Kisah Inspiratif

Imam ath-Thabrani, Perjalanan sang Ulama Hadis

Penulis: Ruruh Anjar

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Jika menengok peradaban Islam, akan tampak bahwa tradisi keilmuan berkembang begitu pesat, termasuk dalam hal keilmuan para ulama. Semangat mencari ilmu, mencatat, dan mengamalkannya telah memberi banyak kemanfaatan bagi umat yang menembus batas hingga kini.

Tersebutlah seorang alim bernama Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lakhmi asy-Syami ath-Thabrani (Adz-Dzahabi: As-Siyar, 16/119), atau yang lebih dikenal sebagai Imam ath-Thabrani, dinisbahkan pada daerah Thabariyah. Ia seorang yang terdepan dalam ilmu hadis dan ahli dalam bidang tafsir. Juga seorang imam, hafiz, dan perawi terpercaya.

Lahir pada 260 H/873 M (Ibnu Khallikan: Wafayat al-A’yan, 2/407) di sebuah kota bernama Acre (di wilayah Israel sekarang) di wilayah Syam. Usianya cukup panjang, hampir 100 tahun (Ibnu Khallikan: Wafayat al-A’yan, 2/407). Bahkan, ada yang menyebut mencapai 110 tahun.

Ribuan Guru

Ath-Thabrani melakukan perjalanan mencari hadis sejak usia 13 tahun, tepatnya pada 273 H (Adil Nuwaihidh: Mu’jam al-Mufassirin, 1/214; Ash-Shufdi: Al-Wafi bil Wafayat, 15/213) dan ia tempuh selama 33 tahun. Mulai dari negerinya, Syam, menuju Baghdad, Kufah, Bashrah, dan Isfahan (Ibnu Abdul Hadi: Thabaqat Ulama al-Hadis, 3/107). Kemudian menuju Hijaz, Yaman, Mesir, negeri-negeri di Jazirah Arab, dan sebagainya.

Perjalanan keilmuan ini membuatnya banyak mendengar dan belajar dari para guru dan ulama. Disebutkan hingga mencapai seribu orang guru (Ibnu Khallikan: Wafayat al-A’yan, 2/407), seperti Abu Zur’ah ad-Dimasyqi an-Nasai. Ath-Thabrani pernah ditanya tentang begitu banyak hadis yang diriwayatkannya, lalu ia berucap, “Dulu aku tidur di atas al-Bawari (tikar yang terbuat dari jalinan rumput) selama 30 tahun.” (Ibnu Abdul Hadi: Thabaqat Ulama al-Hadis, 3/108).

Yang dilakukan Ath-Thabrani tidak pelak menuai pujian dari para ulama. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ath-Thabrani, “Ia seorang hafiz yang masyhur. Seorang [perawi] musnad dunia.” (Adz-Dzahabi: Tarikhul Islam, 8/143). Beliau juga berujar, “Ath-Thabrani ibarat ahli penunggang kuda dalam permasalahan hadis ini. Bersamaan dengan kejujuran dan amanahnya.” (Adz-Dzahabi: Tadzkiratul Huffazh, 3/85).

Di kesempatan lain, Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah imam, hafiz, pengembara dalam ilmu, dan seorang ahli hadis Islam. Senantiasa hadis-hadisnya diharapkan, bernilai sedekah, dan dicintai.” (Adz-Dzahabi: As-Siyar, 16/119).

Ibnul Jauzi berkata, “Ath-Thabrani termasuk salah seorang pemuka hafiz. Memiliki karya-karya yang bagus.” (Ibnul Jauzi: Al-Hatstsu ‘ala Hifzhil Ilm wa Dzikru Kibaril Huffazh, Hal: 68). Ibnu Uqdah juga berucap, “Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih mengetahui hadis melebih Ath-Thabrani. Dan juga tidak ada yang lebih hafal sanad melebihi dirinya.” (Ibnu Qathlubagha: Ats-Tsiqat min man lam Yaqo’ fi Kutubis Sittah. 5/90).

Bahkan, seorang menteri bernama Ibnu al-Amid berkata, “Aku tidak mengetahui di dunia ini ada yang lebih manis dan lebih lezat dibanding kekuasaan dan jabatan menteri yang aku jabat sekarang sampai akhirnya aku melihat pengajian Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani dan Abu Bakr al-Ju’abi. Ath-Thabrani mengalahkan al-Ju’abi dalam banyaknya hafalan. Sementara al-Ju’abi mengalahkan ath-Thabrani dalam kecerdasannya dan kepintaran.”

Kemudian terjadi dialog antara mereka hingga tak diketahui mana yang lebih unggul di antara keduanya. Al-Ju’abi mengatakan, ‘Aku meriwayatkan hadis yang tidak ada orang yang meriwayatkannya di dunia ini kecuali aku’. Ath-Thabrani menanggapi, ‘Coba tunjukkan’. Al-Ju’abi mengatakan, ‘Abu Khalifah telah menyampaikan kepadaku. Sulaiman bin Ayyub telah menyampaikan kepadaku…’ Kemudian dia sampaikan isi hadisnya. Ath-Thabrani mengatakan, ‘Akulah Sulaiman bin Ayyub. Dan aku mendengar hadis itu dari Abu Khalifah’. Al-Ju’abi pun merasa malu. Ath-Thabrani mengunggulinya.” Ibnu al-Amid melanjutkan, “Aku berandai kalau saja kementerian dan jabatan ini tidak diberikan padaku. Dan aku berandai menjadi ath-Thabrani. Pastilah aku bahagia sebagaimana bahagianya ath-Thabrani karena hadis.” (Ibnu Manzhur: Mukhtashor Tarikh Dimasyqi, 10/104).

Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abdurrahman berkata, “Ath-Thabrani sudah dikenal walaupun tidak disebut keutamaan dan kontribusinya. Ia menyampaikan hadis di Isfahan selama 60 tahun. Yang mendengar darinya adalah seorang bapak, kemudian nanti anaknya, kemudian nanti cucunya. Bahkan, sampai ke cicit mereka. Ia adalah seorang yang luas ilmunya dan banyak karya tulisnya. Di akhir usianya ia mengalami kebutaan.” (Ibnu Qathlubagha: Ats-Tsiqat min man lam Yaqo’ fi Kutubis Sittah. 5/91).

Karya Sepanjang Masa

Ath-Thabrani melahirkan banyak karya ilmiah berupa buku-buku yang bagus dan bermanfaat. Yang paling terkenal dari karya-karyanya adalah mu’jamnya. Baik Mu’jam al-Kabir, Mu’jam al-Awsath, dan Mu’jam ash-Shaghir (Ibnu al-Mustafi: Tarikh Irbil, 2/53). Dalam Mu’jam al-Awsath-nya ia mengatakan, “Buku ini adalah ruhku.” Karena begitu lelahnya ia dalam menyelesaikannya.

Karyanya yang lain adalah pembahasan tentang Kitab ad-Du’a, Kitab ‘Isyratin Nisa, Kitab al-Manasik, Kitab al-Awail, Kitab as-Sunnah, Kitab an-Nawadir, Musnad Abu Hurairah, Kitab at-Tafsir, Kitab Dala-il an-Nubuwah, Musnad Syu’bah, Musnad Sufyan, Kitab Hadis asy-Syamiyyin, dan banyak lagi (adz-Dzahabi: Tarikh al-Islam, 8/144).

Karya-karya luar biasa ini bisa terlihat dari Mu’jamul Kabir. Merupakan kitab hadis yang terdiri dari 12 jilid berbentuk ensiklopedia. Tidak hanya memuat hadis Rasulullah, tetapi juga memuat beberapa informasi sejarah. Secara keseluruhan kitab ini memuat 60.000 hadis. Karenanya, Ibnu Dihyah mengatakan bahwa Mu’jamul Kabir ini merupakan karya ensiklopedis hadis terbesar di dunia.

Kemudian Mu’jamul Ausath yang terdiri dari 2 jilid besar, memuat 30.000 hadis, baik yang berkualitas sahih, maupun yang tidak. Disusun berdasarkan nama-nama guru Ath-Thabrani yang hampir mencapai 2000 orang.

Selanjutnya kitab Mu’jamush Shaghir yang disusun berdasarkan nama guru-guru Ath-Thabrani. Untuk setiap nama guru, hadis yang dicantumkan hanya satu buah. Oleh karena itu, dibandingkan dua mu’jam sebelumnya, Mu’jamush Shaghir ini merupakan mu’jam yang sangat singkat dan ringkas.

Begitulah para ulama yang senantiasa berlomba dalam kebaikan. Peluh dan lelahnya telah menorehkan karya bermanfaat serta menginspirasi berbagai generasi untuk makin mencintai agama ini. Meninggalkan tinta emas yang tidak lekang oleh waktu dan menjadi amal jariah yang terus mengalir. Wallahualam.[MNews/Juan]

*Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *