[Fikrul Islam] Iman Kepada Allah

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM – Rukun-rukun akidah yang dibuktikan dengan dalil ‘aqli ada tiga, yaitu iman terhadap eksistensi Allah, iman bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, dan iman bahwa Muhammad utusan Allah.

Dengan Al-Qur’an, Allah telah membimbing manusia kepada jalan yang dapat membuat manusia memahami atau menyadari keberadaan Allah Swt.. Allah telah memerintahkan manusia untuk memperhatikan, dengan berfirman,

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِق

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.” (QS Ath Thaariq[86]: 5)

Firman Allah,

 اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ – ١٧ وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ – ١٨ وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ – ١٩

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung bagaimana ia ditegakkan?” (QS Al-Ghaasyiah[88]: 17-19)

Allah Swt. juga memerintahkan Rasulullah ﷺ agar beliau mengajak manusia memperhatikan hal itu, dengan firman-Nya,

 فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ

“Maka berikanlah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS Al Ghaasiyah[88]: 21)

Beliau ﷺ juga diminta untuk mendorong manusia agar melakukan ekspedisi penelitian dan memperhatikan yang ada di sekitarnya, dengan firman Allah Swt.,

Baca juga:  Kesalahan Yahudi dan Nasrani

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَاَ الْخَلْقَ…

“Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi dan perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya…'” (QS Al-‘Ankabuut[29]: 20)

Dengan jalan mengamati dan memperhatikan, maka dengan akalnya, manusia akan sampai kepada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang ada (maujud), pasti ada Pencipta yang menciptakan sesuatu yang ada tersebut. Sebab, tatkala manusia mengamati alam semesta, ia akan berkesimpulan bahwa alam semesta itu terbatas (al-mahdud). Ia juga akan berkesimpulan bahwa alam semesta ini berjalan teratur dengan sebuah aturan yang kompleks. Sedangkan sesuatu yang terbatas (mahdud) dan teratur (munadzam) pasti membutuhkan pihak yang “membatasi” dan mengaturnya. Walhasil, alam semesta ini diciptakan oleh Allah Swt..

Demikian pula jika ia mengamati manusia dan kehidupan, ia akan berkesimpulan bahwa keduanya memiliki keterbatasan pula. Manusia—sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya menurut jangkauan pancaindra—kenyataannya bersifat terbatas, lemah, dan butuh kepada yang lain.

Umur dan tubuhnya terbatas. Sehingga agar tetap bisa mempertahankan hidupnya, ia membutuhkan unsur yang lain. Misalnya, ia butuh kepada makanan, air, dan udara. Dengan demikian, manusia pun diciptakan oleh Allah Swt..

Iman kepada Allah akan tercapai melalui jalan akal. Sedangkan keimanan kepada sifat-sifat Allah dan asmaulhusna dapat dicapai melalui jalan naqli, yaitu wahyu Allah Swt.. Sifat-sifat Allah dan asmaulhusna, yaitu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Firman Allah Swt.,

Baca juga:  Fenomena Murtad, Akibat Kemiskinan atau Pemiskinan?

 هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ – ٢٣  هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ- ٢٤

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Penguasa, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Maha Pemberi Keamanan, Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, yang memiliki segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik (asmaulhusna). Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Hasyr: 23-24) [MNews/Rgl]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *