Terorisme, Isu Berulang Menstigmakan Islam

Penulis: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia)

MuslimahNews.com, OPINI — Isu terorisme kembali mencuat. Para pelaku terduga teroris ditangkap oleh Den5u5 88. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Boy Rafli Amar menyatakan ada sekitar 216 orang terlibat dalam aksi terorisme sejak Januari hingga Mei 2021. Dari 216 orang tersebut, sebanyak 71 orang diduga terkait jaringan Jamaah Al Islamiyah, sebanyak 144 orang diduga terkait kelompok Jamaah Ansharut Daulah dan satu orang terkait deportan (kompascom, 27/5/2021).

Di Lampung, Den5u5 88 Antiteror Polri kembali menangkap dua tersangka teroris berinisial SU dan DRS. Keduanya, merupakan pejabat Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurahman bin Auf (LAS BM ABA), di Lampung. Mereka berdua diduga anggota jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan menjadi pengumpul dana teroris (beritasatucom, 3/11/2021).

Selain itu, Den5u5 88 Antiteror menangkap anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ahmad Zain An-Najah di Bekasi, Selasa (16/11/2021) karena diduga terlibat dalam jaringan kelompok terorisme (kompascom, 20/11/2021).

Tidak hanya itu, Den5u5 menelusuri keterkaitan kebun kurma di Lampung dengan pendanaan JI. Dari hasil pendalaman itu, Densus mendapati yayasan amal milik JI, LAZ BM ABA melakukan sosialisasi terkait pemberdayaan kebun kurma untuk pendanaan JI (detikcom, 12/11/2021).

Menjelang akhir tahun isu terorisme kembali berulang dan semakin intensif diangkat. Kita turut prihatin melihat fenomena penangkapan terduga terorisme dikaitkan dengan banyak hal yang berasosiasi dengan Islam, mulai dari tokoh ulama, dana zakat, kebun kurma, sampai organisasi Islam dan ulama seperti MUI. Ada apa dengan semua fenomena ini?

Baca juga:  Antara Rasialisme dan Stigmatisasi Islam

Konsep Islam yang Damai dan Rahmatan lil ‘ALamin

Islam itu agama yang damai dan tidak mengajarkan untuk berbuat jahat atau melakukan kekerasan. Islam mengajarkan toleransi antarumat beragama dalam arti tidak mengganggu penganut agama lain untuk beribadah sesuai keyakinan mereka.

Sejatinya terorisme otomatis tertolak oleh Islam. Teror dalam arti mengganggu kenyamanan, keamanan dan keselamatan orang lain jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kasih sayang, tidak hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada hewan dan tumbuhan.

Cara mendakwahkan Islam juga harus dengan cara yang baik, tanpa paksaan dan manusiawi. Sebagaimana di dalam Firman Allah Swt.,

لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ

Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS Al Baqarah: 256).

Ibnu Katsir menyatakan, “Tidak ada yang dipaksa untuk memeluk agama Islam karena telah jelas dan tegas tanda dan bukti kebenaran Islam sehingga tidak perlu lagi memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam. Orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk menerima Islam, lapang dadanya dan dicerahkan pandangannya sehingga ia memeluk Islam dengan alasan yang pasti. Namun orang yang hatinya dibutakan oleh Allah dan ditutup hati serta pandangannya, tidak ada manfaatnya memaksa mereka untuk masuk Islam” (Tafsir Ibnu Katsir).

Baca juga:  [Persepsi Berbahaya] Fundamentalisme

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Pada masa Rasulullah saw. mendirikan Daulah Islam di Madinah, di sana masyarakatnya plural. Ada warga yang beragama Islam, Nasrani dan Yahudi. Ini adalah contoh terbaik bagaimana penerapan syariat Islam secara kafah yang mengayomi semua agama dan mengutamakan kesejahteraan warga. Islam akan memenuhi kebutuhan pokok masyarakat mulai dari kebutuhan makan, sandang, papan, keamanan, dan pendidikan setiap warga negara. Betapa fakta sejarah telah banyak mencatat tentang hal ini.

Stop Islamofobia dan Stigmatisasi Islam

Tidak kenal, maka tidak sayang. Tidak kenal, maka kenalilah agar tidak salah menyimpulkan. Jika ada yang masih menyatakan bahwa Islam itu agama yang suka menyebarkan teror dan agama yang “keras”, perlu untuk mengenali Islam lebih dalam karena semua itu adalah stigma yang keliru.

Dalam memaknai jihad—ajaran Islam yang sering menjadi sasaran tuduhan—juga demikian. Ustaz Arief B. Iskandar menjelaskan dalam tulisannya bahwa “jihad” secara bahasa artinya mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan. (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhith, kata ja-ha-da).

Adapun secara syar‘i, jihad dimaknai dengan al-qital (perang), yakni perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Bahkan, itulah yang disebut dengan jihad yang sebenarnya. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, II/153).

Baca juga:  MUI: Khilafah Bagian dari Islam, Jangan Distigma

Jihad dalam arti ini bisa berupa jihad defensif dan jihad ofensif (muslimahnews.com, 14/5/2018). Jihad defensif artinya jihad untuk membela diri atau bertahan. Ini terjadi jika suatu negeri atau kaum muslim diserang oleh orang atau negara kafir. Contohnya di negeri Palestina saat ini yang masih terus diserang dan dizalimi oleh Israel. Maka mempertahankan diri, harta dan nyawa serta kehormatan kaum muslimin di sana adalah jihad fi sabilillah.

Bagaimana dengan jihad ofensif? Jihad ini adalah berperang secara aktif. Jihad ofensif hanya bisa dilakukan jika Daulah Islam atau Khilafah Islamiyah berdiri. Jihad (perang) menjadi metode penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Ini pun menjadi pilihan terakhir setelah tawaran dakwah Islam secara damai ditolak. Sekali lagi, tujuannya adalah untuk meninggikan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.

Dengan demikian, kita tidak boleh memberikan stigma terhadap Islam karena Islam punya metode dakwah yang sangat manusiawi dan pada dasarnya membawa kedamaian untuk seluruh alam, tidak hanya untuk manusia. Stop islamofobia dengan mengaitkan banyak hal yang berbau Islam seolah-olah menjadi monster dan harus dijauhi karena meresahkan. Namun sayangnya, framing negatif terhadap Islam ini hanya akan bisa dihentikan oleh institusi Islam yang memiliki power dan mampu menunjukkan Islam dalam aspek rahmatan lil ‘alamin, yaitu Khilafah Islamiah.[]

One thought on “Terorisme, Isu Berulang Menstigmakan Islam

  • 25 November 2021 pada 21:05
    Permalink

    Pemutarbalikan fakta strategi global untuk menjegal kebangkitan Islam, faktanya Islam Rahmattanlil’alamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *