Khitan Sesuai Syariat Islam Tidak Berdampak Buruk bagi Perempuan

Penulis: Rahmah

MuslimahNews.com, FOKUS — Pelarangan sunat perempuan gencar kembali. Pemotongan dan pelukaan genitalia perempuan (P2GP) atau sunat perempuan dianggap sebagai salah satu bentuk kekerasan berbasis gender.

“Praktik P2GP yang berkembang hingga hari ini bukan merupakan tindakan kedokteran karena pelaksanaannya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mengutip keterangan pers Jumat (19/11/2021). (Liputan 6.com)

Sinta Nuriyah Wahid menegaskan P2GP tidak memberikan efek positif, sebaliknya dapat memberi efek buruk pada perempuan. Menurutnya, ketakbolehan mengkhitan perempuan bisa berangkat dari dalil saddu adz-dzari’ah, yaitu menutup peluang bagi timbulnya sebuah kemudaratan. Dalam Islam, melukai tubuh itu kemudaratan sehingga tidak diperbolehkan. (Liputan6.com)

Seruan Pegiat Kesetaraan Gender

Sesungguhnya, mereka melarang sunat perempuan karena mengikuti seruan pegiat kesetaraan gender yang merujuk hasil Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo, Mesir pada1994. WHO telah melarang praktik sunat perempuan dan menganggapnya melanggar HAM dengan alasan merusak dan membahayakan organ reproduksi perempuan. WHO tegas mengeluarkan pedoman baru yang mengatakan mutilasi alat kelamin perempuan merupakan pelanggaran HAM. (IDN Times, 2018)

Menurut WHO, terdapat beberapa metode dalam sunat perempuan: Clitoridectomy, pemotongan sebagian atau seluruh klitoris, atau selaput di atasnya; Excision, pemotongan sebagian atau seluruh klitoris dan/atau labia minora dengan atau tanpa memotong labia majora. Infibulation, mempersempit lubang vagina dengan selaput penutup, dengan memotong atau mengubah bentuk labia majora dan labia minora, sedangkan klitoris tidak tersentuh sama sekali. Tindakan lain adalah melukai vagina tanpa tujuan medis. (idntimes.com)

WHO menyamakan khitan perempuan dengan Female Genital Cutting (FGC) atau Female Genital Mutilation (FGM), yaitu seluruh prosedur yang menghilangkan secara total atau sebagian dari organ genitalia eksternal atau melukai pada organ kelamin wanita karena alasan nonmedis, termasuk pemotongan dan pelukaan genitalia perempuan (P2GP).

Praktik yang Salah

FGM merupakan tradisi penyunatan di Afrika yang sangat ekstrem dengan menggunakan silet, pecahan kaca, atau gunting. Penyunatan mencakup pemotongan alat kelamin perempuan. Organ klitoris dan alat kelamin luar dipotong, kemudian dijahit.

Lembaga PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF, mengatakan lebih dari 125 juta perempuan di 29 negara di Afrika dan Timur Tengah menjalani tradisi sunat. Akibat tradisi ini menimbulkan sakit yang luar biasa, pendarahan, perasaan terguncang, dan dapat menyebabkan komplikasi saat melahirkan. (cnnindonesia.com)

WHO melarang FGM, yaitu pemotongan dan pelukaan genitalia perempuan atau sunat perempuan karena praktik khitan yang salah seperti di Afrika yang memotong hampir seluruh atau seluruh alat kelamin perempuan yang berakibat buruk pada kesehatan perempuan. Di samping itu, mereka akhirnya tidak bisa merasakan nikmatnya berhubungan suami istri, bahkan merasa kesakitan.

Baca juga:  Kapitalisme Menempatkan Perempuan Sekadar Bumper Kemiskinan

Negara-negara anggota PBB pun mengikuti pelarangan tersebut. Praktik sunat perempuan dengan memotong hampir seluruh atau seluruh alat kelamin, bahkan setelah pemotongan ada yang dijahit seperti ini bukan berasal dari Islam.

