Opini

Kapitalisme Memproduksi Pergaulan Bebas Anak

Penulis: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia)

MuslimahNews.com, OPINI — Perilaku negatif pada anak akibat pergaulan bebas patut kita waspadai. Contoh perilaku tersebut misalnya kecanduan menonton tayangan pornografi, bahkan melakukan seks bebas hingga aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan, dan sebagainya.

Di antaranya, kasus aborsi yang terjadi di Jambi. Pelajar putri bernama TM (17) mengaborsi janin kandungannya berusia lima bulan dibantu kekasihnya (AY). AY adalah remaja putus sekolah, sedangkan TM masih duduk di bangku SMA. (kompas, 29/8/2020).

Di Blitar, Jawa Timur, juga banyak terjadi kasus kehamilan pada anak akibat pergaulan bebas dan mereka yang mengajukan pernikahan dini. Pengadilan Agama (PA) Blitar mencatat sejak Januari—Agustus 2020 ada permohonan dispensasi kawin sebanyak 408. Naik hampir 100% daripada 2019 (245). (detiknews, 19/9/2020).

Penyebab Utama

Banyak faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas. Di antaranya karena pola asuh orang tua yang keliru, keadaan keluarga yang kurang harmonis, lingkungan tempat tinggal yang juga membiarkan terjadinya perilaku gaul bebas, pertemanan yang kurang baik, serta keadaan ekonomi sulit.

Namun, sumber utama dari banyaknya kasus akibat pergaulan bebas pada anak adalah karena penerapan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Kapitalisme menciptakan iklim pergaulan serba boleh (permisif) yang mementahkan peran agama dalam kehidupan dan berinteraksi sosial.

Kapitalisme pula yang makin menyuburkan pergaulan bebas. Bahkan, anak SD sudah mengenal istilah pacaran. Anak-anak usia SD dan SMP kerap membagikan momen percintaan mereka di media sosial sehingga mencuri perhatian netizen dari berbagai posting mereka. (idntimes, 2/5/2019).

Baca juga:  Bowo Tik Tok dan Fans, Generasi Rapuh Korban Sistem Kapitalisme Sekuler

Sangat wajar jika sulit memberantas kasus seks bebas dan aborsi di kalangan anak dan remaja karena gaul bebas seolah menjadi gaya hidup yang justru mereka nikmati. Kapitalisme memproduksi gaya hidup liberal serba bebas, tidak mengenal dosa-pahala atau halal-haram.

Menjauhkan dari Islam

Kapitalisme juga menjauhkan generasi muslim dari keislamannya. Jangan heran jika sebagian pelaku gaul bebas itu juga dari generasi muslim yang memang tidak kenal aturan agama. Padahal, Islam telah menggariskan jalan hidup dan aturan yang menjaga kemuliaan generasi muslim berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw..

Jauhnya generasi hari ini dari agamanya menjadi sumber hancurnya moral dan akhlak mereka. Mereka kehilangan prinsip dan visi misi dalam hidup. Anak-anak tersebut kehilangan spirit, semangat, dan cita-cita hidup. Kehancuran demi kehancuran makin nyata jika kita tidak mencari solusi mendasar dari permasalahan ini.

Di sinilah pentingnya peran negara menciptakan iklim kondusif bagi kelangsungan akhlak dan kepribadian anak. Tidak hanya sehat badannya, tetapi juga pemikirannya. Negaralah yang berperan menerapkan Al-Qur’an dan Hadis dengan benar dan konkret agar lahir generasi rabani yang mulia, bersih dari noda-noda hitam pergaulan bebas yang karut-marut.

Tiga Pilar Islam

Peraturan hidup dalam Islam adalah peraturan komprehensif yang mampu menanggulangi pergaulan bebas anak. Ada tiga pilar dalam sistem Islam, yaitu ketakwaan individu, kontrol sosial, dan peran negara.

Pilar pertama, ketakwaan individu warga negaranya. Dalam hal ini, negara akan menciptakan suasana kondusif bagi warganya agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Allah. Dorongan mereka mematuhi aturan negara adalah ketakwaan, sukarela, dan tanpa terpaksa. Semua itu muncul dari kesadaran.

Baca juga:  Kesetaraan Gender, Eksploitasi Perempuan Tersamar ala Kapitalis

Negara akan menjaga iffah (kesucian) jiwa individu dengan menjaga tayangan-tanyangan yang mengumbar aurat atau merangsang syahwat. Pastinya, negara akan melarang peredaran atau tayangan pornografi/pornografi. Ajaran-ajaran seperti menundukkan pandangan, larangan khalwat, dan ikhtilat akan terlaksana penuh sukacita oleh masyarakat karena sadar itu adalah juga merupakan perintah Allah Swt..

Pilar kedua, kontrol masyarakat terhadap pergaulan bebas. Akan ada opini umum dan kesepakatan bersama bahwa pergaulan bebas itu sesuatu yang buruk. Jika ada yang melakukan pelanggaran semacam zina, aborsi, dan sejenisnya, masyarakat akan aktif mengingatkan dan mencegah penyebarannya.

Pilar ketiga, peran aktif negara. Negara Islam memiliki aturan sistem pergaulan yang mampu mencegah pergaulan bebas pada anak (preventif). Sedari kecil, generasi anak muslim diajarkan untuk tidak berkhalwat (berdua-duaan dengan lelaki asing yang bukan mahram), menghindari ikhtilat (campur baur dengan nonmahram kecuali untuk hal yang diperbolehkan syarak). Islam juga mengharamkan aktivitas pacaran karena termasuk mendekati zina.

Allah Swt. berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا 

“Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’: 32)

Selain aturan preventif, aturan Islam juga berfungsi kuratif, mengobati penyakit sosial yang mungkin muncul dari pergaulan bebas pada anak, lebih tepatnya remaja-remaja yang sudah balig atau terkena beban taklif hukum syariat Islam. Tidak lain adalah sistem sanksi Islam yang tegas.

Bagi para remaja pelaku zina yang sudah balig dan belum menikah, negara akan menerapkan sanksi berupa cambuk 100 kali dan pengasingan selama dua tahun ke tempat yang jauh. Hukuman ini sejatinya menjaga kemuliaan akhlak anak agar tidak terulang pada anak/remaja lainnya.

Baca juga:  Derita Guru Honorer, Bilakah Berakhir?

Demikianlah, sinergisitas ketiga pilar ini diharapkan ampuh mengatasi pergaulan bebas anak agar tidak makin marak seperti dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini.

Mencetak Generasi Tangguh

Sejarah mencatat, sistem Islam kafah yang gemilang berhasil mencetak generasi muda pejuang Islam tangguh. Sosok-sosok hebat seperti Hasan ra. dan Husain ra. yang gemar mencari ilmu ketika masih anak-anak, Umair bin Abi Waqash ra. yang mencari cara agar bisa ikut Perang Badar dan akhirnya syahid, Abu Sa’id al-Khudri ra. yang pantang meminta-minta, Rafi’ bin Khadij ra. sang pemanah andal, Jabir bin Abdullah ra. yang menyertai Perang Hamra’ul Asad, adalah bukti kegemilangan peradaban Islam.

Pada usia belia, mereka telah menjadi pejuang Islam yang mulia. Waktu mereka habis untuk menimba ilmu. Pikiran mereka tercurah untuk memikirkan peluang beramal saleh, bahkan tidak tebersit pemikiran untuk menuruti hawa nafsu, seperti pacaran dan gaul bebas. Sistem Islam menjaga mereka dari aktivitas yang sia-sia.

Tentu kita semua harus bangga dengan syariat Islam yang berhasil mencetak generasi tangguh ini. Imam Malik bin Anas mengatakan, “Tidak ada yang dapat memperbaiki generasi akhir umat ini kecuali yang telah memperbaiki generasi awalnya.” Oleh sebab itu, kita harus bersegera mencampakkan sistem sekuler dan berganti ke syariat Islam kafah agar terwujud generasi mulia yang kita harapkan. Wallahualam. [MNews/Gz]

2 komentar pada “Kapitalisme Memproduksi Pergaulan Bebas Anak

  • Careemah

    Rusaknya generasi karena penerapan sistem kapitalis liberal

    Balas
  • Kapitalisme sistem kufur.
    Kembali kepada solusi Islam Kaffah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *