[News] “Pertemuan” RI-Israel di IISS, Sikap Politik Ambigu?

Menjalin hubungan dengan Israel berbahaya dan pengkhianatan kepada kaum muslimin.

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Al Jazeera, Selasa (23/11/2021), memberitakan adanya “pertemuan” Menhan Prabowo dengan Kuasa Usaha Israel untuk Bahrain, Itay Tagner, Sabtu (20/11), di sela-sela acara International Institute for Strategic Studies (IISS) Manama Dialogue atau Dialog Manama tentang keamanan regional (19-21 November 2021). Situs ini juga melansir dari Harian Israel, Yedioth Ahronoth, yang menggambarkan pertemuan itu sebagai hal tidak biasa, “Pembicaraan Tagner dengan menteri pertahanan negara Islam terbesar didokumentasikan, meskipun tidak ada hubungan resmi antara kedua negara,” tulisnya.

Harian Israel itu juga menuliskan bahwa ini pertemuan luar biasa, apalagi mengingat sejak bertahun-tahun tidak ada pertemuan publik antara perwakilan kedua negara. “Tentu tidak setinggi ini. Apalagi “kebijakan resmi” antara Indonesia dan Israel adalah untuk “mengabaikan” atau tidak menjalin hubungan resmi, tetapi ada hubungan perdagangan antara kedua negara melalui banyak saluran tidak langsung,” rilisnya.

The Times of Israel (20/11/2021) juga mengabarkan tidak ada rincian yang segera tersedia mengenai isi pertemuan tersebut. Hanya saja media ini menyebutkan para pejabat AS mengatakan pada awal tahun ini pemerintahan Trump telah menempatkan Indonesia dan Mauritania sebagai negara-negara Muslim berikutnya untuk menormalkan hubungan dengan Israel.

“Namun, Presiden Indonesia mencoba untuk meredam spekulasi pada saat itu dan mengatakan kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas bahwa negaranya tidak akan menormalkan hubungan dengan Israel sampai sebuah negara Palestina didirikan,” tulisnya.

Baca juga:  [Nafsiyah] Sikap Rasul Saw. pada Yahudi

Solusi Dua Negara

Sementara itu, Juru Bicara Menhan, Dahnil Azhar dalam @Dahnilanzar (21/11/2021) menegaskan bahwa pertemuan itu adalah papasan dan kebetulan bertemu di forum IISS. “Tidak ada pertemuan formal. Sikap Menhan terang mendukung rakyat Palestina dan Palestina Merdeka, dan jalan penyelesaian konflik dengan jalan damai,” twitnya.

Menhan Prabowo sendiri dalam forum tersebut mengatakan Indonesia mendukung resolusi damai yang mencakup solusi dua negara untuk Palestina. “Indonesia sangat bersedia melakukan semua yang kami bisa untuk meningkatkan prospek solusi tersebut,” ujarnya. (Kompas, 23/12/2021).

Implikasi Psikologis

Persoalan ini pun direspons pengamat politik Ustazah Fatma Sunardi. Menurutnya, pembicaraan di level apa pun dengan pejabat Israel akan memberi implikasi psikologis dukungan terhadap eksistensi Israel yang berarti pengkhianatan bagi perjuangan umat Islam global. “Indonesia harus waspada  pada setiap dialog bilateral maupun dialog multilateral semacam IISS,” jelasnya kepada MNews, Selasa (23/11/2021).

Apalagi, ia menuturkan Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentu  memiliki hubungan yang sangat erat dengan Timur Tengah. “Setiap komplikasi yang terjadi pada keamanan regional di kawasan ini, akan  dapat berpengaruh terhadap masyarakat akar rumput di Indonesia,” ujarnya.

Ia mengutip dari kitab Mafahim Siyasy li Hizbut Tahrir bahwa masalah Timur Tengah adalah tentang Islam, minyak, aspek strategis, dan keberadaan Israel yang telah merampas tanah rakyat Palestina, tanah kaum muslimin. “Jadi, jelas bagi umat Islam di negeri manapun termasuk Indonesia, masalah Israel adalah masalah penjajahan,” cetusnya.

Baca juga:  [News] Agresi ke Al-Quds Meningkat, Sikap Lancang Penjajah Yahudi

Ia menegaskan solusi Islam terhadapnya pun jelas, yakni mengusir Israel dari tanah Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada kaum muslimin. “Mencari solusi lain, di samping tidak akan menyelesaikan masalah konflik Israel-Palestina, juga akan  berimbas pada keamanan kawasan yang memburuk. Israel dengan dukungan Amerika itulah inti masalah kemanan kawasan Timur Tengah,” ulasnya.

Jangan Mendukung Israel

Karenanya, ia menggarisbawahi Indonesia melalui pejabat negara apa pun, termasuk Menteri Pertahanan, tidak boleh memberi dukungan apa pun pada langkah diplomatik yang melegalisasi penjajahan Israel.

“Jangan sampai konsensus yang disepakati malah menjadi kontribusi Indonesia dalam membangun solusi keamanan kawasan Timur Tengah yang membela kepentingan Israel. Menjalin hubungan dengan Israel berbahaya dan pengkhianatan kepada kaum muslimin. Bahkan, setiap dukungan pada Israel akan menghantarkan pada  murka Allah Swt.,” ungkapnya.

Ia menukil firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman setia (wali, pelindung atau pemimpin)mu; sebagian mereka adalah pelindung (pemimpin) bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman setia (wali, pelindung, atau pemimpin), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah : 51).

Baca juga:  Dalam Kecaman dan Kutukan, Netanyahu Senang Dikunjungi Yahya Staquf

Ambigu

Senada dengan itu, aktivis muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah kepada MNews menjelaskan, Indonesia secara formal memang mendukung kemerdekaan Palestina dan menentang kekerasan Israel. “Hanya saja, ini tidak bermakna Indonesia menentang pendudukan Israel karena secara konsensus global saat ini, perjuangan Palestina adalah memiliki negara merdeka dan Israel bisa menerimanya. Akibatnya, bisa berdampingan dengan ‘negara’ Israel, bukan mengusir Israel,” ungkapnya.

Ia menyatakan, Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, tetapi diakui nilai ekspor Indonesia ke Israel sangat besar yang kebanyakan melalui Singapura karena perwakilan Israel untuk urusan Asia Tenggara ini ada di Singapura.

“Jadi, ada ambigu sikap politik Indonesia terhadap Israel. Kalau mendukung Palestina dan menentang penjajahan Israel, mengapa masih membuka tangan untuk mendapat keuntungan besar dari sang penjajah?” tanyanya lugas.

Ia pun mengemukakan, Indonesia memang menyatakan tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel seperti Bahrain, dan lainnya, sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi di awal tahun saat bertemu Presiden Mahmoud Abbas. “Namun, Trump ketika itu tegas menyebut Indonesia dan Mauritania akan segera menyusul menormalisasi hubungan. Dengan situasi seperti ini, mestinya Indonesia bisa menegaskan posisinya pada Dialog Manama ini. Terlebih, ini forum tahunan membahas tantangan hankam di Timur Tengah,” tandasnya.[MNews/Ruh]

One thought on “[News] “Pertemuan” RI-Israel di IISS, Sikap Politik Ambigu?

  • 24 November 2021 pada 21:05
    Permalink

    Bagaimana sikap Indonesia-Israel memang ambigu, membenci tapi masih berhubungan dagang artinya masih mencari keuntungan. Harusnya israel itu dijauhi bukankah Alqur’an sudah memerintahkan untk tdk berteman dengannya apalagi sudah nyata2 mendzalimi umat islam di palestin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *