Rencana Jahat di Balik Tagar “Bubarkan MUI”

Penulis: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS — Media sosial (medsos) kembali ramai dengan perang tagar antara #BubarkanMUI dan #DukungMUI. Tagar #BubarkanMUI berawal dari aksi Densus 88 Anti-Teror Polri yang menangkap tiga orang ustaz muda di wilayah Bekasi, pada Selasa (16/11/2021) pagi. 

Ketiganya adalah Ustaz Farid Okbah yang juga merupakan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI), anggota Komisi Fatwa MUI Pusat Dr. Ahmad Zain An-Najah, dan Dr. Anung Hamad.[i] Menurut Densus 88, penangkapan ketiga ustaz tersebut murni kasus tindak pidana terorisme. Mereka terduga terlibat kelompok Jamaah Islamiyah (JI).[ii]

Tampaknya, tuduhan dan penangkapan terhadap pelaku teror oleh Densus 88 “makin berani”. Dulu yang mereka tangkap adalah para ustaz dan guru ngaji yang tinggal di pedesaan atau perkampungan, yang notabene tidak dikenal masyarakat luas. Sekarang, tokoh-tokoh yang ditangkap justru ulama yang sering tampil di medsos. Bahkan, salah satu terduga, yakni Ustaz Farid Okbah, pernah datang menjumpai Presiden Jokowi untuk memberikan nasihat.

Jadi, ada apa di balik penangkapan ini?

Muka Dua Penyikapan Pelaku Tindak Terorisme

Dalam UU 5/2018 tentang Perubahan atas UU 15/2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU 1/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, definisi “teroris” adalah ‘siapa pun yang merencanakan, menggerakkan, dan mengorganisasikan terorisme’. Sedangkan “terorisme” adalah ‘perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan/kehancuran terhadap objek vital strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan’.

Dari definisi tersebut, orang terdekat dan masyarakat sekitar tidak menjumpai sifat-sifat “teroris” tersebut melekat pada ketiga ustaz yang tertangkap. Publik justru melihat bentuk kezaliman dan ketakadilan rezim melalui Densus 88 dalam melakukan pencegahan terorisme.

Selama ini, ada tengarai bahwa kepolisian tidak bersikap adil dalam penanganan terorisme. Tuduhan terorisme hanya tertuju apabila pelakunya muslim dan menganggap tindak kriminal biasa bila pelakunya bukan muslim, seperti pada peristiwa pengeboman Mal Alam Sutera.

Ketakadilan makin nyata dengan sikap diamnya terhadap aksi terorisme KKB di Papua. Mereka terus melakukan penyerangan pada pasukan keamanan negara dan melakukan tindak teror pada warga Papua. Namun, baru pada 2021 tersemat sebutan ‘bentuk aksi teroris’. Anehnya, setelah penyematan tersebut, tidak tampak upaya memberangkatkan Densus 88 ke sana. Yang ada justru berita bertambahnya korban akibat aksi teror mereka.

Tagar Pengalihan Isu

Reaksi yang muncul dari para tokoh dengan tertangkapnya para ustaz justru bukan sebuah pembelaan terhadap mereka. Bukan pula kemarahan terhadap perlakuan brutal yang dilakukan Densus 88 dalam melakukan penangkapan. Ketakkompakan yang berangkat dari ketakjelian dalam membaca isu yang dimainkan rezim kini menjadi blunder bagi umat Islam.

Dalam kasus tagar #BubarkanMUI, sebenarnya ada dua isu yang tengah beraksi. Pertama, kasus penangkapan tiga ustaz terduga teroris secara brutal oleh Densus 88. Kasus ini berupaya teralihkan cepat dengan memunculkan tagar tuntutan pembubaran MUI sebagai kasus kedua.

Dengan munculnya tagar tersebut, umat teralihkan dari membincangkan sikap Densus yang brutal dan keganjilan penangkapan menjadi menempatkan tuduhan teroris pada ketiga ustaz tersebut. Media juga teralihkan dari aksi terorisme yang tengah berlangsung di Papua, serta melupakan sikap lemah Pemerintah dalam menanganinya.

Fokus publik akhirnya seolah terseret kepada tuntutan pembubaran MUI. Beberapa reaksi atas tuntutan tersebut justru mengantarkan masuk pada perangkap berikutnya.

Respons yang menolak pembubaran MUI dan menilai seruan pembubaran tidak rasional, cukup banyak. Namun, ketika berlanjut dengan pernyataan, “Penyusupan teroris terjadi di mana-mana,” muncullah pernyataan, “Jika terjadi penyusupan, yang dibunuh harusnya tikusnya saja, bukan rumahnya yang dibakar.”[iii]

Apalagi pernyataan Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi bahwa saat ini jaringan teroris mulai masuk ke berbagai kalangan dan perlu mewaspadainya,[iv] umat seolah terpaksa mengamini adanya “teroris” yang menyusup ke MUI.

Pernyataan-pernyataan demikian menunjukkan sikap defensif apologetis—sikap membela diri karena merasa diri menjadi pihak tertuduh sehingga jadi membenarkan opini yang berkembang bahwa MUI disusupi teroris. Bahkan, mirisnya, justru mematahkan asas praduga tidak bersalah yang seharusnya terbangun dalam proses penyelidikan. Sungguh mengenaskan!

Walhasil, muncullah tuntutan agar keanggotaan MUI lebih selektif. Sekali lagi, pihak MUI pun seolah mengamini tuntutan tersebut. Anggota Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme MUI Makmun Rasyid menyatakan MUI berniat melakukan pembersihan internal.

Mengapa internal MUI jadi kelabakan melakukan “bersih-bersih”?

Mungkinkah MUI Dibubarkan?

Sejatinya, tuntutan pembubaran Densus 88 lebih mendesak daripada pembubaran MUI. Jelas-jelas Densus 88 telah beberapa kali melakukan tindak penghilangan nyawa terduga teroris. Tagar #BubarkanDensus muncul hingga empat kali, yakni pada September 2010 yang dipicu kasus Medan, Februari 2013 (kasus Poso), April 2018 (penghilangan nyawa di Klaten Jateng), terakhir Oktober 2021 karena Densus 88 menunjukkan sikap islamofobia.

Meski ada tuntutan pembubaran hingga empat kali, toh tidak ada perubahan dari Densus 88. Mereka tetap brutal dan menunjukkan sikap islamofobia.

Dalam sejarahnya, MUI merupakan official organization, yakni organisasi resmi pemerintah dirikan pada 26 Juli 1975 di Jakarta pada masa pemerintahan Soeharto. Organisasi ini merupakan wadah musyawarah para ulama, zu’ama, dan cendekiawan muslim di Indonesia.

Kala itu, MUI berdiri dari hasil pertemuan para ulama yang mewakili 26 provinsi. Tercatat, terdapat 26 ulama yang hadir.[v] Pada saat itu, beberapa pihak pada era Orde Baru mengkritisi berdirinya MUI sebagai wahana pemerintah mengontrol Islam demi kepentingan; Juga keberadaan MUI sebagai lembaga pemberi legitimasi teologis atas setiap kebijakan negara.

Padahal, harapan akan MUI sesungguhnya adalah menjadi menjadi payung besar bagi ormas dan lembaga, ulama, maupun cendekiawan Islam. Peran besar MUI yang menonjol adalah sebagai satu-satunya lembaga yang ditunjuk mengeluarkan sertifikasi halal bagi produk yang masyarakat konsumsi.

Namun, seiring perkembangan politik yang ada dan makin menguatnya kekuasaan oligarki dalam tubuh pemerintahan, peran MUI mulai terpinggirkan. Sertifikasi halal tidak lagi menjadi kewenangan MUI semata. Pemerintah pun membuka berdirinya lembaga-lembaga di luar MUI dalam pemberian sertifikasi halal bagi produk yang perusahaan keluarkan.

Kini, pada saat rezim tengah menggulirkan proyek besar—moderasi Beragama—, bisa jadi juga ada upaya memanfaatkan MUI untuk memuluskan jalan proyek besar ini. Terlebih, sikap MUI dalam Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VII yang baru saja usai. Dalam forum tersebut, MUI memang merekomendasikan agar tidak memberikan stigma terhadap makna “jihad dan khilafah”, tetapi pada saat yang sama juga menegaskan adanya sistem pemerintahan selain Khilafah.

Sikap ini seolah menegaskan kebutuhan segera melangsungkan agenda “bersih-bersih” dalam rangka mengeluarkan para ulama hanif yang istikamah memperjuangkan Islam, serta mendukung jihad dan tegaknya Khilafah. Artinya, MUI tidak bakal dibubarkan, tetapi didesain menjadi organisasi yang berisi orang-orang yang pro rezim yang tetap diam atas kebijakan yang makin liberal dan anti-Islam. Inilah sejatinya yang hendak rezim wujudkan, yakni menjauhkan Islam dari kehidupan.

Islam Tidak Pernah Sejalan dengan Liberalisme

Saat dunia dalam hegemoni kapitalisme liberal, Islam akan senantiasa menjadi titik bidik. Penyebabnya, pertama, dunia Islam mempunyai pasokan energi dan SDA yang melimpah, serta mempunya posisi strategis di dunia secara geopolitik. Kedua, kapitalisme Barat sangat menyadari bahwa Islam merupakan peradaban yang unik—berbeda dengan sosialisme dan kapitalisme—dan sempurna dengan basis ideologi dan sistem politik yang khas.

Dengan dua hal ini saja, kapitalisme dunia memandang Islam sebagai rival berat dan merupakan ancaman potensial yang mampu menggeser hegemoninya selama ini atas dunia. Penerapan aturan-aturan Islam jelas akan menghambat kebebasan yang dikumandangkan kapitalisme dalam semua segi kehidupan.

Semangat liberalisme jelas tidak memiliki tempat dalam tubuh Islam. Muslim yang saleh akan senantiasa mendakwahkan Islam kafah yang Nabi Muhammad saw. ajarkan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata dalam bangunan Khilafah Islamiah.

Barat menyadari betul, kekuatan besar kekhalifahan Islam yang akan menggeser hegemoni kapitalisme dunia hari ini akan muncul dalam waktu dekat. Mereka paham bahwa mereka tidak akan mampu mencegahnya sehingga mereka berupaya menundanya dengan berbagai makar yang mereka susun.

Sejatinya, mereka yang tengah menyusun makar jahat bagi Islam dan kaum muslimin lupa bahwa mereka hanyalah makhluk lemah dibandingkan kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dialah Yang Memberlakukan urusan-Nya tanpa ada yang mampu menghalangi karena Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

وَمَكَرُوا۟ وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali ‘Imran: 54). Wallahualam. [MNews/Gz]

Referensi:

[i] https://jakarta.poskota.co.id/2021/11/17/penangkapan-3-ustaz-di-bekasi-oleh-densus-88-jadi-perbincangan-seru-di-medsos-kuasa-hukum-itu-menyakiti-hati-umat-islam

[ii]https://koran-jakarta.com/siapakah-kelompok-yang-ingin-bubarkan-mui-pasca-penangkapan-ahmad-zain-sayangnya-wamenag-tak-sebutkan-jelas?page=all

[iii] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211123180445-32-725115/maruf-amin-soal-bubarkan-mui-bukan-rumahnya-dibakar-tapi-tikusnya

[iv] https://koran-jakarta.com/siapakah-kelompok-yang-ingin-bubarkan-mui-pasca-penangkapan-ahmad-zain-sayangnya-wamenag-tak-sebutkan-jelas?page=all

[v] https://www.idntimes.com/news/indonesia/muhammad-ilman-nafian-2/sejarah-berdirinya-majelis-ulama-indonesia-dan-perannya-di-indonesia/2

One thought on “Rencana Jahat di Balik Tagar “Bubarkan MUI”

  • 1 Desember 2021 pada 07:46
    Permalink

    Pintu terakhir bangsa ini adalah MUI sbg tameng umat islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *