Ummu al-Banin binti Abdul Aziz, Istri dan Saudara Khalifah

MuslimahNews.com KISAH INSPIRATIF — Seorang wanita dalam puncak keluhuran dan kehormatan dengan pilar-pilar kemuliaan terangkat di antara keluarga dan kerabatnya dari para khalifah dan pembesar khalifah. Ia adalah Ummu al-Banin binti Abdul Azin bin Marwan, saudara wanita Umar bin Abdul Aziz sekaligus istri dari al-Walid bin Abdul Malik, sepupunya sendiri. Dari pernikahan Ummu al-Banin dan al-Walid lahirlah Abdul Aziz, Muhammad, dan Aisyah.

Para sejarawan yang menulis biografi Ummu al-Banin binti Abdul Aziz sepakat bahwa ia termasuk salah seorang wanita terbaik pada masanya. Ia habiskan waktunya untuk mengkaji ilmu, fikih, dan beribadah kepada Allah Swt.. Ia berguru kepada para ulama dan tokoh tabiin.

Ummu al-Banin memiliki perhatian besar dalam kajian Islam. Setiap Jumat ia akan duduk di atas singgasananya untuk berdakwah di jalan Allah. Ia mengajar di hadapan para wanita ahli ibadah yang mengelilinginya untuk berbincang dan belajar padanya.

Salah satu perkataan masyhur yang menggambarkan kebijakannya adalah ketika ia mengatakan, “Orang yang paling pelit adalah orang yang pelit pada dirinya sendiri dengan surga,” dan “Setiap orang itu rakus akan sesuatu dan Allah menjadikanku rakus untuk berderma.”

Selain itu, ia fasih berbicara sehingga lawan bicaranya tidak bisa berkutik mencari alasan. Seperti ketika ia membeberkan kesalahan Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, orang yang terbukti membunuh orang-orang saleh pada masa itu sampai Hajjaj tidak bisa berkelit dari kesalahan yang telah dituduhkan padanya.

Ummu al-Banin senantiasa berzikir kepada Allah dan menautkan hatinya dengan Al-Qur’an. Ia terbiasa membaca Al-Qur’an setiap pagi dan sore sehingga yang terlihat padanya selalu membaca Al-Qur’an dengan menundukkan diri kepada Zat Maha Pengasih, Allah Swt..

Ummu al-Banin adalah wanita tabiin yang sangat dermawan. Di antara bentuk kedermawanannya saat ia mengundang banyak wanita ke rumahnya. Lalu, ia membagikan pakaian mewah dan memberi mereka ribuan dinar sambil berkata ”Pakaian ini menjadi milik kalian dan bagikanlah dinar-dinar ini kepada para fakir miskin di antara kalian.”

Karena sangat ingin bersedekah, Ummu al-Banin pun meletakkan uangnya di tempat orang-orang fakir dengan tulisan ”Aku sama sekali tidak akan iri pada seseorang kecuali pada orang yang mempunyai kebaikan. Karena itu saya sangat ingin untuk berbuat bersamanya dalam hal itu.”

Alkisah, suatu hari Ummu al-Banin bertemu dengan Katsir, suami Izzah binti Jamil. Lelaki itu berkata kepadanya, “Semua yang memiliki utang telah membayar utangnya sehingga dia terhindar dari orang yang memberi utang. Adapun Izzah menunda-nunda dan membuat susah orang yang memberi utang.”

Ketika bertemu dengan Izzah, Ummu al-Banin bertanya maksud perkataan Katsir. Bukannya menjawab, Izzah justru meminta maaf kepadanya. “Engkau harus mengatakan kepadaku,” kata Ummu al-Banin.

Izzah pun menjelaskan duduk perkara yang ia risaukan. “Aku menjanjikan suamiku satu ciuman. Dia mendatangiku, lalu aku merasa tidak senang dan tidak bisa memenuhi janjiku padanya.” Ummu al-Banin mengatakan, “Tunaikanlah janjimu padanya. Biar aku yang menanggung dosanya.”

Tidak diceritakan apakah nasihat itu benar-benar dilakukan oleh Izzah. Namun, belakangan Ummu al-Banin menyadari kesalahannya bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa pribadi orang lain. Ia bertobat dan meminta ampun kepada Allah Swt.. Ia juga membebaskan empat puluh budak karena kata-katanya itu.

Ummu al-Banin menangis hingga kerudungnya basah setiap kali teringat kejadian itu. “Kalau saja lidah ini kelu ketika aku mengatakannya,” sesalnya.

Seperti saudaranya, Ummu al-Banin juga memiliki pribadi yang tegas. Sorot matanya tajam membuat orang segan. Ummu al-Banin menjadi teladan dalam kesalehan, kedermawanan, dan keberanian melawan kebatilan. [MNews/Chs/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *