[Tarikh Khulafa] Khalifah Umar bin Khaththab ra. Senantiasa Mendahulukan Kepentingan Rakyat

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA – Umar bin Khaththab ra. memiliki kepribadian yang sederhana, tidak membedakan seseorang berdasarkan kedudukan, senantiasa tegas dalam menegakkan syariat Islam, dan bersikap keras terhadap musuh-musuh Islam.

Sebagai khalifah, pemimpin kaum muslimin, Umar bin Khaththab ra. senantiasa memberikan perhatian yang besar kepada rakyat yang dipimpinnya, baik muslim maupun nonmuslim. Umar berupaya secara langsung mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Daulah Islam ini.

Amirulmukminin senantiasa menyempatkan diri berkeliling wilayah untuk melihat dan, jika perlu, langsung turun tangan memberikan bantuan kepada penduduk yang sedang mengeluh atau ditimpa kesusahan. Umar bin Khaththab ra. berpegang kepada perkataannya, “Jika dia sendiri tidak merasakan apa yang dirasakan orang lain, mana mungkin dirinya bisa mengetahuinya.”

Tidak Ada Hak Istimewa bagi Keluarga Khalifah

Sebuah tanggung jawab kepemimpinan yang sangat besar dimiliki Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Sehingga wajar Umar bin Khaththab ra. dikenal sebagai Khalifah yang sangat dekat dengan rakyatnya.

Di mana ada rakyat yang sengsara, di situ Khalifah Umar ra. hadir untuk mengeluarkan dia dari kesengsaraannya. Para sahabat sangat mengagumi apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab ra. ini.

Umar bin Khaththab ra. memperlakukan keluarganya dan rakyat sesuai porsinya. Tidak ada hak istimewa bagi keluarga khalifah. Suatu hari Umar bin Khaththab ra. berkunjung ke tempat putranya, Abdullah bin Umar ra.. Abdullah ra. waktu itu sedang makan daging. Umar ra. berkata kepada anaknya, “Wahai Abdullah, apa karena engkau putra Amirulmukminin sehingga engkau makan daging sementara rakyatnya sedang kelaparan? Tidak cukupkah roti dan minyak?”

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Berhasil Menumbangkan Peradaban Persia

Umar bin Khaththab ra. tidak ingin jabatannya sebagai khalifah dimanfaatkan oleh keluarganya sebagai kesempatan untuk memperoleh segala yang mereka inginkan.

Pada saat Madinah mendapat kiriman bantuan dari beberapa daerah, Hafshah binti Umar bin Khaththab ra. meminta bagian sambil berkata, “Wahai Khalifah, hak keluargamu ada di dalam harta ini, Allah telah mewasiatkannya.”

Umar ra. menjawab, “ Hafshah putriku, hak keluargaku adalah yang ada pada hartaku, sedangkan ini bukanlah hartaku, melainkan hak kaum muslimin, pulanglah!”

Khalifah Takut Mengambil yang Bukan Haknya

Suatu hari, ada tamu yang berkunjung ke tempat Umar bin Khaththab ra.. Setelah duduk, Amirulmukminin menanyakan maksud kedatangannya, “ Wahai Fulan, engkau menemuiku untuk berbicara denganku sebagai Umar atau aku sebagai Khalifah?” Tamu itu pun menjawab, “Kedatanganku untuk berbicara denganmu sebagai Umar.” Umar ra. kemudian bersegera mematikan lampunya. Tentu saja sang tamu bingung melihat lampu dimatikan sambil bertanya, “ Mengapa lampu dimatikan, bukankah hari gelap?”

“Lampu ini minyaknya berasal dari negara, harta rakyat, karena itu aku matikan sebab aku sedang menjadi Umar, bukan sebagai Khalifah,” jawab Amirulmukminin.

Salah seorang wali pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah mengirimkan hadiah makanan kepada Khalifah. Umar ra. melihat makanan tersebut di atas meja dan bertanya asal makanan kepada utusan yang membawanya, “Makanan apa ini?” Utusan itu pun menjelaskan, “Ini adalah kue yang dibuat penduduk negeri kami yang sengaja dikirimkan untuk Tuan dari Utbah bin Farqad.” Umar pun mencicipi makanan itu, ternyata memang enak rasanya.

Baca juga:  Penaklukan Baitulmaqdis dan Kebijakan Khalifah Umar bin Khaththab ra. bagi Penduduknya

Umar pun bertanya kembali, “Apakah semua penduduk di sana memakan ini?” Utusan menjawab, “Tidak, makanan ini hanyalah untuk orang-orang tertentu saja.” Umar kemudian menutup wadah makanan itu dan berkata kepada utusan tersebut, “Sekarang ambil makanan itu, kembalikan kepada Utbah, katakan kepadanya, ‘Umar berkata kepadamu, takutlah kepada Allah, kenyangkan dahulu kaum muslimin di negerimu dengan apa yang membuat engkau juga kenyang!’”

Kehadiran Khalifah di Tengah rakyat

Pada suatu sore, beberapa pedagang tiba di Madinah dan mendirikan tenda di bukit yang tinggi. Umar hendak mengajak salah satu sahabatnya, Abdurrahman bin Auf, untuk mengunjungi mereka. Abdurrahman bertanya kepada Umar, “Wahai Amirulmukminin, mengapa dirimu memaksakan diri pergi ke sana pada malam hari begini? Bukankah sekarang waktu bagi dirimu untuk beristirahat?”

Pertanyaan ini dijawab oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. dengan tegasnya, “Apa yang engkau katakan benar, tetapi kepercayaan umat kepadaku merupakan beban di atas pundakku. Aku keluar untuk melihat dan mengetahui sendiri keadaan mereka yang sedarah denganku.”

Pergilah Khalifah Umar bin Khaththab ra. bersama Abdurrahman bin Auf ra. mengunjungi mereka. Mereka berdua duduk di dekat tenda para kafilah dagang tersebut. Khalifah Umar mengajak Abdurrahman bin Auf untuk tidak tidur demi menjaga mereka.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Kebijakan Kharaj Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Ini kenyataan, bukan legenda. Seorang khalifah sangat dirasakan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat, bukan hanya sosoknya, tetapi tanggung jawab dan keadilan keputusan pemimpin yang bisa menenteramkan rakyat.

Seorang kepala negara yang takut kepada Allah dan lebih mementingkan persoalan rakyat daripada diri dan keluarganya. Pemimpin seperti ini hanya ada dalam tatanan kehidupan yang diridai Allah Swt., yaitu Khilafah Islamiyah. [MNews/Rgl]

Sumber: Budi Yuwono. Hikayah Empat Khalifah. Khairul Bayaan.

One thought on “[Tarikh Khulafa] Khalifah Umar bin Khaththab ra. Senantiasa Mendahulukan Kepentingan Rakyat

  • 18 November 2021 pada 13:02
    Permalink

    Masyaa Alloh patut di contoh untuk para penguasa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *