Menyoal Penancapan HAM di Hari Antikekerasan terhadap Perempuan

Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — Para pegiat kesetaraan gender memanfaatkan Hari Antikekerasan terhadap Perempuan Internasional tahun ini untuk mendorong pengesahan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS). Bagi mereka, memiliki payung hukum untuk menjamin HAM bagi perempuan adalah solusi mengatasi kekerasan terhadap perempuan (KtP).

Padahal, persoalan perempuan—terutama KtP yang terus berkelindan—telah nyata hadir bersama arus kebebasan. Freedom of behavior yang menjadi landasan ide kesetaraan terbukti cacat dan tidak pernah bisa menyolusi persoalan. Mengapa demikian? Bagaimana pandangan Islam terkait hal tersebut?

Kekerasan Perempuan

Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan, kasus KtP di Indonesia pada 2020 mencapai 299.911. Bahkan, selama 12 tahun terakhir, KtP meningkat 8 kali lipat. (tribunnews, 26/11/2021)

Berdasarkan Data WHO pada 2018, 1 dari 3 perempuan berusia 15 tahun ke atas di seluruh dunia telah mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan intim, bukan pasangan, atau keduanya, setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka.

Atas dasar inilah para pegiat kesetaraan gender terus mengampanyekan kesetaraan sebagai solusi KtP. Menurut mereka, ketakadilan gender adalah penyebab utama terjadinya KtP. Perempuan kerap terposisikan sebagai kaum lemah yang tidak berhak melawan.

Kampanye Kosong

Kampanye 16 hari Antikekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender-Based Violence) sudah berlangsung sejak 1991. Lembaga pertama yang mengagasnya adalah Women’s Global Leadership Institute, serta Center for Women’s Global Leadership sebagai sponsornya.

Di Indonesia sendiri, Komnas Perempuan sudah terlibat sejak 2001 dalam kampanye tersebut. Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari 25 November (Hari Antikekerasan terhadap Perempuan) hingga 10 Desember (Hari HAM Internasional).

Rentang waktu tersebut terpilih dalam rangka menghubungkan secara simbolis antara KtP dan HAM, serta menekankan bahwa KtP merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM

Namun demikian, seiring tertancapnya HAM di dunia, KtP makin tidak terbendung. Alih-alih menyelesaikan permasalahan, HAM yang Barat gaung-gaungkan malah menjadi petaka besar bagi perempuan. Oleh karena itu, kampanye antikekerasan kali ini lagi-lagi menjadi kampanye kosong yang tidak pernah bisa menghapus permasalahan perempuan.

HAM Sumber Masalah

Mengapa HAM malah memicu KtP? Pertama, landasan ide HAM sendiri adalah sekularisme yang menyingkirkan agama dari kehidupan. Atas nama HAM, perempuan bisa berbuat sesuka hati. Perempuan bebas mengumbar auratnya dan bebas bertingkah laku tanpa batas. Bukankah tindakan seperti ini kontraproduktif dengan usaha penghapusan KtP? Bagaimanapun, pakaian minim dan tingkah laku serba bebas merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya kriminalitas.

Atas nama HAM pula, para istri bebas memilih mau taat pada suami ataukah tidak. Para ibu bebas memilih mau tetap di rumah mengurusi urusan domestik dan mendidik anak-anak mereka, ataukah keluar rumah dengan menelantarkan semua kewajibannya. Para anak perempuan pun bebas memilih untuk tidak taat pada orang tuanya. Bukankah ini juga merupakan sumber petaka dalam rumah tangga?

Kemudian, bangunan rumah tangga yang terkoyak pun dapat memicu terjadinya KDRT. Anak-anak jadi tidak betah di rumah, lalu mereka pergi berkeliaran di luar pengawasan orang tuanya. Bukankah ini pula penyebab maraknya kekerasan pada anak, termasuk perempuan?

Oleh karena itu, menghapus KtP bukanlah dengan memperjuangkan HAM yang justru menjadi pemicu terjadinya kekerasan. Seharusnya, umat membuang konsep HAM yang lahir dari Barat ini dan memperjuangkan syariat Islam. Hal ini karena hanya syariat Islam yang mampu menghapus kekerasan, termasuk terhadap perempuan.

Syariat Islam Menghapus Kekerasan

Allah Swt. memuliakan perempuan dengan menghadirkan seperangkat aturan yang jelas dan terperinci. Aturan yang datang dari Sang Pencipta pastilah sesuai fitrah manusia, termasuk bagi perempuan. Aturan berpakaian bagi muslimah, misalnya, hal demikian akan mengantarkan pada penjagaan atas kehormatannya. Begitu pun aturan yang melarang perempuan bepergian jauh tanpa mahram dan harus seizin walinya.

Islam juga mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan, seperti melarang khalwat dan ikhtilat. Semua ini adalah bentuk penjagaan syariat terhadap keamanan perempuan sehingga kekerasan di luar rumah bisa sangat minim, bahkan terhapuskan.

Kekerasan yang terjadi di dalam rumah pun akan hilang jika aturan Islam terterapkan sempurna. Misalnya, aturan bahwa istri harus taat suami dan suami harus berlaku makruf pada istri. Hal ini akan menghindarkan perempuan dari KDRT yang marak terjadi seiring dengan penancapan ide kebebasan.

Syariat Islam menjelaskan betapa mulianya seorang istri yang melayani suaminya sepenuh hati. Bahkan, ada pahala besar yang Allah janjikan bagi suami yang bekerja keras menafkahi anak dan istrinya. Pada akhirnya, semua itu dapat mengantarkan pada terbentuknya keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah.

Selain itu, orang tua yang paham akan tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya akan menjadikan generasi kenyang kasih sayang. Para ibu memahami betul amalan terbaiknya, yaitu mendidik anak-anaknya. Para ayah, walaupun sibuk bekerja, akan tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya. Walhasil, anak-anak betah di rumah dan menjadikan orang tuanya sebagai teladan dalam kehidupan mereka. Bukankah ini pun dapat menghapus kekerasan pada anak, baik di dalam maupun luar rumah?

Khatimah

Sejatinya, kebebasan yang Barat gaung-gaungkan justru sedang mengeluarkan perempuan dari kemuliaannya. HAM merupakan konsep busuk yang Barat jadikan sebagai alat untuk menjauhkan kaum muslim dari agamanya sendiri.

Agar kemuliaannya terjaga, perempuan butuh aturan. Aturan yang jelas dan lengkap sesuai fitrahnya hanya tertuang dalam syariat Islam. Perempuan tidak butuh kebebasan untuk mencapai kebahagiaan dan tidak perlu memperjuangkan kesetaraan gender. Penyebabnya, permasalahan perempuan bukan terletak pada gendernya setara atau tidak. Di hadapan Allah Swt., derajat laki-laki dan perempuan adalah sama, hanya ketakwaan yang menjadi pembedanya.

Permasalahan perempuan sesungguhnya terletak pada penerapan sistem sekuler liberal yang membawa petaka bagi manusia dan seluruh alam raya. Bukan hanya perempuan, laki-laki pun nelangsa hidup dalam sistem ini.

Oleh karena itu, kampanye antikekerasan terhadap perempuan dan perjuangan mengesahkan RUU TPKS adalah amalan yang tidak akan mampu menghapus KtP. Justru semua itu akan makin menancapkan kebebasan yang sejatinya menjadi biang persoalan kekerasan terhadap perempuan.

Yang harus para perempuan lakukan adalah mengampanyekan penerapan syariat Islam dan berjuang menerapkannya secara utuh dalam bingkai Daulah Islamiah. Insyaallah, kekerasan terhadap perempuan akan hilang dan seluruh manusia menemui kehidupannya yang aman dan tenteram. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *