Menggapai Surga Allah dengan Rida Suami

Penulis:  Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA – Kita telah memahami bersama bahwa rida Allah bergantung kepada rida orang tua. Namun, setelah seorang perempuan menikah, rida suami justru berada di atas rida orang tua. Bahkan, Allah baru akan rida kepada seorang perempuan jika suaminya rida.

Seorang perempuan yang tidak mendapatkan rida suami niscaya tidak diterima ibadahnya. Sebaliknya, perempuan yang selalu mengharap rida suami, sama dengan mengharap rida Allah. Tentu balasannya adalah surga. 

Dari Ummu Salamah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

Perempuan mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya rida padanya, maka ia akan masuk surga.(HR Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854).

Maksud hadis ini adalah jika seorang perempuan beriman meninggal, lantas ia benar-benar memperhatikan kewajiban suaminya sampai suami tersebut rida dengannya, maka surga baginya.

Rida Suami Akan Membawa pada Surga Allah

Banyak sekali hadis yang menjelaskan hal ini. Di antaranya Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab, “Tentu saja, wahai Rasulullah.’”Nabi berkata, “Perempuan yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau rida.'” (HR Ath-Thabrani)

Hadis ini mengingatkan para istri agar selalu mengharap rida suami sebelum ia tidur. Seorang istri yang paham betul bahwa rida suami akan mengantarkannya ke surga Allah pasti akan berusaha menyejukkan hati suaminya. Terlebih lagi, lidah istri adalah sembilu bagi hati suami.

Benar bahwa menjalani kehidupan pernikahan bukanlah hal mudah, tetapi banyak juga menghadapi onak dan duri, serta berbagai rintangan dan tantangan dalam kehidupan suami istri. Kita perlu mencontoh Abu Darda dan istrinya ketika menghadapi kesulitan-kesulitan dengan kesabaran dan ketabahan. Keduanya saling rida terhadap pasangan.

Tariqh Damasyqus (70/151) dari Baqiyah bin Al-Walid menyebutkan bahwa Ibrahim bin Adham berkata, Abu Darda berkata kepada istrinya, Ummu Darda, “Jika kamu sedang marah, maka aku akan membuatmu jadi rida dan apabila aku sedang marah, maka buatlah aku rida. Jika tidak, maka kita tidak akan menyatu.” Kemudian Ibrahim berkata kepada Baqiyah, “Wahai saudaraku, begitulah seharusnya orang-orang yang saling bersaudara itu dalam melakukan persaudaraannya, kalau tidak begitu maka mereka akan segera berpisah.”

Pentingnya Rida Suami dalam Pandangan Islam

Pentingnya rida suami juga dipertegas dalam beberapa hadis Rasulullah saw.. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ibadah sunah sekalipun tidak akan ada pahalanya bagi seorang istri jika tidak minta rida suami. “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa (sunah), sedangkan suaminya ada, kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal memberi izin (kepada orang lain untuk masuk) ke rumahnya kecuali dengan seizin suaminya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Begitu tingginya maqam seorang suami bagi istri. Apabila suami murka bisa mengakibatkan tertolaknya salat sang istri. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Ada tiga kelompok yang salatnya tidak terangkat walau hanya sejengkal di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah). Orang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya, dan dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan).” (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian, penting sekali mendapatkan rida suami sebelum seorang istri memejamkan matanya. Tidurnya seorang istri sebelum meminta rida suami tidak akan jadi ibadah, meskipun ia membaca doa sebelum tidur. Bahkan, apabila suami murka bisa mengakibatkan tertolaknya salat sang istri. Wal iyyadzubillaah.

Bagaimana Meraih Rida Suami?

Rida suami yang saleh terhadap istrinya akan membawa istri kepada surga-Nya. Sebaliknya, tidak ridanya suami terhadap istri akan membawa istri kepada neraka-Nya. Al-Munawi rahimahullah dalam Faidhul Qodir berkata, “Suami adalah sebab yang memasukkan istri ke surga karena ridanya kepada istrinya, dan sebab yang memasukkannya ke neraka karena kemarahannya kepadamu, maka perbaguslah dalam mempergaulinya dan janganlah menyelisihi perintahnya yang bukan maksiat kepada Allah.” 

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk dapat meraih rida suami yang kelak akan mengantarkan pada surga-Nya?

1. Taat pada Suami

Jika seorang Istri ingin meraih rida suami dan mendapatkan pahala dari Allah Swt., seharusnya ia menjaga sikap dan menaati perintah suaminya selama tidak melanggar perintah Allah.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw., ‘Siapakah perempuan yang paling baik?’ Jawab beliau, ‘Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.'” (HR An-Nasai).

“Jika seorang perempuan selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada perempuan yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.’” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

2. Mensyukuri yang Suami Lakukan untuk Istrinya

Allah swt. memerintahkan setiap muslim untuk bersyukur, sebagaimana sabdanya, “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Abu Daud).

Janganlah sampai kita tergolong ke dalam firman Allah Swt., “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (berterima kasih).” (QS Saba’: 13)

Bahkan, Rasulullah saw. menekankan dalam hadis lain khusus untuk perempuan. Sabdanya yang artinya, “Diperlihatkan neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum perempuan, mereka kufur.” Sahabat bertanya, “Apakah disebabkan kufur mereka kepada Allah?” Rasul menjawab, “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada Istrinya selama setahun, kemudian Istrinya melihat sesuatu yang jelek pada suaminya, maka ia mengatakan, ‘Aku tak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.'” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra.)

Marilah kita sadari bahwasanya suami yang Allah anugerahkan kepada kita adalah sebuah nikmat besar. Perhatikanlah di sekeliling kita, tidak sedikit kaum perempuan yang mendambakan kehadiran seorang suami, tetapi belum juga mendapatkannya.

3. Menyenangkan Suami Saat Melihatnya

Seorang Istri ideal selalu tampak ceria, lemah lembut, dan menyenangkan suami. Jika suami pulang ke rumah setelah seharian bekerja, ia mendapatkan sesuatu yang dapat menenangkan dan menghibur hatinya. Jika suami mendapati Istrinya bersolek dan ceria menyambut kedatangannya, ia telah mendapatkan ketenangannya hakiki dari Istrinya.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.” (HR Ibnu Majah)

”Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah Swt., maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya selain istri salihah, yaitu taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, rida bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya ketika suaminya pergi.” (HR Ibnu Majah).

4. Tidak Menyakiti Suami, baik Lisan maupun Perbuatan

Jika melihat sikap atau perilaku pasangan yang tidak pas, alangkah baiknya kita rida terhadap akhlak yang lainnya dengan terus saling menasihati. Hal ini karena memang tidak ada sosok manusia sempurna. Ia memiliki kesalahan, keburukan, atau kekurangan di satu sisi, tetapi ia juga memiliki (banyak) kebaikan di sisi yang lain.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Janganlah seorang mukmin membenci  mukminat. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR Muslim)

Seorang Istri tidak boleh memanggil suami dengan kejelekan atau mencaci-makinya karena itu dapat menyakiti hati suami. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang Istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari para bidadari surga akan berkata, ‘Jangan engkau menyakitinya. Celakalah dirimu! Karena ia hanya sejenak berkumpul denganmu yang kemudian meninggalkanmu untuk kembali kepada kami.'” (HR Tirmidzi)

5. Melayani Semua Kebutuhan Suami

Istri wajib melayani semua kebutuhan suaminya. Hanya saja, tidak berarti seorang suami boleh bertindak semena-mena. Wajib baginya mempergauli istrinya dengan baik. Dalam hadis Rasulullah saw. bersabda, “Apabila suami mengajak Istrinya untuk memenuhi kebutuhannya, hendaklah Istri mendatanginya walau Istri sedang berada di dapur.” (HR Tirmidzi).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku akan berhias untuk istriku, sebagaimana ia berhias untukku. Aku suka jika ia menyampaikan secara bersih segala apa yang merupakan hakku atasnya sebagaimana aku menyampaikan secara bersih apa-apa yang menjadi haknya atasku.”

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan terhadapnya), maka penghuni langit murka kepadanya hingga suaminya rida kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Khatimah

Telah demikian jelas Islam memberikan tuntunannya kepada kita semua. Hal ini yang akan menjadi bekal bagi para istri untuk bisa menjadi istri salihah untuk mendapat rida suami yang kelak akan mengantarkan pada surga.

Wahai para istri salihah, mari kita jadikan bakti kita kepada suami berbalas rida Allah dan melakukannya dengan niat ikhlas karena Allah. Selalu berusaha sungguh-sungguh dengan cara yang baik sehingga kita mendapatkan rida suami, maka Allah pun akan rida terhadap kita. Insyaallah. Aamiin yaa mujiibas saailiin. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *