[Tafsir Al-Qur’an] Penerapan Islam Kafah Adalah Kewajiban dan Kemuliaan Kaum Muslimin

Penulis: Rohmah

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN –

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Dalam Tafsir Jalalain juz I Imam Jalaluddin menafsirkan QS Al-Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan/ secara total,” maksudnya ke dalam seluruh syariat Islam. Allah mewajibkan penerapan hukum Islam secara keseluruhan baik berkaitan dengan akidah, syariat, ibadah, muamalah, ekonomi, sosial, politik, hingga pemerintahan (Khilafah). Allah mengharamkan mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (Imam Jalaluddin, Tafsir Jalalain juz I, hlm 214).

Imam Jalaluddin menjelaskan bahwa setan akan membisikkan dan menggoda orang-orang yang beriman agar tidak mengikuti perintah Allah, yaitu menerapkan syariat Islam secara kafah (menyeluruh). Akibatnya terdapat kaum muslimin yang tidak mau menerapkan Islam kafah. Hal ini akan menimbulkan kaum muslimin pecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang pro Islam kafah dan kelompok yang menolak Islam kafah. Seperti biasanya setan menghiasi dengan hal-hal yang indah kepada yang mau mengikutinya. Sebaliknya menghiasi dengan hal-hal yang buruk pada kaum muslimin yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya, yaitu Islam kafah.

Hadis,

حفت النار بالشهوات وحفت الجنة بالمكاره

“Neraka itu dikelilingi hal-hal yang disukai nafsu dan surga itu dikelilingi hal-hal yang dibenci.” (HR Ibn Hibban)

Akibatnya mereka memberi cap negatif kepada kaum muslimin yang berislam secara kafah sebagai kelompok Islam radikal. Mereka anggap sebagai kelompok yang seakan-akan buruk, padahal justru itu Islam yang sesuai dengan perintah Allah. Sementara kelompok yang kedua adalah kelompok yang tidak mengikuti Islam kafah, yaitu kelompok sekuleris (memisahkan urusan agama dari kehidupan). Maksudnya, hukum yang berkaitan dengan ibadah, maka mengikuti agama Islam, sedangkan hukum peraturan yang berkaian dengan kehidupan, manusia membuat sendiri.

Kelompok ini seakan-akan dianggap baik, dicap sebagai Islam damai, toleran, dan tidak radikal. Padahal tidak mengikuti Islam kafah adalah salah, karena menetapkan hukum dan menerapkan hukum berdasarkan akalnya/hawa nafsunya dan bukan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Bahkan, dalam Al-Qur’an disebut mengikuti langkah-langkah setan.

Selanjutnya, melaksanakan kewajiban menerapkan syariat Islam harus menyeluruh dan tidak boleh memilih-milih yang dinilai dibutuhkan dan relevan. Allah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menerapkan syariat/aturan/hukum Islam secara menyeluruh/kafah, yaitu mengambil seluruh pegangan/pedoman Islam dan seluruh syariat, serta menjalankan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Ibn Katsir menafsirkan berislam secara kafah dalam surat Al-Baqarah ayat 208, adalah Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, membenarkan Rasul-Nya, agar mengambil seluruh pegangan Islam, seluruh syariat Islam, menjalankan seluruh perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai dengan kemampuannya (secara maksimal dan optimal) (Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir Juz I, hlm 565).

Syariat Islam harus menjadi pedoman bagi kita saat beraktivitas dalam seluruh urusan kehidupan, baik urusan dunia maupun akhirat. Syariat Islam harus menjadi pedoman saat beribadah, makan-minum, bergaul, berekonomi, berhukum, berpolitik, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Karenanya pelaksanaan syariah kafah tidak cukup diterapkan oleh individu dan jamaah. Namun harus ada institusi yang mempunyai kekuasaan untuk penerapan syariat Islam secara keseluruhan yaitu negara.

Walhasil orang yang masuk Islam secara kafah wajib menerapkan syariat Islam secara menyeluruh tanpa kecuali. Meliputi syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. yaitu akidah, tauhid, dan ibadah. Juga syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu makan, minuman, pakaian, dan akhlak. Dan syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, yaitu sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem pidana, sistem pendidikan, dan sistem politik.

Mengenai sumber, maka syariat/ aturan Islam hanya bersumber dari sumber yang telah ditetapkan agama Islam. Adapun sumber atau dalil penetapan aturan/syariat adalah Al-Qur’an, hadis, ijmak sahabat, dan qiyas.

Dengan demikian menerapkan Islam kafah tidak cukup hanya menerapkan syariat Islam dalam sebagian aspek kehidupan tertentu dan meninggalkan sebagian yang lain. Misalnya seluruh peraturan akan diterapkan kecuali sistem pemerintahan dan sistem ekonomi. Apalagi hanya menerapkan sebagian kecil hukum Islam, selebihnya bukan hukum Islam.

Terdapat kecaman yang keras bagi yang tidak melaksanakan hukum Islam secara kafah/menyeluruh, yaitu dianggap mengikuti langkah-langkah setan. Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 208 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Dalam kitab Dirasat fi Al Fikri Al Islamiyah, Muhammad Husain menyebutkan bahwa jika syariat kafah tidak diterapkan, tujuan syariat Islam yaitu menjaga masyarakat Islam tidak akan terealisasi/tercapai, antara lain:

– Pemeliharaan atas keturunan (al Muhafazhatu ‘ala an nasl)

– Pemeliharaan atas akal (al Muhafazhatu ‘ala al ‘aql)

– Pemeliharaan atas kemuliaan/kehormatan (al Muhafazhatu ‘ala al Karamah)

– Pemeliharaan atas jiwa manusia (al Muhafazhatu ‘ala an nafs)

– Pemeliharaan atas harta (al Muhafazhatu ‘ala al mal)

– Pemeliharaan atas agama (al Muhafazhatu ‘ala ad din)

– Pemeliharaan atas keamanan (al Muhafazhatu ‘ala al amn).

– Pemeliharaan atas negara (al Muhafazhatu ‘ala ad daulah). [MNews/Rgl]

Sumber: https://suaramubalighah.com/2019/09/22/penerapan-islam-kaffah-adalah-kewajiban-dan-kemuliaan-kaum-muslimin/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *