Jihad dan Khilafah Bagian dari Islam sebagai Solusi Permasalahan Hari Ini dan Masa Silam

Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI — Dua istilah yang saat ini dianggap bukan ajaran Islam, telah diluruskan, yakni jihad dan khilafah. Keduanya adalah ajaran Islam yang selama ini sengaja dibuat menakutkan dan bermakna negatif sehingga akhirnya timbul fitnah pada kata-kata itu. Tidak jarang masyarakat pun merasa risi bahkan alergi mendengar keduanya.

Namun, dalam forum ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VII membahas makna jihad dan khilafah, Ketua MUI Bidang Fatwa K.H. Asrorun Niam Sholeh menyampaikan kedua kata itu adalah ajaran Islam. Tidak ada keraguan untuk memercayainya sehingga beliau mengharapkan tidak perlu ada stigma mengenai keduanya. (republika.co.id, 11/11/21).

Perlu Lebih Jelas

Adanya upaya ulama meluruskan makna jihad dan khilafah tentu perlu kita apresiasi. Masih ada ulama-ulama lurus yang jujur bahwa keduanya tidak terpisahkan dari Islam. Hanya saja, pembelaan itu rasanya belum cukup. Sebagaimana tugas ulama, semestinya mereka menjelaskan makna  jihad dan khilafah secara utuh.

Selama ini, rakyat tercekoki racun kebencian terhadap kata jihad dan khilafah. Racun itulah yang perlu kita buang. Cara yang tepat untuk menyembuhkan adalah membuang pemikiran negatif dan menggantinya dengan pemikiran positif tentang Islam. Hal ini perlu agar masyarakat memahami Islam secara utuh, bukan separuh-separuh.

Makna Jihad dan Khilafah

Jihad adalah kata yang bermakna perang. Perang di sini bukan sekadar melawan, tetapi bertujuan amar makruf nahi mungkar. Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, istilah jihad terbagi dua, jihad defensif dan ofensif. Istilah ini berdasarkan firman Allah Swt., “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah: 190)

Baca juga:  Demonisasi Khilafah, Cara Rezim Menutupi Kegagalan Kapitalisme

Dari ayat di atas, dapat kita ambil pengertian bahwa makna jihad defensif adalah perang dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Jihad ini wajib dilakukan saat musuh-musuh Islam menyerang, seperti di Palestina, Suriah, dan lainnya.

Sedangkan jihad ofensif adalah perang untuk menyebarluaskan Islam ke  seluruh penjuru dunia. Hal ini diambil berdasarkan firman Allah Swt., “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Anfal: 39)

Rasulullah saw. bersabda, “Aku perintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jihad ofensif hanya bisa dilakukan oleh negara. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw., Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khaththab, dan para pemimpin setelahnya.

Dalam Islam, Khilafah merupakan istilah untuk menyebut sistem pemerintahan Islam. Makna bahasanya adalah kepemimpinan pengganti yang dipimpin oleh khalifah. Aturan yang diterapkan adalah hukum Islam. Landasan yang digunakan dalam seluruh aspek kehidupan adalah Islam.

Khilafah ada sejak masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar yang menggantikan Rasulullah saw. setelah wafat. kepemimpinan ini terus berlanjut hingga 13 abad lamanya, sampai masa Kekhalifahan di Turki Utsmani pada 1924.

Baca juga:  Khilafah Antikritik?

Meskipun dalam perjalanannya terdapat kesalahan penerapan dalam mengambil Islam, sistem pemerintahan yang sah tetaplah khilafah. Pemimpinnya muslim dan aturan yang diterapkan terikat dengan hukum syarak.

Saat itu, Khilafah terus dipertahankan karena merupakan sistem pemerintahan yang diadopsi oleh suatu negara, yakni sistem negara berdasarkan Islam yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para pemimpin setelahnya.

Agar permasalahan umat Islam selesai dan mendapatkan pengakuan dunia, Rasulullah saw. mendirikan negara Islam. Jadi, bisa dikatakan setelah negara Islam terbentuk, umat Islam menjadi umat terbaik dan ditakuti oleh seluruh dunia.

Perlu Khilafah

Kini umat Islam sedang dalam masalah. Berbagai macam kesulitan sedang melanda, seperti masalah Palestina yang terjajah Israel, muslim Xinjiang yang tersiksa, kaum muslim Eropa atau daerah minoritas yang menjadi korban islamofobia, hingga masalah-masalah lain yang melanda umat Islam sedunia.

Seluruh masalah itu muncul sejak Khilafah Utsmani runtuh di tangan Mustafa Kemal. Setelah kaum muslim kehilangan induknya, umat Islam berpecah-belah hingga menjadi kepingan negara yang tersekat dengan nasionalisme. Semenjak itulah kemalangan demi kemalangan terus terjadi menimpa umat Islam.

Oleh karena itu, umat sebenarnya perlu pemimpin yang melindungi dan mengurusi kebutuhannya. Bukan sekadar pemimpin biasa, pemimpin yang dimaksud adalah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menerapkan Islam atas dasar ketaatan kepada Allah Swt., bukan mengambil aturan lainnya. Sistem pemerintahan seperti ini disebut khilafah.

Baca juga:  Seruan agar Mubaligah Bersatu Berjuang Menegakkan Khilafah Menggema di Ruang Zoom Land

“Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang makruf (bukan maksiat).” (HR Bukhari no. 7257)

Kembali pada Islam

Melihat pentingnya keberadaan kepemimpinan Islam di tengah-tengah kaum muslim, para ulama harusnya tidak segan memberikan pembelaan. Sebab, mereka adalah corong umat, di tangan merekalah akan terlihat perbedaan hak dan batil.

Islam memerintahkan umat Islam untuk mengambil Islam secara menyeluruh, bukan sebagian-sebagian. Oleh karena itu, ulama pun seyogianya mendakwahkan Islam secara menyeluruh, baik dalam masalah ibadah maupun muamalah.

Melihat pentingnya khilafah bagi umat Islam, ditambah kewajiban ulama untuk selalu amar makruf nahi mungkar, maka para ulama tidak boleh tinggal diam. Mereka seharusnya berteriak lantang membela dan melindungi umat dari serangan musuh-musuh Islam.

Ulama perlu memahamkan rakyat tentang kewajiban kepemimpinan Islam (khilafah), serta menyampaikan pada umat untuk bersikap tegas, mencampakkan aturan manusia, dan kembali pada aturan Allah Swt.. Wallahualam. [MNews]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.