BeritaNasional

[News] AICIS Miniatur Kajian Islam Moderat, Intelektual: Harus Dipastikan Ujungnya ke Mana?

Harus diperhatikan serius dan dipastikan hasil atau ujungnya akan ke mana?

MuslimahNews.com, NASIONAL—Menanggapi pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas bahwa AICIS merupakan miniatur kajian Islam Indonesia yang terbuka dan moderat, intelektual muslimah Indira S. Rahmawaty mengungkapkan harus diperhatikan serius dan dipastikan hasil atau ujungnya akan ke mana?

“Pernyataan Menteri Agama bahwa AICIS merupakan miniatur kajian Islam Indonesia yang terbuka dan moderat merupakan statement yang harus diperhatikan serius dan dipastikan hasil atau ujungnya akan ke mana?” jelasnya kepada MNews, Sabtu (6/11/2021).

Apalagi, ia menuturkan jika menilik definisinya, maka moderasi beragama adalah cara berpikir dan berperilaku tengah-tengah dalam beragama. “Termasuk di antaranya menerima pemikiran demokrasi, HAM, kearifan lokal, dan sejenisnya,” ujarnya.

Sehingga, menurutnya, moderasi beragama justru seolah-olah mengajarkan umat Islam cara beragama dengan versi baru dari sumber kajian yang Barat lakukan. “Padahal, umat Islam memiliki mata air atau sumber referensi pemikiran yang terjamin, yaitu Al Qur’an dan As-Sunah,” tukasnya.

Memuliakan Sekularisme

Oleh karenanya, ia menegaskan, gagasan moderasi beragama tidak ada kaitannya dengan membela, meninggikan, dan memuliakan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. “Sebaliknya, moderasi beragama ini memihak, meninggikan, dan memuliakan berbagai pandangan yang lahir dari sekularisme yang identik dengan liberalisme, permisifisme, dan pragmatisme,” kritiknya.

Baca juga:  Rekontekstualisasi Ajaran Islam, Berbahayakah?

Ia  menjabarkan Rasulullah Saw. telah mencontohkan bagaimana praktik bermasyarakat. “Masyarakat yang dibangun bukanlah versi masyarakat moderat, inklusif, atau demokratis ala sekuler-kapitalis. Namun, masyarakat Islam yang dibangun Rasulullah Saw. adalah masyarakat yang terbentuk tegak dan kokoh dengan dasar pemikiran, perasaan, dan aturan Islam berdasarkan ketentuan halal haram dalam syariat Islam,” ulasnya.

Praktik Rasulullah

Bahkan, ia menyampaikan, dalam konteks bernegara, Rasulullah Saw. mengajarkan dan mempraktikkan kedaulatan adalah milik hukum syarak, bukan kedaulatan rakyat sebagaimana demokrasi. “Kemaslahatan yang dicari adalah keridaan Allah Swt. bukan mencari keridaan dengan ukuran sekuler sebagaimana indikator dalam indeks demokrasi atau kerukunan (baca: kebebasan) umat beragama,” cetusnya.

“Jadi, para intelektual mari gunakan nalar, ilmu juga kekuatan iman kita [menghadapi] bahaya sekularisme dalam moderasi beragama ini,” tandasnya.[MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *