[Fikrul Islam] Iman kepada Malaikat

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Allah dalam bentuk tertentu. Allah memberikan kepada mereka kekhususan-kekhususan yang berbeda dengan manusia. Mereka adalah golongan yang tidak membangkang kepada Allah dan menjalankan segala yang diperintahkan kepada mereka.

Allah Swt. berfirman,

اَلْحَمْدُ لِلهِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ جَاعِلِ الْمَلٰۤىِٕكَةِ رُسُلًاۙ اُولِيْٓ اَجْنِحَةٍ مَّثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۗ يَزِيْدُ فِى الْخَلْقِ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap, dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat. Allah menambah apa yang Dia kehendaki tentang ciptaan-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Faathir [35]: 1)

Di antara malaikat yang paling terkenal adalah malaikat Jibril as. yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para Rasul. Kemudian malaikat Malik penjaga neraka, malaikat Ridwan penjaga surga, malaikat maut, dan Mikail. Di antara mereka ada yang diberi tugas untuk mencatat dan mengawasi perbuatan- perbuatan manusia.

Firman Allah Swt.,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْد

“Tidaklah dia mengucapkan sesuatu, kecuali padanya ada Raqib dan ‘Atid.” (QS Qaaf [50]: 18)

Baca juga:  [Fikrul Islam] Iman kepada Kitab Samawi, Termasuk Al-Qur’an Al-Karim

Malaikat termasuk makhluk gaib yang tidak dapat dilihat manusia. Dalil tentang keberadaan malaikat serta adanya tuntutan untuk mengimaninya adalah wahyu Allah Swt.,

…كُلٌّ اٰمَنَ بِاللهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ…

” … semuanya beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya….” (QS Al-Baqarah [2]: 285)

…وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا

” … barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, dan rasul-rasul-Nya, serta hari akhir, maka ia telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa [4]: 136). [MNews/Rgl]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah. Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *