Ummu Sinan al-Aslamiyah, Mujahidah Pencinta Akhirat

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Quraisy, Anshar, Juhainah, Aslam, Asyja, dan Ghifar adalah para budak. Mereka tidak memiliki tuan lain selain Allah dan Rasul-Nya.” Selain itu, dalam riwayat lain, Rasulullah saw. juga bersabda, “Aslam dibaguskan oleh Allah, Ghifar diampuni oleh Allah. Aku tidak mengatakan hal ini, tetapi Allah Swt. yang mengatakannya.’

Inilah gambaran kemuliaan yang ditunjukkan Rasulullah saw. terhadap suku dan kabilah-kabilah tersebut. Di antara suku atau kabilah itu ada kabilah Aslam. Bahkan, kabilah Aslam merupakan salah satu kabilah yang paling disukai Rasulullah saw.. Hal ini tidak terlepas dari ketaatan dan ketundukan mereka saat memeluk Islam. Salah satu nama shahabiyah yang cukup terkenal dari kabilah Aslam adalah Ummu Sinan al-Aslamiyah.

Ummu Sinan rela meninggalkan desa kelahirannya dan bergabung bersama rombongan kabilah Aslam untuk mengucapkan janji setia kepada Rasulullah saw. di Madinah. Seperti layaknya orang-orang dari kabilah Aslam, Ummu Sinan juga memiliki kemampuan dalam menunggang kuda dan paham seni peperangan.

Ummu Sinan al-Aslamiyah adalah seorang mujahidah yang mulia. Ia juga seorang shahabiyah (sahabat wanita) yang mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah, baik dalam keadaan aman maupun jihad. Dalam kesehariannya, Ummu Sinan senantiasa mematuhi segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Bagi dia, memperjuangkan agama Allah termasuk kewajiban setiap muslim.

Baca juga:  Khaulah binti Azwar al-Kindi, Bidadari Besi yang Berani

Pada saat Rasulullah dan kaum muslimin akan berangkat ke Khaibar. Ummu Sinan mendatangi Rasulullah dan memohon izin untuk turut berjihad. “Wahai Rasulullah, aku akan berangkat bersamamu menghadapi musuh. Aku bisa memberi minum orang yang kehausan, mengobati orang-orang sakit dan terluka,” ujarnya.

Rasulullah pun mengizinkannya turut berjuang. “Baiklah, berangkatlah kau dengan barakat Allah. Kau juga mempunyai beberapa rekan yang akan turut serta. Aku telah mengizinkan mereka dari kalangan wanita dan beberapa orang lainnya dari kaummu. Terserah kau, apakah kau ikut bersama kaummu atau ikut rombongan kami?” kata Rasulullah.

Ummu Sinan menjawab, “Aku akan beserta rombonganmu.”

“Baiklah, kau berangkat bersama Ummu Salamah, istriku,” kata Nabi saw..

Maka berangkatlah Ummu Sinan bersama Ummu Salamah menuju medan Perang Khaibar. Dia memiliki wawasan yang luas berkenaan dengan peran wanita ketika berada di tengah-tengah barisan para mujahidin.

Salah satu perannya adalah memberi minum para prajurit yang terluka dan mengobati mereka yang cedera. Tidak hanya pandai merawat orang, Ummu Sinan mahir pula dalam berperang dan menunggang kuda.

Berkat peran dan kontribusinya dalam jihad, tidak jarang Ummu Sinan mendapatkan harta rampasan perang. “Ketika penaklukan Khaibar, Rasulullah mengucurkan sebagian harta rampasan perang. Beliau memberiku untaian kalung berwarna merah dan perhiasan dari perak yang didapat dari harta rampasan perang. Beliau juga memberiku kain beludru dan selimut dari Yaman serta kuali dari kuningan,” tuturnya.

Baca juga:  Khaulah binti Azwar al-Kindi, Bidadari Besi yang Berani

Setelah penaklukan Khaibar, Ummu Sinan pulang bersama Ummu Salamah. Ia mengendarai unta milik Nabi. Ketika hampir masuk Kota Madinah, Ummu Salamah berkata kepadanya, “Unta yang engkau tunggangi adalah milikmu, Rasulullah telah memberikannya kepadamu.”

Demikian pula, ketika meletus Perang Tabuk pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah. Rasulullah menyeru dan mengimbau kaum muslimin untuk berjihad dan mengeluarkan sedekah untuk biaya peperangan. Kaum muslimin laki-laki berlomba-lomba menafkahkan harta semampu mereka.

Kaum wanita juga demikian, mereka mengirimkan apa yang sanggup mereka sumbang. Tidak terkecuali Ummu Sinan. Dia juga berkontribusi besar dalam Perang Tabuk, sebagaimana para muslimah yang lain.

“Aku menyaksikan kain terbentang di hadapan Rasulullah di rumah Aisyah, Ummul Mukminin. Di atas kain tersebut terdapat gelang, kalung, dan cincin. Dan para wanita pembantu dikirimkan untuk membantu para prajurit mempersiapkan segala perlengkapannya,” kata Ummu Sinan, mengenang persiapan Perang Tabuk.

Selain itu, Ummu Sinan juga memiliki keutamaan dalam meriwayatkan dan menghafal hadis dari Rasulullah. Beberapa orang dan anak perempuannya, Tsabitah binti Hantalah al-Aslamiyah, juga meriwayatkan hadis dari Ummu Sinan.

Ummu Sinan adalah mujahidah pencinta akhirat. Ia tidak segan-segan meninggalkan urusan duniawi demi menggapai kemuliaan di akhirat. Ia termasuk wanita yang namanya diabadikan dalam sejarah Islam. [MNews/Chs]

Baca juga:  Khaulah binti Azwar al-Kindi, Bidadari Besi yang Berani

Sumber: Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *