Modul Moderasi Beragama Untuk Anak Usia Dini, Mau Dibawa ke Mana?

Penulis: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia)

MuslimahNews.com, OPINI — Pusat Pengembangan Pendidikan Karakter Kemendikbudristek mengadopsi program Pendidikan Moderasi Beragama (PMB) yang dikembangkan Kementerian Agama (Kemenag). Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag Muhammad Zain menyatakan sangat perlu mengajarkan PMB sejak usia dini. Hal ini butuh menjadi perhatian para praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), salah satunya guru pada Raudhatul Athfal (RA). (kemenag.go.id, 16/3/2021).

Terkait hal tersebut, Kemenag menuntaskan penulisan empat modul moderasi beragama untuk diimplementasikan pada satuan pendidikan. Buku ini akan digunakan khususnya oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Penyusunan modul merupakan tindak lanjut amanat Menag bahwa 2021 menjadi tahun implementasi moderasi beragama.

Empat modul tersebut adalah (1) buku saku yang menjelaskan sembilan nilai moderasi beragama; (2) modul penguatan moderasi beragama bagi guru; (3) pedoman mengintegrasikan muatan moderasi beragama pada mata pelajaran PAI; serta (4) pedoman bagi siswa dan organisasi kesiswaan bidang agama dalam memperkuat moderasi beragama. (Republika, 24/4/2021)

Salah satu modul berjudul “Membangun Karakter Moderat: Modul Pengetahuan Nilai-Nilai Moderasi Beragama pada Madrasah RA-MI” diterbitkan oleh PKPPN IAIN Surakarta dan Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI setebal 116 halaman. Modul ini bertema moderasi beragama dan revolusi mental, dua tema yang menjadi strategi pembangunan karakter SDM Indonesia sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024.

Tema ini kemudian terpilah ke dalam beberapa topik, misalnya pembangunan karakter moderat, pengenalan kebangsaan, berlaku adil kepada sesama, menjalin dan menjaga persaudaraan, bersikap santun dan bijak, serta menjadi pribadi inovatif, kreatif, dan mandiri. (kemenag.go.id, 3/7/2020).

Baca juga:  [News] UIY: Moderasi Beragama Memerangi Islam yang Kental dan Tebal

Karakter Moderat, Untuk Apa?

Anak adalah amanah besar dari Allah Swt. kepada hamba-Nya. Kewajiban orang tua adalah mendidik anak dengan benar sesuai fitrah penciptaannya. Allah Swt. berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dalam hadis riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari Muslim)

Ini adalah tugas berat para orang tua di zaman milenial, yakni orang tua harus mendidik anak sebaik mungkin, bersaing dengan kondisi lingkungan dan sistem yang cenderung tidak sesuai fitrah manusia.

Fitrah manusia adalah menghamba kepada Allah Swt. sepenuhnya karena manusia adalah makhluk terbatas yang membutuhkan Ilah (Tuhan) yang Mahaagung. Menjadi hamba yang “lurus” bermakna ‘beriman sepenuhnya kepada Allah Swt. dan bertakwa kepada-Nya’. Bukan setengah-setengah mengambil aturan-Nya yang manusia suka saja, lalu mengabaikan aturan lainnya. Bukan pula bersikap moderat yang cenderung mengambil jalan tengah.

Pembentukan karakter moderat pada anak justru harus kita hindari. Sejak dini, kita harus mengajarkan anak mana hal yang baik dan buruk, benar dan salah, terpuji dan tercela. Anak harus paham cara bersikap baik, benar, dan terpuji. Bukan sebagai dogma atau paksaan, tetapi memang yang baik, benar, dan terpuji itulah yang mendatangkan kebaikan untuk hidupnya kelak.

Baca juga:  [News] Moderasi Beragama, Aktivis: Pengalihan dari Permasalahan Bangsa yang Sebenarnya Akibat Kapitalisme dan Sekularisme

Menjadi anak muslim juga demikian. Memiliki karakter baik dan terpuji bukan sekadar pilihan, tetapi ada balasan pahala berlimpah dari Allah Swt. untuk setiap hamba-Nya. Itu adalah sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Allah Swt.. Menjadi anak saleh dan salihah adalah kewajiban, bukan pilihan.

Berdasarkan hal itu, untuk apa pembentukan karakter moderat itu? Jika kita mencermati narasi moderasi, tampak ada kekhawatiran terkait ajaran ekstrem dan intoleran. Oleh sebab itu, kita perlu mendudukkannya secara proporsional.

Sikap Proporsional

Sesungguhnya, Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap teguh terhadap ajaran agama, serta menjalankan perintah Allah Swt. sebaik-baiknya. Islam tidak mengajarkan ekstremisme dengan konotasi perbuatan berlebihan dalam menjalankan syariat sampai-sampai mengganggu dan tidak menghargai umat agama lain, bahkan merusak tempat ibadah mereka. Islam melarang keras semua perbuatan ini.

Toleransi dalam Islam bermakna perbuatan yang membiarkan umat agama lain menjalankan ibadahnya masing-masing dan tidak mengganggu mereka. Toleransi bukan berarti mengakui ajaran agama lain itu benar (pluralisme), karena hanya Allah Swt. yang berhak kita sembah. Syariat yang Nabi Muhammad saw. bawa adalah syariat penyempurna agama-agama sebelumnya.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (TQS Ali Imran: 19).

Baca juga:  Moderasi Beragama, Strategi Barat Mengadang Kebangkitan Islam (Bagian 2/2)

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengajarkan hakikat Tuhan dan syariat Islam secara benar kepada anak-anak, terutama sejak usia dini, semata-mata itu semua adalah perintah Allah Swt..

Islam Bukan Sumber Ekstremisme dan Radikalisme

Sebagaimana telah penulis singgung, Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap proporsional dalam segala hal. Menempatkan yang wajib sebagai wajib, sunah sebagai sunah, begitu pula yang mubah, makruh, serta haram. Perbuatan manusia sudah Allah Swt. atur dan nas-nasnya terdapat dalam Al-Qur’an, Sunah, ijmak, dan qiyas.

Oleh karenanya, Islam bukanlah sumber ekstremisme dan radikalisme. Adapun jika terdapat manusia yang melanggar hukum syarak, itu adalah kesalahan manusianya, tidak bisa menggeneralisasi sebagai kesalahan Islam sebagai sistem aturan. Menuduh agama (Islam) sebagai sumber konflik adalah kesalahan besar.

Perlu kita pahami pula, sejatinya, kampanye moderasi beragama hadir karena ketakutan terhadap Islam—sistem yang bisa tampil sebagai kekuatan nyata dalam menyelesaikan masalah kehidupan, baik pribadi hingga tataran negara atau pemerintahan. Padahal, jika kita meneliti lebih dalam, tidak perlu ada yang kita takuti dari syariat Islam karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, menjaga nyawa manusia, dan menyelamatkan manusia dari semua bentuk kerusakan. Wallahualam. [MNews/Gz]

One thought on “Modul Moderasi Beragama Untuk Anak Usia Dini, Mau Dibawa ke Mana?

  • 27 November 2021 pada 19:26
    Permalink

    Astaghfirullah.. moderasi agama makin deras digulirkan tujuannya mendangkalkan pemikiran umat dan membendung dakwah Islam Kaaffah..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *