Abrahamisme, Mengapa Harus Ditolak

Penulis: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS TSAQAFAH Imam besar Al Azhar, Ahmad Ahmed al-Tayyeb, menolak keras seruan untuk menggabungkan tiga agama besar, yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen dalam sebuah keyakinan bernama Abrahamisme. Menurut Ulama asal Mesir itu, konsep dan seruan Abrahamisme bertentangan dengan nilai kebebasan dan berkeyakinan.[1]

Selain itu, salah satu yang mendasari penolakannya adalah seperti berusaha menghilangkan akar konflik yang selama ini terjadi. Konflik yang kerap memakai agama ini terjadi karena tafsir keras terhadap agama (radikalisme-pen.)[1]

Sepintas, tidak ada yang salah dari pernyataan Imam Tayyeb. Ide penyatuan agama memang harus kita tolak. Akan tetapi, jika kita mencermati lebih lanjut, pemikiran ulama Mesir ini sangat kental dengan ide pluralisme ketika ia menyebut alasan penolakan penggabungan tiga agama ini karena bertentangan dengan kebebasan beragama.

Ini artinya ia berpendapat bahwa semua agama benar sehingga setiap manusia seharusnya mendapat kebebasan untuk beragama sesuai keyakinannya. Menurutnya, penyatuan agama akan menghilangkan hak kebebasan beragama. Karena semua agama itu benar, maka tidak perlu dipersatukan, yang penting adalah diatur agar tidak muncul konflik.

Islam dan Kebebasan Beragama

Tidak aneh jika Syekh Tayyeb memiliki pendapat seperti itu. Sebagaimana kita ketahui, ia adalah salah satu ulama dunia yang sangat gencar mengaruskan kebebasan beragama dan dialog lintas agama. Sebelumnya, ia bersama Paus Fransiskus menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia yang juga terkenal sebagai Deklarasi Abu Dhabi di Uni Emirat Arab. Dokumen ini menggarisbawahi nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan kebebasan beragama.[2]

Memang benar, tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam (lihat QS Al-Baqarah [2]: 256). Islam juga mengajarkan bertoleransi terhadap pemeluk agama lainnya (lihat QS Al-Kafirun [109]: 1—6). Akan tetapi, Islam tidak mengakui kebenaran agama-agama lain. Islam adalah satu-satunya agama yang benar, sedangkan agama yang lain salah.

Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran [3]: 19)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, ayat ini adalah berita dari Allah Swt. yang menyatakan tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul yang diutus Allah Swt. pada setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad saw. yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditempuhnya.

Baca juga:  Toleransi Bablas dalam Bingkai Pluralisme dan Semangat Moderasi Beragama

Karena itu, barang siapa yang menghadap kepada Allah—sesudah Nabi Muhammad saw. diutus—dengan membawa agama selain Islam, maka Allah tidak akan menerimanya.

Seperti dalam firman-Nya yang lain, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya.” (QS Ali ‘Imran [3]: 85)—hingga akhir ayat.

Dengan demikian, jelas bahwa ide kebebasan beragama sangat bertentangan dengan Islam. Penyatuan Islam dengan agama lainnya memang harus kita tolak, tetapi tidak seharusnya alasan penolakannya karena bertentangan dengan kebebasan beragama yang notabene konsep turunan dari pluralisme. Sudah seharusnya kita menolak penyatuan agama dari sudut pandang Islam, bukan yang lain.

Abrahamisme Gagasan Absurd

Abrahamisme adalah sebuah gagasan absurd, tidak mungkin terealisasikan. Tidak mungkin bisa menyatukan tiga agama hanya karena sama-sama mengakui Nabi Ibrahim, sementara perbedaan di antara ketiganya sangatlah banyak.

Islam mengajarkan tauhid, sementara Yahudi dan Nasrani sebaliknya. Agama Nasrani mengajarkan untuk menyembah Isa bin Maryam—yang mereka anggap sebagai anak Tuhan. Sementara agama Yahudi menganggap Uzair sebagai putra Tuhan. Allah menyebut mereka sebagai orang-orang kafir.

“Dan orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putra Allah,’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Almasih itu putra Allah.’ Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknati mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At-Taubah [9]: 30).

Di antara ketiga agama tersebut, Allah telah menjadikan Islam sebagai standar bagi agama lainnya karena hanya Islam agama yang benar. Kitab suci Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw., Allah nyatakan sebagai Kitab yang mengalahkan (muhaimin ) Kitab kitab suci lainnya. Alllah berfirman

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan mengalahkannya.” (QS Al-Maidah [5]: 48).

Kata “muhaiminan ‘alaihi” di ayat tersebut memiliki makna “musaithiran ‘alaihi” (mengalahkan) yang berarti bahwa Al-Qur’an Allah turunkan untuk menindih ajaran sebelumnya. Oleh karena itu, apabila ada di antara ajaran sebelumnya yang diterima, maka bukan sebagai ajaran terdahulu, melainkan karena kebenaran Al-Qur’an. Ayat inilah yang menjadi alasan para ulama tentang kedudukan Islam sebagai penghapus (an-naasikh) bagi agama sebelumnya.[4]

Baca juga:  [News] Pluralisme Agama Melahirkan Generasi yang Rancu Berpikir

Bagaimana bisa kemudian Islam digabungkan dengan agama-agama lain, sementara kedudukan Islam adalah penghapus agama sebelumnya? Agama-agama di luar Islam tersebut juga telah Allah nyatakan sebagai ditolak (lihat QS Ali Imran [3]: 85, hanya Islam yang diterima), tidak diridai (lihat QS Ali Imran [3]: 19, hanya Islam yang diridai), dan tentu saja kufur (lihat QS Al-Bayyinah [98]: 1; Al-Maidah [5]: 72—73 ).

Abrahamisme Harus Kita

Dalam sudut pandang Islam, Abrahamisme harus ditolak karena bertentangan dengan Islam sehingga haram mengambilnya, apalagi mengamalkannya.

Haramnya Abrahamisme setidaknya karena dua hal yaitu pertama, Abrahamisme adalah salah satu bentuk sinkretisme, sedangkan sinkretisme haram dalam Islam. Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama. Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukan berbagai unsur aliran atau paham sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian atau keseimbangan.[3]

Sinkretisme haram karena mencampuradukkan antara yang hak (Islam) dan batil (agama selain Islam). Allah Swt. berfirman,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 42).

Kedua, penyatuan agama Islam dengan agama lainnya pasti akan menghilangkan sebagian ajaran Islam karena prinsip dasar dari penyatuan adalah menggabungkan persamaan dan membuang perbedaan. Bagi agama lain mungkin hal seperti ini tidak jadi masalah. Akan tetapi, bagi Islam, mengambil sebagian ajaran Islam dan meninggalkan sebagian lainnya adalah aktivitas yang sangat tercela.

Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari yang kamu perbuat.” (QS Al-Baqarah [2]: 85).

Islam Tidak Butuh Sinkretisme, Tidak Juga Pluralisme

Syariat Islam layak diterapkan pada masyarakat yang plural tanpa butuh sinkretisme dan pluralism. Hal itu karena syariat Islam adalah aturan yang berasal dari Allah, Sang Pencipta manusia. Pastilah Allah Mahatahu mana aturan yang baik dan tepat bagi manusia.

Baca juga:  Madinah di Zaman Nabi Muhammad, Miniatur Indonesia?

Allah Swt. berfirman, “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah [5]: 50)

Dalam Kitab Asy Syakhshiyyah Al-Islamiyyah jilid 2, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bagaimana syariat Islam yang diterapkan kafah oleh Khilafah mampu mewujudkan toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Warga negara Khilafah yang nonmuslim berkewajiban untuk membayar jizyah dan tunduk kepada sistem Islam. Sebagai imbalannya, mereka mendapat hak untuk hidup di dalam naungan Khilafah dengan tetap memeluk agama mereka, serta bebas menjalankan ibadah menurut agama mereka. Penegasan jaminan ini ada dalam Al-Qur’an (lihat QS Al-Baqarah [2]: 256).[5]

Hanya saja, karena mereka hidup di bawah naungan Khilafah—yang berdasarkan akidah Islam serta menjalankan syariat Islam—tentu tidak mungkin agama lain selain Islam lebih menonjol, atau setidaknya sama dengan Islam, karena Nabi saw. menegaskan, اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى. (Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam). (HR Ad-Daruquthni (III/ 181 no. 3564)).

Karena itu, pada masa kekhalifahan Islam, nonmuslim yang hidup di dalam wilayah negara Khilafah menyadari betul posisi dan kedudukan mereka. Mereka tidak akan minta umat Islam dan negara menoleransi mereka dalam menjalankan agama mereka lebih dari yang telah menjadi haknya.

Begitulah cara Islam menjaga dan melindungi agama dan keyakinan nonmuslim yang menjadi warga negara Khilafah. Mereka tidak diganggu dalam hal ibadah mereka dan tidak dipaksa meninggalkan agama mereka.

Khatimah

Umat manusia memang plural (beragam), tetapi sinkretisme dan pluralisme bukanlah solusi, bahkan haram bagi umat Islam untuk mengambil dan mengamalkannya. Hanya penerapan syariat Islamlah yang telah terbukti mampu menciptakan toleransi hakiki sehingga umat manusia dengan beragam etnis, suku, bangsa, bahasa, dan agama bisa hidup berdampingan secara damai dan harmonis dalam naungan sistem Islam, yaitu Khilafah Islamiah selama berabad abad lamanya. Wallahualam. [MNews/Gz]

Referensi:

(1). https://www.kompas.tv/article/230635/imam-besar-al-azhar-tolak-seruan-gabungkan-islam-kristen-dan-yahudi-jadi-satu-agama

(2). https://www.cnnindonesia.com/internasional/20211110163133-120-719315/alasan-imam-besar-al-azhar-tolak-penggabungan-agama.

(3). https://id.wikipedia.org/wiki/Sinkretisme.

(4). Abdurrahaman, Hafidz. Islam politik Dan Spiritual. Lisan ul Haq. Cetakan ke 1, Desember 1998

(5). An Nabhani, Taqiyuddin. Asy Syakhshiyyah Al-Islamiyyah jilid 2

3 komentar pada “Abrahamisme, Mengapa Harus Ditolak

  • 26 November 2021 pada 16:12
    Permalink

    Sistem kapitalis yg sekuler terus br munculan masyalah2 baru dgn kebebasan bragama dan islam satu2nya agma yg sempurna dan menolak dgn menggabungkan dgn yg lain agama smoga Khilafah segera Tegak dgn pertolongan Allah SWT yg akn mnsejahtera Ummat di dunia insyaaAllah dbwah naungan Khilafah trwujud

    Balas
  • 22 November 2021 pada 09:29
    Permalink

    Islam datang untuk menyempurnakan agama2 sebelumnya.. Al Islami ya’lu walaa yu’la alahi

    Balas
  • 22 November 2021 pada 08:17
    Permalink

    Islam adalah agama yang haq yang sempurna tidah membutuhkan sinkritisme

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *