Abu Thalhah al-Anshari, Pemberani dan Dermawan

Penulis: Ruruh Anjar

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Abu Thalhah al-Anshari adalah nama kunyah dari  Zaid bin Sahl bin al-Aswad bin Haram bin Amr bin Malik bin an-Najjar al-Anshari al-Khazraji. Ia adalah tokoh dari kalangan Anshar.

Awal mula memeluk Islam ketika ingin menikah dengan Ummu Sulaim, ibu dari Anas bin Malik yang telah menjanda. Namun, saat itu Abu Thalhah masih belum memeluk Islam, dan Ummu Sulaim berkata, “Sungguh aku tertarik padamu. Orang seperti Anda tak pantas untuk ditolak. Namun Anda seorang laki-laki kafir. Sedangkan aku seorang muslimah. Kalau kau mau memeluk Islam, itulah mahar untukku. Aku tak meminta selain itu.”

Mendengar hal itu Abu Thalhah pun mendatangi berhalanya yang terbuat dari kayu dan beribadah di depannya. Ummu Sulaim yang melihatnya, berkata lagi, “Abu Thalhah, bukankah kau tahu Tuhan yang kau sembah selain Allah itu tumbuh dari tanah?”

“Iya,” jawab Abu Thalhah.

Ummu Sulaim melanjutkan, “Tidakkah kau malu, kalau kau itu menyembah potongan pohon. Sebagian dari pohon itu kau jadikan Tuhan. Sementara sebagian yang lain kau jadikan alat untuk mengaduk adonan roti?”

Abu Thalhah berkata, “Siapa yang mau mengajariku tentang Islam?“

Ummu Sulaim menjawab bahwa ia  yang akan memandu Abu Thalhah bagaimana cara masuk agama Islam. “Engkau bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Lalu pergilah ke rumahmu. Hancurkan berhalamu. Kemudian buang,” ujar Ummu Sulaim.

Abu Thalhah mengikuti , kemudian ia menikahi Ummu Sulaim. Pernikahan ini pun mendapat sambutan baik di kalangan kaum muslimin, “Kami sama sekali tak pernah mendengar mahar yang lebih mulia dari maharnya Ummu Sulaim. Ia menjadikan maharnya keislaman suaminya.”

Sejak saat itu, Abu Thalhah menjadi orang yang sangat mencintai Islam, sangat mencintai Rasulullah dan tidak pernah berpaling dari tuntunannya.

Peperangan

Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat ahli panah dan pemberani. Termasuk dalam salah satu dari dua belas orang yang turut serta dalam Baiat Aqabah, ikut serta di Perang Badar dan perang-perang selanjutnya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Pada Perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Siapa yang berhasil membunuh musuh, untuknya barang-barang orang tersebut.’ Saat itu Abu Thalhah berhasil membunuh 20 orang musuh. Dan barang-barang bawaan orang-orang itu menjadi miliknya.”

Saat Perang Uhud, barisan kaum muslimin tercerai-berai. Pertahanan mereka hancur lebur. Hingga posisi Rasulullah begitu terbuka. Orang-orang musyrikin segera mengepung Nabi dari segala sisi. Sampai gigi seri beliau patah.

Dahi beliau mengucurkan darah. Bibir beliau terluka. Hingga darah mengalir di wajah beliau.

Abu Thalhah segera berdiri di hadapan Rasulullah dan menjadi benteng beliau. Abu Thalhah melesatkan panah-panahnya mengarah kepada orang-orang musyrik satu per satu. Ia senantiasa melakukan hal itu, hingga tiga busurnya patah. Ia berhasil membunuh banyak orang musyrik.

Dari Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berada di depan Rasulullah di dalam perang, sambil berkata,

نفسي لنفسك الفداء *** ووجهي لوجهك الوفاء

“Diriku ini menjadi tebusan untukmu  Wajahku adalah tameng wajahmu.”

Kemudian ia tebarkan anak panahnya. Nabi berkata, “Sungguh suara Abu Thalhah dalam pasukan lebih baik dari 100 orang.”

Diriwayatkan Humaid dari Anas, ia berkata, “Abu Thalhah berada di depan Rasulullah. Saat itu, Rasulullah menongolkan kepalanya dari belakang Abu Thalhah untuk melihat bidikan panah. Abu Thalhah angkat dadanya agar posisinya lebih tinggi dapat melindungi Rasulullah. Ia berkata, ‘Leherku jadi tameng untuk lehermu, ya Rasulullah’.”

Baihara

Selain itu, Abu Thalhah terkenal sebagai  dermawan dalam berbagai kondisi. Baik saat sulit maupun lapang. Abu Thalhah memiliki kebun kurma dan anggur bernama Baihara. Tidak ada di Madinah kebun yang lebih luas, lebih banyak pohonnya, lebih bagus kualitas buahnya dan airnya, melebihi kebun Abu Thalhah.

Suatu ketika  Abu Thalhah sedang salat di kebunnya dan melihat ada seekor burung berwana hijau dan paruhnya merah. Ia pun merasa takjub sehingga ia kehilangan konsentrasi karena pemandangan itu. Ia jadi lupa, sedang berada di rakaat tiga atau empat.

Usai salat ia menemui Rasulullah. Ia ceritakan kejadian di kebunnya dan burung itu. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku bersaksi kupersembahkan kebun ini sebagai sedekah di jalan Allah. Gunakanlah kebun itu sesuai apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai.”

Dalam Shahihain dari Anas bin Malik, tatkala turun firman Allah,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS Ali Imran: 92)

Abu Thalhah berkata kepada Rasulullah, “Sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah Baihara, dan kupersembahkan ia sebagai sedekah. Aku berharap kebaikannya dan simpanan (di akhirat).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بخ بخ ذاك مال رابح

“Wah.. wah.. Ini benar-benar harta yang menguntungkan.”

Kemudian Rasulullah berkata, “Inilah harta yang diberkahi. Aku telah mendengar apa yang kau ucapkan dan aku menerimanya. Aku kembalikan lagi kepadamu dan berikanlah ia kepada kerabat-kerabat terdekatmu.”

Rasulullah menyarankan agar harta itu dibagikan kepada keluarga Abu Thalhah, yakni sanak famili terdekat yang sangat membutuhkan. Setelah itu, pembagian kepada orang-orang lain dari kalangan Muslimin.

Abu Thalhah juga memberikan bagian kepada Rasulullah. Beliau lantas memberikan bagiannya itu kepada seorang penyair, Hassan bin Tsabit al-Anshari, serta sejumlah sahabat yang memerlukan. Di antara mereka ialah Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.

Menghidangkan Makanan

Dalam Riwayat al-Bukhari dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah. Abdullah mendengar Anas bin Malik menceritakan, “Abu Thalhah berkata pada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah yang begitu lirih. Aku tahu beliau lapar. Apakah kau punya sesuatu? Istrinya berkata, ‘Iya.’ Lalu kukeluarkan sejumlah gandum. Kuambil penutup dari kain untuk menutupi roti. Menyelipkan sebagiannya di bawah tanganku. Suamiku menyuruhku menemui Rasulullah. Aku pun pergi. Ternyata Rasulullah sedang di masjid bersama orang-orang. Aku pun berdiri di hadapan mereka. Rasulullah berkata padaku, ‘Abu Thalhah yang menyuruhmu ke sini?’

‘Iya,’ jawabku.

Beliau berkata lagi, ‘Membawa makanan?’

‘Iya,’ jawabku lagi.

Rasulullah berkata kepada orang-orang yang bersamanya, ‘Berdirilah.’ Mereka semua pun berangkat bersamaku. Sesampainya di rumah, kukabarkan kepada Abu Thalhah apa yang terjadi. Abu Thalhah berkata, ‘Ummu Sulaim, Rasulullah datang bersama banyak orang, padahal kita tidak memiliki makanan yang cukup untuk mereka.’ Ummu Sulaim berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’

Abu Thalhah pun menyambut kedatangan Rasulullah. Rasulullah berkata, ‘Ummu Sulaim, apa yang kau punya?’ Kudatangkan roti. Lalu kuadon. Kemudian Rasulullah berkata mengenai makanan itu apapun yang dikehendaki Allah untuk beliau katakan. Lalu beliau perintahkan, ‘Izinkan 10 orang (untuk makan).’ Mereka pun diberi izin. Lalu mereka makan hingga kenyang dan keluar dari rumah. Beliau berkata lagi, ‘Izinkan 10 orang lagi.’ Lalu mereka makan hingga kenyang dan keluar dari rumah. Beliau berkata lagi, ‘Izinkan 10 orang lagi.’ Lalu mereka makan hingga kenyang dan keluar dari rumah. Beliau berkata lagi, ‘Izinkan 10 orang lagi.’ Semua orang pun makan hingga kenyang. Jumlah mereka 80 orang.”

Sabar

Ketika anaknya meninggal, Abu Thalhah sedang tidak berada di rumah. Ummu Sulaim berkata, “Jangan kalian kabarkan Abu Thalhah tentang berita ini. Aku saja yang memberi tahunya.”

Hal ini tentu bukanlah masalah ringan. Sadar akan hal itu, Ummu Sulaim membuat rencana. Mengalihkan sementara perhatian suaminya. Saat sang suami tiba di rumah, ia langsung menjamunya dengan makanan. Saat suaminya makan, ia berdandan dengan minyak wangi. Berusaha menarik perhatian sang suami. Hingga keduanya berhubungan.

Setelah suaminya tenang, ia memberikan kalimat pengantar sebelum kabar duka disampaikan dengan perumpamaan yang menunjukkan kecerdasannya, “Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya keluar Fulan meminjam sesuatu dari keluarga Fulan. Lalu yang meminjamkan mengutus orang untuk meminta barang tersebut. Mereka malah menolak untuk mengembalikannya.”

Abu Thalhah berkata, “Mereka tak boleh berbuat seperti itu. Barang pinjaman harus dikembalikan kepada yang punya.”

Ummu Sulaim menimpali, “Sesungguhnya anakmu adalah pinjaman dari Allah. Dan Allah telah mengambilnya.” Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’.

Nabi yang mendapat kabar tentang hal tersebut. Beliau mendoakan, “Semoga Allah memberkahi malam keduanya.”

Masa Tua

Di masa Kekhalifahan Utsman bin Affan, kaum muslimin mempersiapkan Angkatan Laut. Abu Thalhah ikut memesan tempat untuk berangkat. Lalu anaknya berkata,

يرحمك الله يا أبانا، لقد صرت شيخًا كبيرًا، وقد غزوت مع رسول الله وأبي بكر وعمر، فهلا رَكَنتَ إلى الراحة، وتركتنا نغزوا عنك

“Semoga Allah merahmatimu, Ayah. Sekarang engkau sudah sangat tua. Engkau telah berperang bersama Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Sekiranya engkau mau beristirahat, dan engkau biarkan kami saja yang berangkat menggantikanmu.”

Abu Thalhah menolaknya dengan mengutip firman Allah,

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat.” (QS At-Taubah: 41)

Ia menegaskan untuk berangkat bersama baik yang tua maupun muda.

Semangat Abu Thalhah, ketawadukan, kesabaran, kedermawanan, ketaatan, dan pembelaannya kepada agama Allah terus mengakar hingga akhir hayat. Memberikan inspirasi keistikamahan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Wallahu a’lam.[MNews/Juan]

*Dari berbagai sumber

One thought on “Abu Thalhah al-Anshari, Pemberani dan Dermawan

  • 19 November 2021 pada 18:42
    Permalink

    Ya allah semoga kami diberikan jiwa2 tangguh seperti abu thalhah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *