[News] Resolusi Hak Menentukan Nasib Sendiri, Pengamat: Tidak Akan Mengembalikan Palestina kepada Kaum Muslimin

Berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel tidak akan pernah mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslimin.

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Menanggapi disetujuinya rancangan resolusi tentang hak rakyat Palestina di Majelis Umum PBB 5 November lalu, pengamat politik Fatma Sunardi menilai berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel tidak akan pernah mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslimin.  

“Hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Palestina tentu tidak akan keluar dari kerangka two state solution (solusi dua negara). Berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel pun tidak akan pernah mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslimin,” ungkapnya kepada MNews, Sabtu (13/11/2021).

Ia menyatakan rancangan The right of the Palestinian people to self-determination (dokumen A/C.3/76/L.46) mendapat persetujuan negara anggota PBB dalam sidang Majelis Umum PBB sesi ke-67 dengan rincian 158 negara ​​mendukung, 6 negara menentang (Israel, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Amerika Serikat), dan 10 negara abstain (Australia, Kamerun, Guatemala, Honduras, Kiribati, Papua Nugini, Rwanda, Kepulauan Solomon, Togo, Tonga).   

“Bahkan, yang mendapat perhatian paling besar adalah perwakilan Mesir yang memperkenalkan rancangan atas nama Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Kemudian, menekankan bahwa semua negara memiliki hak untuk hidup damai dalam batas-batas yang diakui secara internasional,” cetusnya.

Baca juga:  [News] Agresi ke Al-Quds Meningkat, Sikap Lancang Penjajah Yahudi

Solusi Dua Negara

Hanya saja, ia memandang ini tetap terkait two state solution (solusi dua negara) yang digagas Kuartet —Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa— pada 2002. “Apalagi pada April 2003, Kuartet tersebut merilis Peta Jalan Berbasis Kinerja untuk Solusi Dua Negara Permanen untuk Krisis Israel-Palestina,” cetusnya.

Meskipun demikian, ia mengatakan Rand Corporation mengeluarkan hasil penelitian berjudul Alternatives in Israeli-Palestinian Conflict yang menyebutkan bahwa meski solusi dua negara adalah alternatif yang paling memungkinkan secara politis, tetapi keempat populasi (Yahudi Israel, Orang Arab Israel, Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat) menyuarakan skeptis terhadap alternatif ini.

Ia pun mengulas solusi dua negara yang Barat tawarkan bukanlah solusi. “Tetap membuat tanah Palestina dalam penguasaan Israel yang sebenarnya sudah terusir sejak dahulu kala,” sindirnya.

Menurutnya, membiarkan dua negara hidup berdampingan, sama artinya membiarkan perampokan Israel atas  tanah kaum muslimin. “Itu kejahatan kemanusiaan yang besar,” kritiknya.

Solusi Hakiki

Ia menandaskan solusi hakiki atas rakyat Palestina hanyalah membebaskan tanah mulia ini dan mengembalikannya ke dalam pangkuan kaum muslimin. “Ini membutuhkan kekuatan militer hebat yang mampu mengalahkan tentara Israel dan sekutunya. Tentu saja, kekuatan militer itu harus datang dari luar Palestina, yakni kekuatan kaum muslimin yang bersatu dalam naungan Khilafah Islamiah,” tukasnya. 

Baca juga:  Perjanjian Abraham, Ditandatangani di Atas Genangan Darah Palestina

Ia mengingatkan hanya Khilafah Islamiah yang pantas menjadi harapan untuk membebaskan  Palestina dari penjajahan Israel. “Melindungi kemuliaan rakyat Palestina, menghadirkan kesejahteraan, dan keamanan,” pungkasnya.[MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.