Dalam Islam, cara mengkhitan perempuan menurut Imam Al Mawardi adalah memotong sebagian kecil kulit yang menutupi klitoris atau bagian atas farjinya. Kulit bagian atas yang harus dipotong tanpa mencabutnya ataupun tanpa menghilangkan klitorisnya.

Rasulullah saw. memerintahkan kepada tukang khitan perempuan, Ummu ‘Athiyah ra. sebagai berikut,

لاَ تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْل

Jangan berlebihan dalam mengkhitan karena akan lebih nikmat (ketika berjimak) dan lebih disukai suami.” (HR Abu Dawud).

Dengan demikian, jelas praktik sunat perempuan yang salah bukanlah berasal dari dari ajaran Islam. Oleh karena itu, tidak ada alasan menggeneralisasi kasus ini sehingga melarang sunat perempuan secara umum.

Perlu kita pahami bahwa semua yang berasal dari ajaran Islam akan membawa kebaikan bagi pelakunya karena aturan Islam–termasuk khitan–berasal dari Allah yang menciptakan manusia. Tentu Allah yang paling mengetahui dan memahami kebaikan dari syariat khitan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

 Hukum dan Maslahat Khitan bagi Perempuan

Para ulama berbeda pendapat berkaitan dengan khitan perempuan. Pertama, sebagian ulama Mazhab Maliki (Imam Syafii dan Imam Ahmad) mewajibkan khitan, baik bagi pria maupun wanita. Dalilnya antara lain QS An-Nahl: 123,

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.'”

Sabda Rasulullah saw.,

إذ ا جاوز الختان الختان فقد وجب الغسل

“Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (Hadis sahih riwayat Imam Ahmad dalam Musnad Hadis no. 24709; HR Muslim, Al-Hadis 88/ 349; Imam Malik dalam kitab Al-Muwatha’, hlm. 38).

Baca juga:  Perempuan dan Khilafah Tanpa Gender Equality

Sabda Rasulullah saw.,

الق عنك شعر الكفر واختتن

“Buanglah rambut kekafiranmu dan berkhitanlah.” (HR Ahmad dalam kitab Muhtashar Nailul Authar/I/98)

Kedua, berkhitan wajib bagi laki-laki dan sunah bagi wanita. Ini pendapat sebagian penganut dan pendukung ulama Mazhab Syafii. Mereka berargumentasi tidak ada dalil yang terdapat tuntutan yang tegas atau pasti. Dalil yang ada adalah tuntutan tidak pasti/tidak tegas. Dengan demikian, sunat perempuan hukumnya sunah, tidak wajib.

Ulama yang berpendapat khitan perempuan hukumnya sunah juga berargumentasi bahwa Ibnu Taimiyah ra. menjelaskan tujuan khitan laki-laki adalah untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala penis, dan suci dari najis adalah syarat untuk melakukan ibadah salat. Sementara tujuan khitan perempuan adalah untuk menstabilkan syahwatnya karena apabila wanita tidak khitan, maka syahwatnya sangat besar.” (Majmu’ Fatawa 21/114).

Dari dua pendapat di atas, yang lebih kuat pendapat yang mengatakan bahwa khitan bagi perempuan hukumnya sunah, karena beberapa hal:

Tidak ada dalil dengan tuntutan yang tegas atau pasti. Dalil yang yang ada adalah tuntutan tidak pasti/tidak tegas. Dengan demikian sunat perempuan hukumnya sunah, tidak wajib.

Hadis sahih:

الق عنك شعر الكفر واختتن

Buanglah rambut kekafiranmu dan berkhitanlah.” Dhamir ”ك-ka” pada “عنك” menunjukkan kata ganti laki-laki. Jadi, yang diseru berkhitan dalam hadis ini adalah laki-laki.

Ibnu Taimiyah ra. menjelaskan tujuan khitan laki-laki adalah untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala penis, dan suci dari najis itu syarat untuk melakukan ibadah salat. Sementara, tujuan khitan perempuan adalah untuk menstabilkan syahwatnya, bukan untuk melakukan ibadah wajib, yaitu salat sebagaimana laki-laki.

Terlepas dari perbedaan ulama tentang hukum khitan bagi perempuan, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa khitan perempuan itu ajaran Islam–ajaran Allah dan Rasul-Nya. Setiap ajaran Islam pasti membawa maslahat bagi umatnya. Dengan demikian pelaksanaan sunat perempuan akan membawa maslahat/rahmat/solusi.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Anbiya’: 107,

{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ]

“Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dalam kitab Syakhshiyah Islamiyah Juz III, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut:

فكون الرسول رحمة وكون القراءن شفاء ورحمة كل ذالك يدل على ان الشريعة جاءت رحمة للعباد الا كون الشريعة جاءت رحمة هو النتيجة التى تترتب على الشريعة.

Baca juga:  Ilusi 'Perkawinan' antara Perempuan dan Ekonomi Digital

“Maka adanya rasul adalah rahmat, adanya Al-Qur’an adalah obat (solusi) dan rahmat. Semuanya itu menunjukkan bahwa sesungguhnya syariat mendatangkan rahmat (maslahat), yaitu hasil yang diperoleh atas pelaksanaan syariat.”

Dengan demikian, kesimpulannya bahwa praktik sunat perempuan yang salah, yaitu memotong sebagian besar atau bahkan sampai pada klitorisnya. Ini membahayakan kesehatan perempuan dan menyebabkan kesulitan dalam menikmati berjimak, bahkan sampai membencinya.

Praktik salah ini bukan berasal dari ajaran Islam karena cara mengkhitan perempuan yang sesuai ajaran Islam hanya memotong sebagian sangat kecil kulit yang menutupi klitoris, seperti melukai kecil. Sunat perempuan sesuai ajaran Islam ini tidak membahayakan kesehatan, bahkan untuk kemaslahatan perempuan.

Mengharamkan Hanya dengan Dalil Syar’i

Generalisasi hukum pelarangan khitan perempuan tanpa memandang bagaimana syariat mengaturnya adalah suatu kesalahan fatal. Hal ini karena pengharaman atau pelarangan diterapkannya suatu hukum syarak membutuhkan adanya dalil yang bersifat jazm (pasti).

Perkataan Sinta Nuriyah bahwa tidak diperbolehkannya mengkhitan perempuan yang bisa berangkat dari dalil saddu adz-dzari’ah–yaitu menutup peluang bagi timbulnya sebuah kemudaratan sedangkan melukai tubuh itu kemudaratan–adalah ucapan yang jauh panggang dari api.

Tidak semua perbuatan melukai tubuh adalah kemudaratan. Sebagaimana khitan laki-laki, ini juga merupakan bentuk melukai, tetapi tidak dapat menghukuminya haram, bahkan hukumnya adalah wajib.

Dengan demikian, suatu masalah tidak dapat dihukumi haram kecuali syarak memang menetapkannya haram. Kaidah saddu adz-dzari’ah adalah salah satu kaidah yang menjadi dalil bagi sebagian ulama, tetapi sebagian lagi menolaknya. Hal ini karena ukuran mafsadat adalah relatif bagi satu manusia dan manusia yang lain.

Selain itu, kita meyakini bahwa segala yang Allah perintahkan atau anjurkan pasti mengandung maslahat sekalipun kita tidak mampu merasakannya secara langsung. Sedangkan segala yang Allah haramkan pasti membawa mafsadat.

Mencermati hal ini, maka hukum khitan perempuan yang sesuai tuntunan syariat Islam sama sekali tidak bisa diharamkan. Yang haram adalah praktik khitan berlebihan semacam FGM. Dengan demikian, menyamakan hukum antara keduanya adalah tindakan yang menyalahi kaidah usul fikih, serta menolak sunah Rasulullah saw.. Wallahualam. [MNews/Gz]

2 komentar pada “Khitan Sesuai Syariat Islam Tidak Berdampak Buruk bagi Perempuan

  • 24 November 2021 pada 05:12
    Permalink

    Assalamu’alaikum…..
    Ustadzah, untuk menguatkan opini tentang khitan perempuan, mohon dishare juga riwayat khitan putri Rasulullah dan khitan putri-putri para sahabat….

    Balas
    • 6 Desember 2021 pada 13:30
      Permalink

      Syukron katsir, insyaallah usulannya sudah diteruskan.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *