Sekularisme Menyuburkan Perilaku Menyimpang

Penulis: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI — Pengaruh sistem sekularisme menjadikan kelompok perilaku menyimpang tidak lagi malu-malu menunjukkan diri. Kehebohan terjadi di beberapa tempat lantaran adanya kontes waria yang meresahkan masyarakat. Seperti yang terjadi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Acara yang diduga sebagai ajang kontes waria dibubarkan pihak kepolisian dan kelurahan setempat.

Warga terkejut dengan temuan tersebut. Pasalnya, panitia kontes waria mengajukan izin kepada perangkat lingkungan sekitar untuk mengadakan acara khatam Al-Qur’an. Nyatanya, izin acara khatam Al-Qur’an hanya untuk membungkus acara kontes waria. (Detik, 1/12/2021)

Sebelumnya, pada November lalu, Banten juga heboh dengan rencana kontes waria 2021—2022 yang beredar di media sosial. Karena mendapat protes keras dari masyarakat, acara tersebut batal digelar. Di Sumatra Selatan pun serupa, pada Juli 2021, acara kontes waria di Desa Nanjungan, Kecamatan Pendopo, Empat Lawang, Sumatera Selatan juga dibubarkan karena mendapat penolakan dari warga setempat.

Perilaku Menyimpang

Kehadiran komunitas atau kelompok transpuan, transgender, dan sejenisnya tampaknya kian berani menampilkan eksistensi diri. Upaya mereka untuk dapat pengakuan dari masyarakat sangat terlihat, dengan alasan mereka sama-sama manusia yang seharusnya diperlakukan sama, punya hak untuk memilih jalan hidup yang mana, dan sama-sama mengaku sebagai makhluk Tuhan.

Beberapa waktu lalu juga ramai mengenai pesantren khusus waria hingga fikih waria. Bukannya menyusut, jumlah komunitas ini justru makin banyak. Dari data tahun 2015, jumlah waria di seluruh Indonesia mencapai 7 juta orang. Eksistensi mereka pun makin menjamur setelah penetapan Hari Waria Internasional yang selalu diperingati setiap tanggal 20 November. Secara tidak langsung, dunia telah mengakui keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Baca juga:  Apakah Islam Terbuka terhadap Pelbagai Ideologi Modern?

Dalam kacamata HAM, waria adalah warga negara yang memiliki hak sama dengan warga negara lainnya, tidak boleh ada diskriminasi, atau mengkriminalisasi kelompok ini karena identitas seksualnya. Bahkan negara diminta hadir untuk memberikan jaminan dan perlindungan bagi komunitas waria ini.

Boleh saja kontes waria kali ini bubar karena desakan warga, tetapi tidak ada yang menjamin kontes-kontes serupa tidak akan kembali terselenggara. Hal ini karena selama negeri ini mengadopsi sistem sekuler liberal, perilaku menyimpang seperti ini akan tetap menyubur karena dipupuk oleh gerakan global atas nama HAM dan kebebasan.

Buah Sekularisme

Semua ini bermula dari pandangan hidup sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ada perilaku menyimpang, tapi dibiarkan atas nama kebebasan dan HAM. Kebebasan berperilaku yang berasal dari akidah sekularisme menjadikan manusia merasa bebas berbuat semaunya. Di sistem sekuler, preferensi hidup  meski berperilaku menyimpang adalah hak setiap individu.

Akibat sekularisme, nilai agama makin terdegradasi dari kehidupan. Baik buruknya perilaku bergantung pada nilai relatif manusia. Halal haram tidak lagi menjadi tolok ukur perbuatan. Mau perilakunya menyimpang atau tidak, tidak jadi soal. Selama mereka taat aturan negara, maka negara tidak melarang aktivitas yang mereka lakukan.

Baca juga:  Khilafah Menutup Pintu Penyimpangan Seksual

Buah dari penerapan sistem sekuler ialah nihilnya peran negara dalam memberantas setiap perilaku maksiat dan menyimpang secara tegas. Keberadaan waria atau kelompok sejenis mereka ini mendapat legalisasi di balik kebebasan berekspresi dan berperilaku. Dan, yang paling dirugikan atas penerapan sistem sekuler liberal adalah umat Islam.

Paham sekuler liberal telah merusak sendi kehidupan, menghilangkan sensitivitas umat terhadap perilaku maksiat, serta mendangkalkan akidah umat. Islam sebatas agama ritual yang mengatur masalah ibadah semata. Padahal, aturan dan sikap Islam sangat jelas terhadap kelompok-kelompok menyimpang seperti waria, transgender, dan L98T.

Islam Menutup Pintu Maksiat

Islam bukan sebatas mengatur ibadah individu semata. Islam memiliki seperangkat aturan yang lengkap dari bangun tidur hingga bangun negara. Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah sebagai sumber hukum seluruh persoalan manusia.

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki kewajiban yang sama dalam hal beribadah dan beramal saleh. Dalam menjaga perbedaan laki-laki dan perempuan sesuai fitrah penciptaannya, Islam melarang keras laki-laki menyerupai wanita, begitu pun sebaliknya. Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata, “Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhâri, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Baca juga:  Khilafah Mengatasi Serangan Masif Global Pelaku Penyimpangan Seksual

Larangan tersebut bukan sebatas cara berpakaiannya, akan tetapi juga sifat, gerakan, cara bicara, cara berjalan, dan semisalnya. Para ulama telah bersepakat mengenai keharaman laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya, Al-Kabaair, menggolongkan perkara ini sebagai salah satu dosa besar. Hukumannya pun sangat keras yakni akan mendatangkan laknat dari Allah Swt. dan Rasulullah saw..

Islam akan menutup semua jalan masuknya pemikiran yang bertentangan dengan Islammelalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan begitu, standar hidup masyarakat bukan lagi nilai kebebasan atau HAM, tetapi akidah Islam yang terpancar darinya aturan-aturan turunannya.

Jika pintu maksiat itu masih juga dilanggar, Islam memiliki sistem sanksi yang tegas dan memberi efek jera. Tujuannya, agar mereka yang melanggar tak lagi mengulangi dosa yang sama dan masyarakat mendapat pelajaran berharga dari hukuman tersebut.

Hanya dengan pemberlakuan syariat Islam secara kafah dalam negara Khilafah, setiap perilaku menyimpang dapat diberantas dengan tuntas. Taat syariat, insyaallah negeri kita selamat dan mendapat rahmat. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.