Fikrul Islam

[Fikrul Islam] Syariat Islam

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Allah telah mengutus Muhammad ﷺ dengan membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah taala berfirman,

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiyaa [21]: 107)

Selain mengandung rahmat, Allah telah melengkapi hukum Islam dengan berbagai peraturan yang mengatur segala bentuk interaksi manusia di dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan jaminan berupa surga di akhirat, bagi siapa saja yang terikat dengan hukum Islam. Firman Allah taala,

…وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An Nahl[16]: 89)

Islam memandang masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah. Islam juga memandang individu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat, sebagaimana halnya tangan sebagai bagian dari tubuh yang bertugas untuk membantu tubuh, di mana tubuh juga bertugas untuk menyuplai berbagai zat yang dibutuhkan oleh tangan. Satu dengan yang lain akan ikut terpengaruh oleh apa yang menimpa bagian tubuh yang lain.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Seruan dan Bentuk Kalimat Perintah

Dengan demikian, Islam memandang individu sebagai bagian dari masyarakat. Dan memandang masyarakat sebagai sebuah keseluruhan, yang terbentuk dari individu-individu, agar individu dan masyarakat bisa terpelihara. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيْهَا،  كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أعْلَاهَا،  وَبَعْضُهُمْ أضسْفَلَهَا،  فَكَانَ الَّذِيْنَ فِيْ اَسْفَلِهَا إذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ،  مَرُّوْا عَلَى مِنْ فَوْقِهِمْ،  فَقَالُوْا : لَوْ أَنَا خَرَقْنَا فِي نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَم نُؤَذِّ مِنْ فَوْقَنَا،  فَإِنْ تَرَكُوْهُمْ وَمَا أرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا،  وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِمْ،  نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعًا

“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, ia harus melewati orang-orang yang berada diatasnya. Lalu mereka berkata, ‘Andai saja kita lubangi (kapal) pada bagian kami, maka kita tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di atas.’ Jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), maka binasalah seluruhnya. Tapi jika mereka mencegahnya dengan tangan mereka, maka akan selamatlah semuanya.” (HR Bukhari)

Baca juga:  [Fikrul Islam] Islam Adalah Mafahim bagi Kehidupan, Bukan Sekadar Maklumat

Beliau juga bersabda,

أَنْتَ عَلَى ثَغْرَةٍ مِنْ ثَغْرِ الإِسْلَامِ فَلَا يُؤْتِيَنَّ مِنْ قَبْلِكَ

“Masing-masing dari Anda semua merupakan penjaga setiap celah benteng pertahanan Islam hingga tidak ada yang dapat menembus kalian dari belakang.”

Hal ini merupakan tanggung jawab setiap individu dalam masyarakat. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk membangun dan menjaga masyarakatnya. Sebab ia adalah bagian dari masyarakat. [MNews/Rgl]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *