keluarga tidak memiliki kamar yang memadai untuk anggota keluarga sehingga menyulitkan terjaganya aurat. Kemiskinan juga membuat kondisi kejiwaan tidak sehat sehingga bisa mengantarkan perilaku jahat pada anak. Kondisi ini jelas berpengaruh pada terjadinya kekerasan seksual oleh orang terdekat.

Pada sisi lain, budaya patriarki yang kuat di Indonesia—yang teridentikkan dengan Islam—bukanlah penyebab kekerasan seksual pada anak. Ini adalah tuduhan yang salah arah. Salah pula jika menganggap penyebabnya adalah ketaksetaraan gender.

Betul bahwa Islam menjadikan laki-laki sebagai qawwam (pemimpin), tetapi kelebihan ini teriringi dengan tanggung jawab kepada Allah Swt., yakni sebagai pelindung dan penjaga perempuan dan anak-anak. Kejahatan, termasuk kejahatan seksual terhadap anak apalagi anak kandung, adalah satu kemaksiatan. Untuk hal ini, Islam menetapkan setiap kemaksiatan ada hukuman yang menjerakan di dunia dan juga siksa di akhirat kelak.

Sesungguhnya, akar masalahnya adalah penerapan sistem hidup sekuler yang menafikan agama. Selama masih berasaskan sekularisme, kekerasan seksual terhadap anak dan semua bentuk kekerasan akan terus terjadi. Yang terjadi di Amerika Serikat adalah salah satu buktinya. Di sana, 1 dari 4 anak perempuan dan 1 dari 13 anak laki-laki mengalami pelecehan seksual. Bahkan, sekitar 91% pelecehan seksual terhadap anak dilakukan oleh seseorang yang dikenal oleh anak atau keluarga anak tersebut.

Kekerasan seksual terhadap anak bahkan merupakan problem besar yang membebani negara. Di Amerika Serikat, pada 2015 tercatat US$9,3 miliar beban ekonomi seumur hidup dari pelecehan seksual terhadap anak. Itu pun dianggap sebagai perkiraan terendah mengingat tidak semua kasus dilaporkan.[10] Jelaslah, kekerasan seksual kepada anak adalah satu kejahatan besar yang membahayakan umat manusia.

Baca juga:  Waspada Upaya Liberalisasi Seksual Melalui “Bodily Autonomy”

Kekerasan seksual terhadap anak dapat sejatinya dapat kita cegah. Orang dewasa seharusnya mampu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak. Orang dewasa bertanggung jawab memastikan bahwa anak-anak memiliki hubungan dan lingkungan yang aman, stabil, dan terpelihara.

Namun, sekularisme justru memberikan jebakan yang mengantarkan pada kerusakan yang sangat besar dalam kehidupan. Kebebasan perilaku dan hak asasi telah menjadi sumber kerusakan. Sekularisme telah menjadikan individu-individu sakit dan membangun masyarakat yang sakit yang lupa akan kewajibannya.

Islam Memberantas Kekerasan Seksual terhadap Anak

Sebagai sistem yang sempurna dan paripurna, Islam menegaskan bahwa anak-anak adalah tanggung jawab ayah atau walinya. Tetangga dan kerabat juga menjadi sistem pendukungnya karena setiap muslim itu bersaudara yang saling menjaga dan saling berwasiat dalam ketaatan. Semua akan menyadari bahwa kejahatan terhadap anak adalah kemaksiatan dan Islam memberikan sanksi tegas dan menjerakan di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, keimananlah yang akan menjadi benteng agar seseorang tetap taat dan tidak melakukan kemaksiatan.

Selain itu, sistem ekonomi Islam akan membuat rakyat hidup sejahtera dan memiliki rumah yang dapat menjaga aurat penghuninya. Dengan sistem informasi yang baik, pikiran akan terhindarkan dari munculnya dorongan jahat. Sistem pergaulan Islam tentu saja juga akan menguatkan penjagaan atas anak-anak tersebut.

Demikian pula, regulasi yang bersandarkan pada Al-Qur’an dan Sunah akan mampu mencegah terjadinya kejahatan, termasuk kekerasan seksual terhadap anak. Untuk mewujudkannya, tentu saja membutuhkan peran semua pihak, baik dari individu orang dewasa, keluarga dan masyarakat, serta negara. Semua itu akan terwujud ketika aturan Allah diterapkan secara kafah dalam bingkai Khilafah Islamiah. Wallahualam. [MNews/Gz]

Referensi

[1] https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/3540/rayakan-hari-anak-sedunia-kemen-pppa-ajak-anak-indonesia-ikuti-virtual-education-tour

[2] https://www.realitarakyat.com/2021/11/keluarga-korban-diminta-lapor-soal-kasus-pelecehan-seksual-terhadap-anaknya/

[3] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-59335162.

[4] https://blog.justika.com/pidana-dan-laporan-polisi/penyebab-kekerasan-seksual-padaanak/?utm_source=blog&utm_medium=text_blog&utm_campaign=artikel_kekerasan-seksual-di-indonesia

[5] https://www.merdeka.com/peristiwa/amdi-sebut-85-persen-pelaku-kejahatan-anak-adalah-orang-terdekat.html

[6] https://blog.justika.com/pidana-dan-laporan-polisi/penyebab-kekerasan-seksual-padaanak/?utm_source=blog&utm_medium=text_blog&utm_campaign=artikel_kekerasan-seksual-di-indonesia

[7] http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VIII-9-I-P3DI-Mei-2016-73.pdf

[8] https://www.kompas.com/tren/read/2021/11/20/163200865/pencabulananakolehkeluargaterdekatkenapabisaterjadi-?page=all

[9] http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VIII-9-I-P3DI-Mei-2016-73.pdf

[10] https://www.cdc.gov/violenceprevention/pdf/can/CSA-Factsheet_508.pdf

One thought on “Kekerasan Seksual pada Anak oleh Orang Terdekat Adalah Buah Sekularisme Jahat

  • Akibat sekuler berbagai masalah yg dilarang islam akan bermunculan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *