[Resensi Buku] Manajemen Waktu para Ulama, Wujud Perniagaan Terbaik bagi Agama Allah Swt.

Potret mereka mengabdikan waktunya demi kemaslahatan Islam adalah pilihan terbaik untuk diteladani. Mereka sungguh-sungguh menggunakan waktunya demi sebaik-baik perniagaan kepada Allah Swt..


Judul buku: Manajemen Waktu para Ulama
Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Waktu adalah standar sukses seorang muslim. Tidak heran, waktu ibarat pedang. Jika digunakan dengan baik, waktu akan termanfaatkan dengan tepat guna. Namun, jika terbuang percuma, banyak hal yang juga harus tertunda. Apalagi demi urusan umat Islam.

Sementara itu, ulama adalah kalangan mulia, pewaris para nabi. Ulama juga wujud potret gemilang muslim sukses. Mereka pastilah orang-orang yang mampu sedemikian rupa mengatur waktunya. Mereka benar-benar mengoptimalkan waktu untuk ilmu demi keselamatan umat dalam menunaikan suatu perkara. Saat makan, berjalan, bahkan saat ajal menjemput, mereka dalam keadaan mendalami berbagai ilmu.

Yang mereka lakukan ini tidak ubahnya pengamalan firman Allah Swt., “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.(TQS Al-‘Ashr [103]: 1—3).

Para ulama terdahulu mengatur waktunya begitu detail. Ada di antara mereka yang sampai memikirkan cara paling efektif untuk mengolah makanannya, ada juga yang makan hanya sekali dalam sehari. Ini agar waktu mereka tidak habis hanya untuk makan sehingga upayanya mendalami suatu ilmu pun dapat segera berlanjut. Di sisi lain, mereka tidak segan membuka pintu ketika ada kaum muslimin yang hendak meminta fatwa atau ijtihad bagi perkara syariat.

Baca juga:  [Nafsiyah] Menjaga Kualitas Waktu

Masyaallah, sedemikian rupa manajemen waktu para ulama. Ketika pada era saat ini banyak orang yang terserang penyakit pikun atau Alzheimer di usia senjanya, pun ketika pada banyak kasus mereka menjadi orang tua yang “dibuang” oleh anak-anaknya ke panti jompo, para ulama itu justru makin senja usianya makin banyak karya.

Potret mereka mengabdikan waktunya demi kemaslahatan Islam adalah pilihan terbaik untuk diteladani. Mereka sungguh-sungguh menggunakan waktunya demi sebaik-baik perniagaan kepada Allah Swt.. Pantaslah butir-butir kesuksesannya dalam menggali dan mendalami ilmu dapat membungkam kebodohan umat hingga menembus batasan zaman. Karyanya tetap bisa kita rasakan hingga detik ini, kendati hidup kita telah berjarak ratusan tahun dari masa mereka.

Firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (10). (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (11) (TQS Ash-Shaaf [61]: 10—11).

Mencermati hal ini, sungguh lancang orang-orang yang saat ini menyebut diri mereka ulama, tetapi pada saat yang sama mereka mudah tergiur dunia. Mereka rela mengotak-atik tafsir dalil syarak dengan dalih rekontekstualisasi fikih. Mereka katakan Khilafah hanyalah romantika sejarah dan sekadar goresan kenangan masa lalu. Mereka katakan jihad tidak relevan, bahkan lekat dengan terorisme.

Baca juga:  Nafāits Tsamarāt: Waktu Adalah Pedang

Sungguh, mereka inilah para ulama suu’, ulama yang alih-alih berniaga dengan Allah. Ulama suu’ adalah pengikut hawa nafsu, budak kekuasaan dan penguasa sekuler. Mereka juga ambisius terhadap jabatan. Sebagai tumbalnya, mereka melegitimasi segala kezaliman dan kesesatan dengan dalil yang mereka cari-cari. Mereka juga menguliti Islam yang sejatinya tebal dan berbobot, menjadi tampil tipis dan ala kadarnya. Akibatnya umat terkotak-kotak, makin jauh dari Islam yang hakiki. Jelas sekali, ulama seperti ini justru para penghancur Islam.

Dengan demikian, pastikan kita akan mengatakan, “Sungguh mengagumkan manajemen waktu para ulama.” Mereka adalah generasi salaf saleh, sosok-sosok ideologis yang tidak hanya seorang ulama, tetapi juga para politisi hebat pada masa Khilafah Islamiah. Keilmuan mereka tidak sebatas keputusan syariat dalam perkara halal-haram, tetapi lebih jauh lagi, yakni modal besar bagi konstruksi peradaban Islam. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.