[Tarikh Khulafa] Kesederhanaan Hidup Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA — Setiap Khalifah mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Begitu pula Umar bin Khaththab ra., beliau mendapatkan gaji dan tunjangan dari Baitulmal. Meskipun kebutuhan hidup keluarga kian hari kian bertambah, tetapi Khalifah Umar tetap mempertahankan hidup dengan kesederhanaan.

Amirulmukminin tidak menambah barang satu dirham pun untuk memenuhi keperluannya dengan menaikkan gaji dan tunjangan. Sebaliknya, Khalifah Umar bin Khaththab ra. justru lebih memikirkan, memperhatikan, dan mementingkan terpenuhinya kebutuhan hidup rakyat.

Mengikuti Jejak Pemimpin Pendahulunya

Mengetahui perhatian Khalifah yang sangat besar terhadap rakyat, para Sahabat memandang perlu untuk memperhatikan kesejahteraan pemimpin mereka. Para Sahabat berkeinginan menambah gaji dan tunjangan Khalifah Umar yang diambilkan dari kas Baitulmal.

Suatu hari, berkumpullah para Sahabat, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, dan Zubair. Pertemuan ini berakhir dengan kesepakatan mereka untuk menambah gaji Khalifah Umar bin Khaththab ra. Kesepakatan ini harus disampaikan langsung kepada Khalifah Umar.

Akan tetapi, ada ganjalan jika para Sahabat menyampaikan pandangan mereka tersebut secara langsung kepada Khalifah, tentu beliau akan menolaknya karena yang akan mereka sampaikan menyangkut urusan diri dan keluarga Khalifah.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Umar bin Khaththab ra. Meng-hima Sebagian Harta Milik Umum untuk Kepentingan Rakyat

Para Sahabat ini berusaha mencari cara terbaik untuk melaksanakan niat mereka. Utsman bin Affan mengusulkan agar mereka menggunakan orang ketiga yang dapat menyampaikan maksud mereka kepada Khalifah Umar.

Utsman berkata, “Kalau begitu, kita temui Hafshah, putrinya. Kita minta agar ia yang mengatakan tentang masalah penambahan gaji bagi Khalifah.” Sahabat yang lain menyetujui usulan Utsman bin Affan. Mereka menemui Hafshah. sesuai dengan rencana yang telah disepakati, maka disampaikanlah keputusan Sahabat ini kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra..

Hafshah pergi menemui ayahnya dan dengan sedikit perasaan takut dia berkata kepada Umar bin Khaththab ra, “Wahai Ayah, tidak lebih baikkah bila Ayah menambah gaji untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang kian bertambah?”

Selesai menyampaikan usulan tersebut, benarlah dugaan Hafshah, Umar ra. balik bertanya kepada putrinya, “Siapa yang telah menyuruh engkau berkata demikian?” Hafshah tidak menjawab pertanyaan yang ayahnya ajukan. Umar berkata, “Niscaya bila aku tahu siapa yang menyuruhmu, pasti dia akan aku adili sekarang juga!”

Umar bin Khaththab ra. kemudian bertanya kepada Hafshah, “Hafshah, putriku, berapa baju yang dimiliki Rasulullah di rumahmu?” Hafshah menjawab, “Ada dua setel baju, wahai Ayah.” Umar bertanya kembali, “Lalu, makanan terbaik apa yang pernah dia makan saat bersamamu?” Hafshah menjawab, “Roti gandum segar dengan kuah samin.” Umar bertanya lagi, ”Alas yang paling nyaman apakah yang dipakai Rasulullah saat hendak tidur di rumahmu?” Hafshah menjawab, ”Selembar kain tebal yang kami gelar semuanya bila musim panas, sementara bila musim dingin kami gelar setengahnya sebagai alas dan setengahnya lagi kami jadikan selimut.”

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Berhasil Menumbangkan Peradaban Persia

Khalifah Umar bin Khaththab ra. berkata kepada Hafshah, ”Hafshah, putriku, katakan kepada orang yang menyuruhmu bahwa aku, Rasulullah, dan Abu Bakar adalah ibarat orang yang menempuh satu jalur. Orang pertama melintasi dan telah membawa bekal, maka sampailah dirinya di rumah. Lalu orang kedua mengikutinya, ditempuhnya jalur yang sama dan sampai juga di rumah. Kini menyusul aku sebagai orang yang ketiga. Maka ketika orang yang ketiga ini mengikuti jalur kedua orang itu dan rela dengan kedua bekal orang tersebut, ia pun akan sampai kepada keduanya. Tetapi sebaliknya, bila dirinya menempuh jalur yang berbeda dari keduanya, maka dapatkah dia berkumpul dengan pendahulunya?”

Sangat Berhati-hati dengan Harta Umat

Sungguh luar biasa perhatian Amirulmukminin Umar bin Khaththab ra. terhadap harta negara. Baginya, harta Baitulmal adalah harta umat, titipan dari Allah Swt. yang benar-benar harus dijaga. Harta Baitulmal harus diurus dan diperuntukkan bagi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Beliau sebagai kepala negara yang memiliki kewenangan mengelola harta Baitulmal akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Swt..

Bahkan, Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah mengatakan jika salah seekor di antara unta-unta sedekah hilang di tepi Sungai Dajlah atau Furat, sementara beliau berada di Madinah, pasti akan dicarinya unta itu sampai ditemukan. Hal itu karena takutnya Umar bin Khaththab ra. jika kelak Allah menanyainya di yaumulhisab tentang harta yang menjadi tanggung jawab Khalifah dalam pengelolaannya.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Santunan untuk Bayi pada Masa Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Sungguh bagai langit dan bumi, jauhnya jarak perbedaan Khalifah pada masa Islam dengan para kepala negara muslim zaman ini. Mereka pemimpin yang tidak silau dan mengejar dunia dalam kekuasaannya. Khalifah memimpin rakyat dengan landasan keimanan dan senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunah. Dengan pemimpin seperti ini, niscaya rakyat yang dipimpinnya akan merasakan kebijakan yang adil, kemakmuran, dan kesejahteraan. Insyaallah. [MNews]

Sumber: Yuwono, Budi. Hikayah Empat Khalifah. Penerbit Khairul Bayaan.

One thought on “[Tarikh Khulafa] Kesederhanaan Hidup Khalifah Umar bin Khaththab ra.

  • 11 November 2021 pada 21:33
    Permalink

    Masya Allah… Allahu Akbar,, pemimpin spt ini akan ada di sistem yg tepat “islam”. In syaa Allah tersgrkan,, aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *