Opini

Terorisme, Proyek Barat untuk Mengadang Perjuangan Islam

Penulis: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — Komitmen Pemerintah Indonesia dalam memerangi terorisme tampak nyata. War on terrorism (WoT) atau perang melawan terorisme seolah menjadi agenda tahunan yang tidak mungkin terlewatkan. Bentuk penyidikan serta pengintaian terhadap sasaran juga mereka lakukan lewat proses panjang.

Namun, publik tidak mampu menduga sasaran aparat penegak hukum terkait tindak pidana terorisme. Sampai saat ini pun publik belum mengetahui dengan jelas “tafsir” dari definisi tindak terorisme. Apa itu tindak pidana terorisme? Kelompok mana saja yang termasuk dalam kualifikasi pemerintah sebagai kelompok teroris? Semuanya tampak kabur dan tidak transparan. Ujug-ujug, terjadi penangkapan dan salah satunya adalah tokoh ulama.

Lebih parahnya, isu terorisme jelas membuat publik gaduh. Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan menilai penangkapan tokoh ulama berpotensi membangun narasi negatif dari pihak yang setuju terkait penangkapan itu. Mereka akan mengatakan, “Tangkap semua ulama radikal dan radikalisme di tubuh MUI,” atau “Bersihkan MUI dari radikal,” hingga “Bubarkan MUI!” (jpnn.com, 19/11/2021).

Proyek Barat

Sebenarnya, publik mencurigai dan menyadari adanya otak intelektual di balik perang melawan terorisme. Istilah dan terminologi terorisme ini memang digadang-gadang oleh Barat di setiap negeri muslim. Alih-alih meraih simpati, isu ini justru memunculkan kemarahan dan perlawanan dari publik. 

Hingga kini, Barat terus menggencarkan isu terorisme yang sejatinya merupakan proyek Barat terhadap Islam. Barat paham benar adanya Islam ideologi. Pengusung ideologi Islam yang bercita-cita menegakkan Khilafah menjadi lawan serius bagi Barat. Memang, para pengusung ideologi Islam yang berjuang tanpa kekerasan dan melakukan perjuangan intelektual menjadi yang paling sulit tersentuh oleh Barat dan antek-anteknya.

Baca juga:  Menggoreng Isu Radikalisme, Topeng Tutupi Hancurnya Ekonomi

Oleh karenanya, isu terorisme dan perang melawan radikalisme menjadi sesuatu yang penting bagi Barat. Namun, ironisnya, para penguasa negeri muslim turut bersama dalam isu memerangi terorisme yang sejatinya memerangi Islam itu.

Seperti salah satunya penguasa negeri ini yang menanggulangi terorisme melalui dua pendekatan. Pertama, hard power yang menekankan pada law enforcement, yakni penegakan hukum terhadap pelaku tindak terorisme lewat Densus 88.

Kedua, soft power dengan mengesahkan UU Intelijen Negara, UU Ormas, UU Terorisme, Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme , serta berbagai program deradikalisasi.

Mengadang Perjuangan Islam

Perang melawan terorisme telah berlangsung sejak peristiwa World Trade Center pada 11/9/2001) yang Barat klaim sebagai serangan teroris pertama di AS. Barat pun mulai membuat narasi yang mengonfirmasi bahwa perlu untuk memerangi tindak terorisme di dunia. Barat menilai tindak terorisme didahului oleh pikiran dan gagasan radikal.

Kemudian, Barat dan segenap penguasa negeri muslim—yang berkomitmen memerangi terorisme dan radikalisme—menyasar siapa pun yang memiliki “ciri dan definisi” radikal menurut tafsir mereka. Buku-buku karya ulama terkait jihad, syariat Islam, Khilafah, bahkan Al-Qur’an, menjadi barang bukti kasus terorisme. Tampak sekali mereka hendak menggiring opini bahwa pejuang Islam adalah radikalis dan berpotensi melakukan tindak terorisme.

Baca juga:  Atasi Hoaks dengan UU Terorisme Jelang Pilpres, Diktatoris?

Barat pun tahu betul bahwa Islam berpotensi menumbangkan keangkuhan ideologi kapitalisme. Perjuangan Islam untuk mengembalikan kembali kehidupan Islam dalam institusi Khilafah menjadi sesuatu yang harus mereka adang. Caranya adalah dengan melakukan monsterisasi Khilafah sehingga umat Islam takut terhadap ajaran Islam ini.

Selain itu, pengusung ide perang melawan terorisme melakukan penyesatan politik di tengah publik. Mereka mengalihkan permasalahan yang timbul akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme dengan menuduh Islamlah sumber konflik/masalah. Padahal, sekularisme dan turunannya adalah biang masalah sesungguhnya dari berbagai problem kehidupan.

Bendung Isu Miring

Barat akan terus mengadang perjuangan Islam dengan mengintensifkan isu terorisme di setiap negeri muslim. Oleh sebab itu, umat Islam harus menyadari dan tentunya memihak pada Islam dan ajaran-ajarannya, bukan malah mendukung dan membenarkan proyek Barat (WoT) tersebut.

Lantas, apa yang harus umat lakukan untuk membendung isu miring terorisme yang menyebabkan mara bahaya bagi Islam dan umatnya?

Pertama, umat harus paham akan ajaran Islam secara utuh. Wajib untuk memahami bahwa semua ajaran Islam—termasuk jihad dan Khilafah—bukanlah keburukan seperti yang musuh Islam propagandakan. Aktivitas dakwah harus bersifat fikriyah (pemikiran) dan la ‘unfiyah (tanpa kekerasan) sehingga tidak mungkin melahirkan tindak terorisme.

Baca juga:  Terorisme dan Perempuan

Kedua, umat harus paham bahwa ancaman sesungguhnya adalah sistem sekuler kapitalistik yang gagal menyejahterakan dunia.

Ketiga, umat harus memilih sistem yang baik dan benar yang berasal dari Allah Swt. Yang Mahabaik, yakni syariat Islam. Hanya penerapan syariat Islam kafah yang dapat mewujudkan rahmat.

Khatimah

Berdasarkan hal tersebut, umat Islam harus membangun kekuatan dengan makin solid dalam memperjuangkan Islam kafah. Ali bin Abu Thalib pernah berkata, “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.” Tidak seharusnya sesama umat Islam saling mencurigai ataupun memata-matai.

Semestinya juga, para tokoh Islam, alim ulama, dan intelektual muslim bersatu melawan berbagai ide Barat yang masih bercokol di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Wajib untuk mencampakkan ide-ide tersebut dan mengambil Islam sebagai satu-satunya solusi dalam kehidupan. Selain itu, mereka harus meminta para penggawa negara agar menghentikan berbagai proyek terkait terorisme dan radikalisme yang justru merugikan Islam.

Allah Swt. berfirman, “Allah Yang Mahakuasa sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir di dunia ini untuk mengalahkan orang-orang beriman; dan tidak pula memberi sedikit pun jalan untuk menuju ke surga di akhirat nanti.” (QS An-Nisa’: 141). [MNews/Gz]

2 komentar pada “Terorisme, Proyek Barat untuk Mengadang Perjuangan Islam

  • Sartni

    Butuh perjuangan lebih extra tuk menyadarkan dan mengobarkan smangat islam kpd ummat agar mendukung kebangkitan islam scara kaffah..peraturan pemerintah kini kian mencekik karena mendukung sistim kapitalis
    “sistim kufur pasti terkubur”

    Balas
  • Saatnya umat islam bangkit dengan pemahaman islam yg menyeluruh..mengkaji mengamalkan dan.mendakwahkannya..jika saya umat manusia diatur dengan aturan Allah sang pencipta dan pengatur Niscaya umat ini akan merasakan kesejahteraan, ketentraman..sesuai fitrah manusia
    Wallahu a’alam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *