[News] COP26 Memberikan Pemulihan Hijau di Seluruh Dunia?

Sangat sedikit kemajuan signifikan yang dicapai dalam menangani tantangan lingkungan hijau secara efektif karena kegagalan mendiagnosa dan mengobati akar penyebab krisis lingkungan global.

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL—Dikutip dari dokumen COP26 Explanation yang ditandatangani PM Inggris Boris Johnson selaku tuan rumah COP26, tertera ketika negara-negara mulai pulih dari pandemi Coronavirus, pada saat yang sama harus mengambil kesempatan bersejarah untuk mengatasi perubahan iklim, serta membangun kembali dengan lebih baik dan lebih hijau. “Kami dapat memberikan pemulihan hijau di seluruh dunia yang menghasilkan pekerjaan bagus, triliunan investasi, dan teknologi baru yang inovatif,” tulisnya.

Konferensi Internasional PBB  berupa  KTT Perubahan Iklim Conference of the Parties (COP) ke-26 sendiri sedang berlangsung di Glasgow, Inggris (31 Oktober—12 November 2021). “Diperkirakan dihadiri lebih dari 190 pemimpin dunia bersama dengan puluhan ribu negosiator, perwakilan pemerintah, institusi pendidikan, dan pelaku bisnis,” rilis dokumen ini.

Dokumen tersebut menyatakan untuk menjaga suhu planet tetap terkendali–yakni membatasi kenaikannya hingga 1,5 derajat–ilmu pengetahuan menyatakan bahwa pada paruh kedua abad ini, kita harus memproduksi lebih sedikit karbon daripada yang kita keluarkan dari atmosfer. “Inilah yang dimaksud dengan mencapai net zero,” sebutnya.

Darurat Iklim

Sementara itu, dilansir dari UNFCCC, Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB, Patricia Espinosa menjelaskan cuaca ekstrem  telah menyebabkan kehilangan nyawa dan mata pencaharian yang menghancurkan. “Kita sedang menuju kenaikan suhu global 2,7 C, padahal harusnya menuju sasaran 1,5 C. Jelas, kita berada dalam keadaan darurat iklim. Jelas, kita perlu mengatasinya. Jelas, kita perlu mendukung yang paling rentan untuk mengatasinya. Untuk melakukannya dengan sukses, ambisi yang lebih besar sekarang sangat penting, ” ujarnya.

Baca juga:  Sri Mulyani Sebut Negara Rugi Rp22 Triliun karena Bencana, Pengamat: Penguasa Bermental Kapitalis hanya Hitung-hitungan Untung Rugi

Menurutnya, ambisi yang lebih besar diperlukan untuk mencapai kemajuan di semua elemen agenda perubahan iklim, termasuk pengurangan emisi, menggerakkan adaptasi ke pusat agenda, mengatasi kerugian dan kerusakan akibat peristiwa iklim ekstrem dan meningkatkan pemberian dukungan kepada negara-negara berkembang.

“Isu sentralnya berupa  pemberian dukungan kepada negara-negara berkembang, terutama dalam kaitannya dengan tujuan memobilisasi $100 miliar per tahun pada tahun 2020. Dukungan keuangan sangat penting untuk semua elemen rezim perubahan iklim, termasuk mitigasi, tetapi juga dalam hal adaptasi, kapasitas -bangunan, alih teknologi dan beberapa elemen lainnya,” ungkapnya.

Bencana Lingkungan

Hanya saja, media Fareastern Muslimah & Shariah (1/11/2021) menyoroti  perubahan iklim hanyalah bagian dari bencana lingkungan yang melanda berbagai belahan dunia saat ini, khususnya negara-negara berkembang yang miskin.

“Perusakan ekosistem, kepunahan berbagai spesies hewan, erosi tanah, polusi, pencemaran sungai dan laut dengan limbah beracun, dan pembuangan berton-ton plastik, pakaian, dan limbah lainnya hanyalah beberapa contoh masalah yang mempengaruhi daratan di seluruh dunia. Perusakan dan bencana lingkungan ini memakan korban manusia yang tidaklah kecil, berdampak pada kesehatan masyarakat, menyebabkan gagal panen, pengungsian komunitas, dan kualitas hidup yang buruk, serta memperburuk kemiskinan di dalam negara,” tulisnya.

Media ini mengungkapkan komunitas internasional mengaku putus asa dalam menemukan solusi atas krisis ini. “Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai perjanjian internasional telah ditandatangani untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan lingkungan, seperti Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim 1992, Protokol Kyoto 1997, dan Kesepakatan Paris 2015,” cetusnya.

Baca juga:  Mencukupi Ekonomi Rumah Tangga di Masa Pandemi

Gagal Diagnosis

Namun, media ini melanjutkan, banyak yang berpendapat tetaplah sangat sedikit kemajuan signifikan yang dicapai dalam menangani secara efektif tantangan lingkungan saat ini karena kegagalan mendiagnosis dan mengobati akar penyebab krisis lingkungan global.

“Faktor-faktor yang banyak disalahkan sebagai penyebab, seperti penggunaan bahan bakar fosil yang tinggi, penggundulan hutan massal, produksi daging yang tinggi, kebijakan pertanian yang berbahaya, tingkat produksi dan konsumsi manusia yang berlebihan, aliran air yang terkontaminasi berbagai industri dan pabrik, dan berton-ton sampah plastik, pakaian, dan produk limbah lainnya, pada kenyataannya hanya gejala bukan akar masalahnya. Walhasil kemajuan dalam mengatasi krisis lingkungan ini akan tetap negatif selama proses diagnosis masalah masih cacat,” sebutnya.

Media ini mengungkap bahwa akar penyebab krisis lingkungan adalah ideologi dan sistem kapitalisme yang materialistis dan mendominasi politik, ekonomi, dan sosial semua negara saat ini.

“Sistem yang terobsesi pada profit ini telah menciptakan pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan pada banyak negara, demi mengamankan pendapatan dan keuntungan ekonomi, mengalahkan semua nilai kemanusiaan dan kebutuhan manusia, termasuk perlindungan lingkungan,” kritiknya.

Warisan Kapitalisme

Menurutnya, penyalahgunaan lingkungan yang berulang dan munculnya sejumlah masalah lingkungan hanyalah buah dari sistem kapitalisme, dan krisis yang kita saksikan tidak lain adalah warisan ideologi kapitalisme.

Baca juga:  [News] Jangan-Jangan, Pemerintah Sudah Menganut Ideologi Transnasional Radikal?

“Dunia saat ini berada di persimpangan jalan dalam hal perubahan iklim dan bencana lingkungan yang melanda. Yang pasti, planet ini tidak aman selama sistem kapitalisme yang mendominasi. Bahkan, tidak ada obat yang dapat ditemukan untuk penyakit dunia di bawah arahan dan pemerintahan sekuler kapitalistik,” sindirnya.

Sebab itulah, tulisnya, tentu diperlukan pendekatan radikal baru dalam menangani krisis, melindungi planet ini dan umat manusia dari bahaya dan kehancurannya. “Sebuah solusi yang ditawarkan oleh ideologi dan sistem Islam sebagai alternatif kapitalisme dalam menyikapinya,” kupasnya.

Kampanye Global

Menariknya, media ini juga memiliki agenda berupa kampanye global yang akan menjelaskan prinsip-prinsip, hukum dan pendekatan Islam dalam melindungi dan melestarikan planet ini, termasuk pengelolaan sumber daya dengan cara yang selaras dengan alam. “Di saat yang sama, juga memastikan kemajuan dan pembangunan ekonomi bagi umat manusia,” rilisnya.

Selanjutnya, media ini menutup dengan firman Allah,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar- Ruum: 41)[MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

One thought on “[News] COP26 Memberikan Pemulihan Hijau di Seluruh Dunia?

  • 4 November 2021 pada 08:16
    Permalink

    Barat kafir selalu menerapkan standar ganda yg selalu menguntungkan mereka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.