[Editorial] Isu Terorisme, Umat Harus Cerdas!

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Hari-hari terakhir ini jagat maya diramaikan tagar #BubarkanMUI dan #BubarkanDensus88. Dua tagar ini muncul berkenaan dengan peristiwa penangkapan tiga orang ustaz oleh Densus 88.

Seperti biasa, alasannya mudah tertebak. Mereka bertiga diduga terlibat jaringan terorisme. Yang istimewa, dua di antaranya adalah anggota Komisi Fatwa MUI Pusat dan MUI Bekasi, maka disebutlah MUI sarang teroris dan kemudian muncul gagasan pembubaran.

Di pihak lain, sebagian masyarakat memandang peristiwa ini sarat politik kepentingan. Densus 88 dianggap terlalu berlebihan. Bahkan, muncul dugaan, MUI memang sedang ‘dibersihkan’. Maklum, masih banyak ulama di lembaga itu yang berani menunjukkan sikap berseberangan dengan penguasa.

Lagu Lama

Tak dimungkiri, arah kebijakan penguasa di dua periode terakhir ini memang kian liberal dan sangat pro kepentingan pemodal. Pandemi yang berlarut nyatanya tak menghentikan ambisi duet penguasa-pengusaha untuk mengambil untung dari rakyatnya.

Tengok saja, layanan publik kian lumrah diperdagangkan. Aset strategis milik rakyat pun terus diobral. Rakyat dicekik dengan berbagai pungutan. Sementara investor asing dan kapitalis lokal dimanjakan dengan Undang-Undang Cipta Kerja.

Tidak heran jika kondisi masyarakat benar-benar kian terpuruk. Hidup sejahtera makin jauh dari harapan. Pada saat yang sama, ketakadilan pun terus-menerus dipertontonkan.

Situasi ini membuat sikap kritis masyarakat tidak bisa dibendung. Semua yang dirasa mereka ekspresikan secara terbuka. Media sosial pun menjadi ruang bebas merdeka. Curahan kekesalan, bahkan rasa marah pada penguasa, berseliweran di lini masa.

Terlebih lagi, di era keterbukaan, berbagai info bisa diakses dengan mudahnya. Semua laku penguasa terekam dan dengan mudah dibaca arahnya kemana. Tak ada lagi yang bisa direkayasa. Rakyat menjadi pintar dengan sendirinya.

Baca juga:  [News] Intoleransi dan Radikalisme Meningkat di Momen Politik, Mendesak Ditangani?

Di pihak lain, dakwah politik makin mendapat tempat di hati umat. Makin banyak para ulama dan aktivis dakwah yang lantang bersuara. Mengingatkan umat dan penguasa tentang buruknya hidup dalam sistem sekuler yang menyalahi titah Rabbnya.

Maka kegalauan umat pun tak lagi hanya berbasis perasaan saja. Tumbuh di benak mereka kesadaran ideologis akan rusaknya sistem kapitalisme neoliberalisme yang diterapkan. Pada saat yang sama, tumbuh pula keinginan melakukan perubahan ke arah Islam.

Wajar jika ada pihak-pihak yang merasa terancam. Berbagai cara dipasang untuk menjauhkan umat dari jalan perjuangan. Spirit ideologi mulai berusaha dilemahkan, baik dengan cara halus maupun kasar.

Proyek global melawan teror dan moderasi Islam akhirnya terus diarusderaskan. Lagu lama radikalisme pun terus digaung-gaungkan. Tak ada satu pun entitas masyarakat yang luput jadi sasaran.

Target utamanya tak lain adalah deideologisasi dan pelemahan spirit perjuangan Islam. Umat hendak dipecah belah dalam ragam pemikiran. Kriminalisasi ulama, ustaz, aktivis, dan jemaah dakwah pun berjalan secara legal. Dan itu berlangsung hingga sekarang.

Perang Istilah

Sejatinya, “terorisme” bukan istilah baru. Narasinya dikampanyekan pertama kali oleh intelijen Amerika Serikat pada 70-an. Tujuannya menyerang kelompok-kelompok yang mengancam kepentingan politik penguasa AS saat itu.

Lalu tahun 2001 AS menggunakannya untuk membendung fenomena kebangkitan Islam. Peristiwa WTC dijadikan starting point mengajak dunia bersama-sama melakukan perang global melawan terorisme (GWOT) yang tidak lain tertuju pada Islam.

Dengan kekuatan politik dan ekonomi yang dimilikinya, AS berhasil menarik dukungan, termasuk dari para penguasa muslim di seluruh dunia. Berbagai rekayasa dan propaganda terus dilakukan agar seluruh dunia percaya bahwa kebangkitan Islam membahayakan dunia.

Baca juga:  Sertifikasi Dai dan Deradikalisasi

Inilah yang sedang berlaku hingga sekarang. Seluruh kekuasaan di dunia berdiri di belakang Amerika. Mereka menjadikan gerakan kebangkitan Islam sebagai musuh bersama. Juga menempatkan pengusungnya sebagai musuh negara.

Dengan cara demikian, Amerika dengan sekutu dan para pembebeknya hendak menutup mata dunia akan kebobrokan sistem yang ditegakkannya. Mereka tak ingin hegemoni kapitalisme global, yang menguntungkan mereka, runtuh begitu saja oleh kekuatan ideologi Islam.

Sayangnya tak sedikit umat yang termakan propaganda Amerika. Lalu turut menuding Islam sebagai biang kehancuran peradaban, hanya dengan isu ISIS dan aksi-aksi teroris ciptaannya. Hingga mereka turut memandang curiga pada orang-orang dan kelompok yang berjuang menyelamatkan umat dengan menghadirkan Islam di kancah kehidupan.

Mereka sambut proyek-proyek deideologisasi Islam dengan penuh suka cita tanpa menyadari bahayanya. Di antaranya proyek deradikalisasi dan moderasi Islam yang direkomendasikan lembaga thinktank Amerika, Rand Corporation.

Pada saat yang sama, agenda penjajahan melalui penyempurnaan liberalisasi ekonomi berjalan makin kencang. Sementara antek-antek penjajah di negeri-negeri Islam saling berebut kesempatan meraih untung yang lebih besar.

Umat Jangan Terjebak

Umat semestinya paham, bahaya yang mengancam tidak datang dari Islam. Buruknya kondisi yang mereka hadapi sekarang justru diakibatkan tegaknya sistem kapitalisme global, serta hadirnya para penguasa antek yang menyukseskan agenda penjajahan.

Umat pun semestinya paham bahwa Islamlah jalan keselamatan. Karena Islam adalah sistem hidup yang menyolusi seluruh problem kehidupan. Aturannya dipastikan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman,

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Baca juga:  [Editorial] Rezim Represif Telah Kembali

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)

Maka semestinya mereka tak terjebak propaganda melawan Islam. Termasuk dengan munculnya narasi terorisme yang terus ditujukan untuk memojokkan Islam. Juga narasi lain yang di-setting untuk menjauhkan umat dari keinginan kembali hidup dalam sistem Islam, sebagaimana mainstreaming gagasan moderasi Islam.

Islam tak mungkin tegak dengan baik jika diperjuangkan melalui jalan kekerasan. Karenanya terorisme jelas bukan dari Islam dan bukan jalan menegakkan Islam. Kemunculannya adalah fitnah keji demi menghadang kebangkitan Islam sekaligus melanggengkan agenda penjajahan.

Saatnya umat berjalan bersama para pejuang yang berjalan di atas minhaj dakwah Rasulullah saw.. Yakni mereka yang konsisten melakukan pembinaan tanpa kekerasan, mengukuhkan akidah umat, dan memahamkan mereka dengan syariat Islam secara kafah.

Umat tak boleh gentar dengan narasi buruk tentang Islam. Apalagi ikut-ikutan menyingkirkan Islam dan menjauhi perjuangannya. Karena justru di sanalah jalan keluar dari semua keburukan yang menimpa mereka. Sekaligus kunci kembalinya kemuliaan mereka di hadapan umat manusia, termasuk musuh yang tersembunyi maupun nyata.

Allah Swt. berfirman,

 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran: 110) [MNews/SNA-Rgl]

One thought on “[Editorial] Isu Terorisme, Umat Harus Cerdas!

  • 23 November 2021 pada 22:11
    Permalink

    Umat Islam jangan termakan dan kagum oleh ide²,konsep hidup,gaya hidup dari barat karena hal itulah yg mereka inginkan agar Umat Islam pakai an ya tetap islami tetapi isi kepalanya/ pemikirannya secular, leberal

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *