Fokus

[Catatan Kritis Hari AIDS Sedunia] Legalisasi Perilaku Berisiko Mengakibatkan Penularan Infeksi HIV Terus Terjadi

Penulis: Arum Harjanti

MuslimahNews.com, FOKUS — Dunia kembali memperingati Hari AIDS pada 1 Desember 2021 lalu. Keprihatinan mendalam mengingat hingga saat ini dunia belum berhasil menghentikan penularannya. UNAIDS, badan PBB yang mengurusi HIV/AIDS, melaporkan bahwa pada 2020 terdapat 37,7 juta orang hidup dengan HIV dan 1,7 juta di antaranya adalah anak-anak (0—14 tahun).

Sepanjang 2020, terdapat tambahan 1,5 juta infeksi baru HIV. Meski jumlah infeksi baru telah menurun 52% daripada tahun 1997,[1] fakta ini tetap memprihatinkan mengingat hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkannya. Apalagi UNICEF melaporkan bahwa pada 2020, 300.000 anak terinfeksi baru HIV, atau setiap 2 menit, 1 anak terinfeksi HIV; dan setiap 5 menit, 1 anak meninggal karena AIDS.[2] Sungguh satu kondisi yang sangat memprihatinkan.

Catatan Kritis

Satu catatan kritis yang perlu kita garis bawahi adalah peningkatan signifikan pada populasi kunci. UNAIDS melaporkan bahwa populasi kunci, yaitu pekerja seks dan pasangannya, gay dan lelaki seks lelaki (LSL), pengguna narkoba suntik, dan transgender, selalu menyumbang infeksi HIV tertinggi secara global, serta pada 2020 memberikan kontribusi 65% dari semua infeksi HIV. Bahkan, di Amerika Serikat, data 2018 menunjukkan 81% penderita terinfeksi baru HIV adalah lelaki, 86% di antaranya adalah gay, biseksual, dan LSL!!![3]

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Peningkatan kasus HIV signifikan terjadi pada perempuan dan lelaki di populasi umum, pekerja seks, dan peningkatan besar pada kelompok populasi kunci LSL.[4] Studi terbaru membuktikan bahwa lelaki yang homoseksual dan perempuan transgender berisiko tinggi mengalami infeksi HIV menetap.[5]

Melihat fakta yang ada, harapan untuk menghentikan penularan infeksi HIV ibarat angan-angan kosong. Target zero new HIV infection (tidak ada infeksi baru) dalam strategi pengendalian HIV/AIDS secara global melalui The Three Zeros of Eliminating HIV/AIDS pada 2030, tidak akan pernah tercapai. Apalagi saat ini dunia justru makin gencar melarang diskriminasi terhadap LGBT.

Sungguh tidak masuk akal ketika secara fakta penularan infeksi HIV terbesar ada pada populasi LSL, dunia justru menyerukannya sebagai bagian gaya hidup yang harus diterima. Kampanye orientasi seksual yang salah ini jelas akan meningkatkan penularan infeksi HIV. Menurut catatan UNAIDS, penularan infeksi HIV pada gay dan LSL adalah 25 kali lipat lebih besar.

Infeksi HIV juga akan terus terjadi ketika gaya hidup maksiat terus ditoleransi. Data menunjukkan bahwa selain gay, ada beberapa perilaku lain yang memiliki risiko penularan lebih besar. Risiko tertular infeksi HIV ternyata 35 kali lebih besar pada para pengguna narkoba suntik, 34 kali lebih besar pada perempuan transgender, dan 26 kali lebih besar pada pekerja seks.

Legalisasi Perilaku Berisiko

Oleh sebab itu, selama orientasi seksual menyimpang dan perilaku berisiko tetap difasilitasi, apalagi dilegalisasi, jangan harap pemberantasan infeksi HIV/AIDS membawa hasil. Juga yang tidak boleh terlupakan adalah legalisasi perilaku yang Allah larang merupakan kemaksiatan yang akan mengundang murka Allah. Jangan sampai menderita di dunia dan di akhirat.

Jika ingin zero new HIV infection terwujud, sudah seharusnya negara melarang perilaku berisiko dan orientasi seksual menyimpang karena terbukti menjadi sumber utama penularan dan membuat mata rantai penularan tidak kunjung putus. Sudah waktunya untuk meninggalkan prinsip hak asasi manusia, jangan menjadikannya sebagai alasan legalisasi pelanggaran aturan Allah Swt..

Tidak layak pula menjadikan sekularisme sebagai pandangan hidup. Kebebasan yang terpancar dari sekularisme hanya akan membawa bencana bagi semua manusia. Lihatlah, betapa infeksi HIV/AIDS telah merusak produktivitas para pemuda harapan bangsa. Betapa banyak anak-anak yang tidak berdosa tertular infeksi HIV dan tidak mendapatkan perawatan sempurna karena tidak tersedianya dana untuk obat antiretroviral.

Betapa besar beban negara akibat penyakit yang sejatinya bisa tercegah dengan meninggalkan perilaku maksiat. Negara pun menanggung kerugian besar karena calon generasi penerusnya sudah tidak berdaya di masa muda mereka. Jangan lupa juga, kerugian terbesar adalah rusaknya generasi yang teperdaya budaya buruk Barat, jauh dari karakter pemuda Islam yang saleh.

Kembali pada Aturan-Nya

Nyatalah strategi global yang sudah satu dekade ini menunjukkan kegagalannya menyelesaikan persoalan epidemi HIV/AIDS. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Allah, Zat Yang Mahasempurna. Dialah yang menurunkan syariat Islam sebagai aturan yang akan menyelesaikan berbagai persoalan manusia, termasuk infeksi HIV/AIDS.

Islam memiliki aturan sempurna untuk mengatur perilaku manusia, termasuk dalam sistem pergaulan. Islam pun menetapkan standar baik dan buruk, juga mengatur perilaku terpuji dan tercela yang dengannya kemuliaan manusia dan peradaban akan terjaga.

Selain itu, Islam juga memiliki sanksi tegas atas setiap pelanggaran aturan Allah yang akan membuat pelaku kemaksiatan jera dan mencegah berulangnya perilaku buruk tersebut. Keimanan yang kuat akan membuat setiap individu melaksanakan ketaatan kepada aturan Allah.

Dengan demikian, penerapan seluruh aturan Islam dalam kehidupan oleh negara—dalam sistem Khilafah Islamiah—akan mampu menyelesaikan secara tuntas persoalan manusia, termasuk penyebaran infeksi HIV/AIDS. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik Pembuat Aturan. “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah: 50) [MNews/Gz]

Referensi

[1] https://www.unaids.org/en/resources/fact-sheet

[2] https://www.unicef.org/press-releases/child-was-infected-hiv-every-two-minutes-2020-unicef

[3] https://www.cdc.gov/hiv/group/gender/men/index.htm

[4] https://www.kompas.com/sains/read/2021/07/22/130000323/situasi-hiv-aids-di-indonesia-penambahan-kasus-baru-masih-meningkat?page=all#page2.

[5] http://spiritia.or.id/informasi/detail/261

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *