BeritaNasional

[News] Orang Islam sebagai Pelaku Rekontekstualisasi Fikih, Pakar Fikih: Musibah Besar!

Kalau yang melakukan adalah orang Islam sendiri, maka itu musibah yang sangat besar.

MuslimahNews.com, NASIONAL— Merespons para pelaku yang ingin menyesuaikan ajaran agama Islam dengan realitas atau sesuai keinginan manusia (rekontekstualisasi fikih) yang berasal dari orang Islam sendiri, pakar fikih K.H. Shiddiq Al-Jawi menilai itu musibah besar.

“Di masa Rasulullah, sudah ada upaya-upaya menyesuaikan agama Islam agar sesuai keinginan manusia yang dilakukan kaum kafir musyrik. Lalu sekarang, kalau yang melakukan adalah orang Islam sendiri, maka itu musibah yang sangat besar. Na’udzubillah,” ujarnya dalam “Diskusi: Yang Tersembunyi di Balik Moderasi” di YouTube Media Umat, Ahad (7/11/2021).

Padahal, ia menerangkan, Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada Islam yang aku bawa.”

“Oleh sebab itu, seorang muslim mestinya tunduk kepada Islam yang dibawa Nabi, itulah standar. Jangan terbalik, fakta kehidupan manusia yang dijadikan standar dan Islam yang mengikutinya,” kritiknya.

Keinginan Manusia

Apalagi, ia mempersoalkan ketika hukum Islam dianggap sebagai makmum, sedangkan imamnya adalah hukum Barat. “Sementara hukum modern ala Barat tidak disesuaikan dengan hukum agama, melainkan dengan kehendak rakyat atau keinginan manusia,” sindirnya.

Baca juga:  [Tanya Jawab] Moderasi Islam Masif, Dakwah Islam Jangan Pasif (Bagian 2/2)

Ia menyatakan perilaku ini diterangkan dalam firman Allah, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, ‘Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.’ Katakanlah, ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya, aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).'” (QS Yunus: 15).

Ia memaparkan asbabunnuzul ayat ini sebagaimana tafsir Syekh Wahbah az-Zuhaili, yaitu dulu ada orang-orang musyrik Makkah merasa tidak senang ketika Al-Qur’an mencela Latta, Uzza, dan berhala-berhala.

“Kemudian, mereka mendatangi Nabi dan mengatakan untuk mengubah Al-Qur’an agar tidak mencela Tuhan-Tuhan mereka dan mencari Al-Qur’an yang memuji Tuhan-Tuhan mereka. Jadi, mereka ingin Al-Qur’an yang menyesuaikan adanya penyembahan kepada berhala sebagai sebuah realitas. Lalu turunlah ayat tersebut, yang membongkar suatu fakta bahwa upaya mengubah ajaran Islam sesuai realitas dan keinginan manusia itu, sudah ada sejak lama,” cetusnya.

Ketahanan Pemikiran

Untuk menghadapi hal tersebut, ia menegaskan perlu langkah-langkah untuk membentuk ketahanan ideologi atau ketahanan pemikiran di tengah umat. “Umat harus diajarkan untuk mempelajari pemikirannya terlepas siapa yang menyampaikan. Lihatlah substansinya,” ujarnya.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Moderasi Beragama, Senjata Baru Barat (AS) dengan Ulama dan Cendekiawan sebagai Pelontarnya

Ia menekankan umat Islam pun harus dibentuk imunitasnya terhadap pemikiran-pemikiran beracun, yang sesat dan menyesatkan. “Caranya, pertama, memberikan imunisasi pemikiran berupa pemikiran-pemikiran Barat yang sudah dilemahkan yang dibarengi kritik terhadapnya. Kedua, sekaligus membangun dan menancapkan pemikiran Islam yang sahih ke tengah-tengah umat. Yang batil kita hancurkan dan yang hak kita tegakkan,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *