Ketika Pasangan Dilanda Musibah, Apa yang Harus Dilakukan?

Alangkah indah dan sarat ibrah perkataan Abu Darda ra. pada istrinya, “Jika aku marah, maka buatlah aku rida padamu, dan jika engkau marah, aku pun akan membuat engkau rida padaku. Kalau tidak demikian, tidaklah kita bersahabat.”


Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA – Pernikahan merupakan hasrat alami manusia yang terkait erat dengan naluri melestarikan keturunan (gharizatun nau’). Kehidupan pernikahan adalah persahabatan antara suami dengan istri. Suami adalah sahabat istri dan istri adalah sahabat suami secara sempurna. Di dalamnya terwujud kehidupan yang sarat ketenangan, kasih sayang dan persahabatan.

Interaksi suami istri tegak atas prinsip ta’awun (tolong-menolong), saling menopang, bersahabat, harmonis, tidak kaku dan formalistis. Hubungan suami istri adalah interaksi yang penuh kehangatan, kesejukan, jauh dari kekakuan.

Persahabatan keduanya menciptakan ketenteraman jiwa dan kedamaian hidup. Seorang suami tidak boleh membuat istrinya cemberut atau bermuka masam—meski dalam perkara yang tidak sampai menimbulkan dosa‐-. Ia harus berlemah-lembut dalam bertutur kata, tidak bertindak keji dan kasar, serta tidak menampakkan kecenderungan kepada perempuan lain. Begitu juga istri, melaksanakan ketaatan kepada suami bukan karena terpaksa, tetapi karena ketaatannya kepada Allah Swt..

Ketaatan istri kepada suami akan menciptakan ketenteraman dan kedamaian kehidupan suami istri. Ibnu Abbas bertutur, “Para istri berhak merasakan suasana persahabatan dan pergaulan yang baik dari suami mereka, sebagaimana mereka pun berkewajiban untuk melakukan ketaatan dalam hal yang memang diwajibkan atas mereka terhadap suami mereka.”

Hanya saja memang perjalanan kehidupan pernikahan tidak selamanya berjalan mulus. Kadang cobaan atau musibah menerpa. Demikian halnya ketika musibah datang menimpa salah satu pasangan yang bisa berimbas kepada kehidupan rumah tangga atau hubungan dengan pasangan. Misalnya suami kehilangan pekerjaan, sakit parah atau meninggalnya orang tercinta dan sebagainya.

Semuanya merupakan ujian yang harus dihadapi pasangan suami istri dengan kematangan sikap dan pikiran. Idealnya, dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih dalam menghadapi musibah, dan selalu berprasangka baik terhadap pasangan. Di sinilah Islam datang memberi petunjuk dan tuntunan kepada umat Islam. Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan?

1. Ikhlas menghadapi musibah, tawakal, dan bersabar.

Keluarga yang tegak atas syariat Islam, akan mampu menciptakan ketenangan, ketenteraman, keadilan dan rasa aman. Suami istri hidup berdampingan saling asih dan asuh, serta menjalankan bahtera keluarga layaknya dua sahabat sejati yang berbagi suka dan duka.

Baca juga:  Persahabatan Sejati dalam Kehidupan Rumah Tangga

Hanya saja ketika ada permasalahan menghampiri keluarga, kadang kala segalanya serba sempit. Tetapi jika ingat tujuan awal menikah ingin menggapai rida Allah Swt., maka ikhlas, bersabar dan selalu berupaya memperbaiki keadaan tentu lebih baik.

Ikhlas bahwa musibah datangnya dari Allah merupakan langkah pertama dan utama ketika menghadapi permasalahan. Kemudian iringi dengan tawakal dan sabar sehingga bisa mencari jalan terbaik dengan pikiran jernih. Sebagaimana firman Allah Swt.,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

Tidak sedikit pasutri berkali-kali menghadapi musibah harus kehilangan sosok idaman. Istri berulang kali mengalami keguguran misalnya. Demikian halnya kehilangan pekerjaan ketika situasi sulit. Tentu bukan hal mudah, baik oleh istri maupun suami.

Tidak dapat dimungkiri, ketika sedang berduka terkadang sulit menerima apalagi harus menghadapi sendiri. Tapi dengan bekal ikhlas, sabar, tawakal dan saling menguatkan, insyaallah pasangan suami istri akan bisa melampaui musibah dengan baik.

2. Selalu mendampingi pasangan kita.

Terkadang kesedihan karena musibah yang menimpa, membuat pikiran kalut hingga tidak bisa berpikir jernih. Untuk mengatasi kesedihan pasangan, seharusnya kita menjadi pendamping yang baik bagi pasangan. Jangan biarkan pasangan sendirian melewatinya. Kita berusaha untuk terus membersamainya dan terdepan saat membutuhkan bantuan.

Dukungan secara lisan, menemaninya di saat berduka menjadi energi tersendiri untuk pasangan melewati masa sulit. Layaknya sebuah tim, maka harus saling membantu, menguatkan dan membesarkan hati pasangan. Jangan sampai pasangan menyimpan perasaan sedihnya sendiri karena akan membuatnya terpuruk. Ada baiknya perasaan sedih itu dibagi sehingga tidak berlarut-larut dan bisa segera bangkit bersama.

3. Berempati kepada pasangan dan menyadari kebutuhan pasangan.

Peristiwa yang menyedihkan, terlebih kehilangan orang tercinta – ayah atau ibu kandung misalnya – butuh waktu untuk melewatinya. Hal ini pun yang bisa terjadi pada pasangan kita. Bahkan bisa jadi ia berusaha untuk menutupi perasaan sendiri padahal membuat dirinya terpuruk.

Sebagai pasangan yang baik, tentu kita harus berempati. Membesarkan hati dan tidak lupa juga mengingatkan bahwa ini ketetapan Allah. Tentu saja dengan terus menemani dan menghiburnya.

Baca juga:  Nasihat Indah Ketika Merasa 'Lelah' Menjadi Ibu dan Istri

Penting untuk memahami apa yang sedang pasangan kita butuhkan. Kkehadiran kita tentu sangat berarti baginya. Ada baiknya selalu menghibur dan menyenangkannya dengan memasakkan makanan kesukaannya, misalnya dan sebagainya.

4. Memberikan waktu dan menjadi pendengar yang baik.

Cara seseorang ketika menghadapi permasalahan atau kehilangan memang tidak sama, tentu kita tidak bisa menyamakannya dengan diri kita. Terkadang ada yang justru tidak ingin ditemani melewati masa sulitnya, justru ingin melewatinya sendiri.

Sebagai sahabat yang baik, ada baiknya kita memberikan waktu kepada suami untuk sendiri dan tidak mengganggunya sementara waktu. Meski tentu kita tetap menyediakan kebutuhannya dan siap menjadi pendengar untuk semua keluh kesah dan curahan hatinya. Bahkan terkait cerita-cerita masa lalunya ketika mengingat kebahagiannya bersama orang-orang tercinta tersebut. Penting pula untuk mencoba memahami perasaannya. Dengan demikian, akan bisa meringankan rasa sedihnya.

5. Komunikasi intens, beri motivasi dan mencari solusi bersama.

Ketika pasangan kehilangan pekerjaan atau menghadapi kerugian dalam bisnis, memang bukanlah sesuatu yang mudah. Bisa jadi ia gundah, merasa bersalah terhadap keluarganya. Sebagai pasangannya, maka sudah seharusnya kita menenangkan dan terus memotivasi untuk bangkit kembali.

Kita akan melihat kecerdasan dan kecerdikan seorang istri berkomunikasi dengan suami yang sedang dalam kepanikan karena suatu peristiwa. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim serta Musnad Ahmad menceritakan keadaan Nabi saat baru menerima wahyu pertama di Gua Hira. Nabi saw. pulang ke Khadijah dalam keadaan gemetar fisik dan hatinya. Beliau masuk dan berkata: selimuti aku, selimuti aku…

Ketika mulai tenang, beliau berkata, “Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah.” Khadijah berkata untuk menenangkan suaminya, “Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan”.

Kata-kata yang mengalir jujur dan bukan basa-basi. Menyejukkan hati yang sedang panas. Menenangkan jiwa yang sedang gemetar. Memantapkan keyakinan akan pertolongan Allah.

Jika perlu kita ajak berdiskusi, mengevaluasi apa yang sudah terjadi untuk kemudian mencari solusi terbaik untuk memperbaiki kondisi yang sudah terjadi. Diskusi sederhana ini akan membuat dirinya nyaman dan merasa kita sebagai pasangan yang selalu ada untuknya.

Baca juga:  Hakikat Kehidupan Suami-Istri

Bahkan ia akan merasa ada orang terdekat yang mendukungnya hingga mengurangi rasa bersalahnya terhadap istri dan anak-anak. Kita juga bisa melibatkan anak-anak untuk memotivasi dan menghibur ayahnya. Hal ini akan membantu ayah untuk bangkit lebih cepat.

6. Membantu meringankan pekerjaan pasangan.

Kehilangan pekerjaan ataupun orang-orang tercinta tentu tidak mudah. Saat pasangan masih dalam suasana berduka, terlebih menimpa istri, maka untuk sementara pekerjaan sehari-hari tidak dapat diatasi. Maka suami bisa membantu menyelesaikan tugas istri di rumah.

Tidak ada salahnya suami memasak makanan sederhana untuk keluarga atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Aktivitas ini akan meringankan pekerjaan istri yang belum bisa selesai. Dengan begini, istripun merasa terbantu dan mendapat perhatian agar tidak terus menerus dalam kedukaan. Sebaliknya, ia mendapatkan energi baru dari keluarganya.

7. Memberikan doa terbaik untuk pasangan.

Sudah seharusnya kita selalu mendoakan pasangan di setiap kesempatan, terutama di waktu-waktu mustajab. Terlebih ketika kesulitan dan musibah menimpa, kegundahan dan kegelisahan. Kita memohon agar Allah menghilangkan semua kesedihannya, kegundahannya dan segala yang terbaik untuk pasangan hidup juga keluarga.

Kepada siapa lagi kita bermohon kecuali hanya kepada Allah semata. Suami sesungguhnya adalah milik Allah. Allah-lah yang menggenggam hati suami. Dia pula yang Mahakuasa mengubah dan memperbaiki mereka, tentu saja dengan tetap berusaha. Hanya kepada Allah-lah kita memohon dan meminta pertolongan.

Semoga Allah selalu menjadikan suami kita menjadi manusia yang taat kepada-Nya, serta bertanggung jawab terhadap keluarga. Semoga Allah selalu selalu menjaga, melindungi suami kita dan memberikan penyelesaian terbaik terhadap kesulitan yang menimpa suami. Aamiin yaa mujiibas saailiin.

Khatimah

Demikianlah, beberapa langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk pasangan, yang setidaknya bisa meringankan ketika menghadapi kesedihan atau musibah. Bagaimanapun juga, pasangan suami istri harus bahu membahu, bekerja sama dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya ketika musibah datang. Bersikap saling menjaga, saling mengisi, menyayangi dan penuh pengertian serta meridai keputusan pasangan selama dalam koridor syariat.

Alangkah indah dan sarat dengan ibrah perkataan Abu Darda ra. pada istrinya, “Jika aku marah, maka buatlah aku rida padamu, dan jika engkau marah aku pun akan membuat engkau rida padaku. Kalau tidak demikian, tidaklah kita bersahabat.” Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *